Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Adab Mengaji yang Banyak Belum Diketahui

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Tilawah (membaca Alquran) atau lebih familier dengan istilah mengaji bukanlah hal sepele ketika dilakukan. Karena mengaji adalah bentuk interaksi seorang hamba kepada Allah; Tuhan semesta alam dalam bentuk membaca, menadaburkan (merenungkan dan menghayati) kalam-Nya untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu seorang yang ingin mengaji hendaknya memiliki perhatian yang serius khususnya dalam masalah adab ketika akan mengaji. Banyak adab yang sering dinasihatkan oleh para guru ngaji ketika akan membaca Alquran atau adab mengaji tersebut. Kita dapatkan adab-adab tersebut dari buku, artikel, dan poster yang terpajang di masjid. Seperti ikhlas, mengaji dalam keadaan suci, mengaji di tempat yang bersih terutama masjid sebagai bentuk memakmurkan masjid, membaguskan bacaan baik dengan membaguskan suara atau sesuai kaidah tajwid, memulai dengan membaca ta’awwu (membaca a’uzubillāhi minashshaiṭānirrajīm) dan membaca basmalah (bismilāhirramānirraḥīm), berhenti di tanda yang diperbolehkan berhenti dan tenang tidak tergesa-gesa. Allah berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Maka apabila kalian membaca Alquran hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 98).

Selain adab diatas, ada beberapa adab mengaji yang banyak belum diketahui diantaranya:

1. Menangis ketika mengaji

Menangis saat mengaji adalah adab yang sangat susah sekali diamalkan. Hanya orang pilihan Allah yang mampu mengamalkan adab ini. Setidaknya seseorang yang membaca Alquran berusaha memaksakan dirinya untuk bisa menangis. Rasulullah bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ، فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا، فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا، وَتَغَنَّوْا بِهِ فَمَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِهِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Sesungguhnya Alquran ini diturunkan dengan kesedihan, maka jika kalian membaca Alquran menangislah, jika tidak bisa menangis maka buatlah diri kalian menangis dan baguskanlah bacaan kalian. Barang siapa yang tidak membaguskan bacaannya maka dia bukanlah berada dalam golonganku.” (HR. Bukhari)

2. Bersiwak atau menggosok gigi

Bersiwak yaitu membersihkan mulut dengan kayu siwak memang sulit dilakukan karena kelangkaan kayu siwak. Namun apakah dengan menggosok gigi cukup menggantikan siwak? Imam Abu Bakar Taqiyuddin Asy Syafi’i Rahimahullah dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar menyebutkan bolehnya menggunakan kain atau benda kasar apapun untuk membersihkan gigi. Karena inti dari bersiwak adalah membersihkan kotoran yang ada di mulut. Namun tetap yang lebih utama adalah dengan menggunakan kayu siwak. (Kifayah al-Akhyar, 1994).

3. Membaca dengan tertib dan konsisten serta rutin mengkhatamkan

Hendaknya membaca Alquran dilakukan sesuai dengan urutan suratnya agar tertib tidak asal baca semaunya. Hal ini tentunya dilakukan secara rutin dan konsisten. Bahkan dianjurkan untuk rutin dalam mengkhatamkan (menyelesaikan bacaan Alquran) tidak kurang dari 3 hari dan maksimal 40 hari bahkan Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan tidak ada batasan khusus terkait pembatasan maksimal waktu khatam. (Faidh Al-Rahman fi Al Ahkam Al-Fiqhiyah Al Khashah bi Al Quran, 2001).

4. Berdoa, bertasbih, bersalawat, dan beristighfar di tengah tilawah

Dari Huzaifah dia berkata dulu aku salat bersama Rasulullah Shalallah ‘alaihi wasallam dan Beliau membaca dari surat Al-Baqarah dan beliau tidaklah melewati ayat rahmat kecuali berdoa dan ayat yang menjelaskan azab kecuali memohon perlindungan dan tidaklah ayat yang mensucikan Allah kecuali beliau bertasbih. (HR. Muslim).

TAGS
#Adab Mengaji #Adab Tilawah #Fitri Priyanto #Tadabur Quran
Login