Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Akhlak Mulia

Bina-Qurani-Akhlak-Mulia
Akhlak Mulia

Akhlak mulia adalah segala bentuk tabiat dan budi pekerti yang luhur yang dipraktikan dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan merupakan suatu kebiasaan di dalam kehidupan seseorang.

Secara bahasa, kata akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu Al-Khuluq yang artinya adalah tabiat, budi pekerti, dan kebiasaan. Sedangkan arti dari kata mulia, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tinggi, terhormat, luhur, baik hati.

Akhlak mulia adalah Akhlak Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam sebagaimana disebutkan di dalam Alquran pada Surat Al-Ahzab ayat 21 dan Surat Al-Qalam ayat 4.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya:

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Di dalam Surat Al-Qalam Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya:

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlak mulia (berbudi pekerti luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Berdasarkan dua ayat di atas, dijelaskan bahwa akhlak mulia merupakan akhlak dari Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka, sebagai seorang muslim hendaknya kita menjadikan beliau sebagai teladan dalam berakhlak mulia.

Bina-Qurani-Akhlak-Mulia

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Akhlak Mulia, Source: Photo by Lukas Pexels

Hadits Tentang Akhlak Mulia

Berkaitan dengan akhlak mulia, terdapat banyak hadits yang telah disabdakakan oleh Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melalui riwayat dari para sahabatnya. Di antara hadits tentang akhlak mulia yang terdapat di dalam Arba’in Nawawi adalah sebagai berikut:

1. Senantiasa Berbuat Ihsan Dalam Segala Urusan

Berbuat ihsan tidak hanya dilakukan kepada sesama manusia saja, akan tetapi kita juga dianjurkan untuk berbuat baik sekalipun itu kepada binatang.

Syaddad bin Aus Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا القِتْلَةَ ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat baik (ihsan) terhadap segala sesuatu. Jika kalian hendak membunuh (sesuatu yang dibenarkan oleh syariat), maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian hendak menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah kalian menajamkan pisaunya dan senangkanlah hewan yang akan disembelih.” (HR. Muslim)

Bina-Qurani-Akhlak-Mulia

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Akhlak Mulia, Source: Photo by Ave Pexels

2. Senantiasa Bertakwa Kepada Allah dan Mengiringi Perbuatan Buruk dengan Kebaikan

Hadits ini berisi tentang perintah untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā dan mengiringi setiap perbuatan buruk (dosa) dengan perbuatan yang baik (amal ibadah).

Abu Dzar Jundub bin Junadah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka kebaikan akan menghapuskan keburukan itu. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi)

3. Keutamaan Memiliki Sifat Malu

Sifat malu merupakan salah satu warisan para nabi terdahulu, agar senantiasa terjaga dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Hal ini tercantum pada hadits kedua puluh Arba’in Nawawi, yang juga termasuk sebuah hadits tentang akhlak mulia.

Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Artinya:

“Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahuku yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Bukhari)

Bina-Qurani-Akhlak-Mulia

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Akhlak Mulia, Source: Photo by Roman Pexels

4. Larangan Agar Tidak Memberikan Mudarat

Hadits tentang akhlak mulia yang selanjutnya adalah larangan agar tidak berbuat sesuatu yang dapat memberikan mudarat baik dengan disengaja ataupun tidak. Hadits ini merupakan hadit yang ketiga puluh dua Arba’in Nawawi.

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya:

“Dari Abu Abbas Raḍiallāhu ‘Anhu berkata, bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Tidak boleh memberikan mudarat baik tanpa disengaja ataupun disengaja’.” (HR. Ahmad)

5. Larangan Saling Mendengki

Larangan saling mendengki merupakan salah satu perintah yang terdapat pada hadits tentang akhlak mulia pada hadits ketiga puluh lima Arba’in Nawawi.

Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadits bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ أَحَدُكُمْ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ -، حَسْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

Artinya:

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi atau mendiamkan, dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. Jadilah hamba yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini (beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali). Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Seriap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Thumbnail Source: Photo by Pixabay Pexels

Artikel Terkait:
Hadits Menghormati Orang Tua

TAGS
#Adab Kepada Orang Tua #Birul Walidain #Fitri Priyanto #Hak Orang Tua
Login