Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Adab Peserta didik Terhadap Dirinya Sendiri

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Mempelajari ilmu adalah salah satu ibadah utama. Besarnya pahala dan keutamaannya sangat jelas di dalam Alquran dan Hadis sahih. Perlu diketahui oleh setiap peserta didik bahwa baiknya ilmu adalah ketika bermanfaat dan mengundang keberkahan untuk dirinya dan selainnya baik selama masih di dunia sampai kelak dibangkitkan di akhirat. Untuk itu Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: ”Barangsiapa menimba ilmu yang seharusnya diniatkan untuk wajah Allah tetapi malah diniatkan untuk keuntungan dunia maka dia tidak akan mencium wangi surga.”

Dewasa ini ditemukan beberapa penyimpangan dalam proses mempelajari dan menuntut ilmu. Hal ini terjadi karena beberapa sebab di mana sebab terbesarnya adalah berasal dari diri orang yang menuntut ilmu tersebut. Oleh karena itu, sudah seharusnya bagi peserta didik memperhatikan adab terhadap dirinya sendiri agar ilmunya bermanfaat sehingga ia selamat dari berbagai penyimpangan yang akibatnya akan dirasakan baik di dunia maupun di akhirat. Berikut ini beberapa adab peserta didik terhadap dirinya sendiri;

Pertama, meluruskan niat ketika memulai belajar, saat belajar, dan setelah menuntaskan masa belajar. Walaupun masa belajar tak terbatas usia dan keadaan akan tetapi keumuman waktu belajar normal adalah selama menempuh jenjang pendidikan tertentu. Kelurusan niat sebab terbesar dalam kesuksesan ketika belajar. Lurusnya niat dapat diraih dengan menguatkan hati bahwa tujuan inti belajar adalah untuk menunaikan perintah Allah, melestarikan syariat Allah, membela syariat Allah, dan meneladani syariat Rasulullah. (Akhlak Pencari Ilmu, 2019).

Kedua, menguatkan rasa takut dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Inilah hal wajib yang harus ada dalam jiwa seorang peserta didik. Tanpa rasa takut yang kuat dan merasa diawasi Allah maka sangat mungkin peserta didik menggunakan ilmunya untuk hal yang terlarang. Untuk itulah ilmu yang sejati adalah yang mendatangkan rasa takut kepada peserta didik sehingga teguh berjalan dalam kebaikan dan menghindari sejauh-jauhnya hal yang diharamkan.

Ketiga, rendah hati. Hendaknya peserta didik sudah menanamkan sifat ini sejak dia memulai belajar agar ketika mencapai target dalam belajarnya seorang peserta didik tidak merasa lebih hebat dari peserta didik lainnya atau sombong dengan apa yang telah diraihnya.

Keempat, kanaah dan zuhud. Kanaah adalah merasa cukup dan menjauhkan diri dari sifat tidak puas. Adapun zuhud adalah lawan dari ingin dan semangat terhadap dunia (Lisān al-‘Arab, 1414 H). Para peserta didik harus menghiasi dirinya dengan mahkota kanaah dan zuhud agar tidak menjadikan ilmu yang diperolehnya hanya untuk kepentingan perutnya yang akan mendatangkan ketamakan terhadap kemewahan dunia.

Kelima, menghiasi diri dengan kelembutan. Tidak sedikit dari peserta didik yang ketika bertambah ilmu mendadak bergaya layaknya ulama besar sehingga ketika melihat kemungkaran tidak disikapi dengan bijak tetapi dengan kekerasan bahasa, sikap atau perilaku. Allah Berfirman: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Al Imron [03]: 159).

Keenam, menjauhi majelis yang tidak bermanfaat. Para peserta didik harus menjaga betul waktunya agar selalu bermanfaat. Karena waktu bagi peserta didik ibarat emas murni yang sangat berharga. Menyiakannya berarti sama saja mengurangi bahkan menghilangkan nilainya yang sangat berharga. Oleh karena itu, berlebihan dalam berkumpul untuk makan-makan, olahraga atau lainnya sudah sepatutnya harus dihilangkan agar laju kesuksesan tidak tertunda.

TAGS
#Adab #Fitri Priyanto #Pendidikan Karakter #Peserta Didik
Login