Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Antara Kebutuhan Pendidikan dan Kemampuan Finansial

Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Memasuki tahun pelajaran baru merupakan detik-detik yang sangat krusial bagi para orang tua. Terkhusus bagi mereka yang sedang membidik lembaga pendidikan terbaik bagi putra-putrinya. Mekanisme pemilihan yang dilakukan pun beragam, mulai dari penentuan brand sekolah unggulan, favorit atau tidaknya, lingkungan dan kawan bagi sang anak di sekolah, sampai kepada mengejar zonasi untuk menjalankan sebuah regulasi.

Urusan pendidikan memang tidak dapat dianggap hal yang remeh dan sepele. Lalai dalam menentukan pilihan yang tepat bagi pendidikan sang anak, sama artinya dengan membuka pintu kegagalan bagi mereka. Keadaan terburuk adalah orang tua yang membiarkan anak-anaknya menikmati kebodohan tanpa ilmu. Aḥmad ibn Ḥanbal rahimahullāh mengatakan bahwa kebutuhan manusia akan ilmu melebihi dari kebutuhan mereka akan makanan dan minuman, karena seseorang butuh akan makanan dan minuman dalam sehari hanya satu atau dua kali saja, sedangkan kebutuhan mereka akan ilmu dalam setiap helaan nafasnya. (Madārij al-Sālikīn bayn Manāzil ’Iyyāk Na’bud wa ’Iyyāk Nasta’īn, 1996)

Keinginan kuat para orang tua untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak mereka kerap dibenturkan dengan sebuah keadaan finansial yang mereka alami. Tawaran dengan berbagai kemasan menarik dari sebuah iklan yang memaparkan keunggulan program-program pendidikan hampir setiap waktu terlihat di genggaman. Harapan dan bahkan pilihan tertahan dengan tamparan keras dari sebuah nominal yang tak masuk di akal bagi sebagian golongan. Apakah dengan sajian tersebut orang tua lantas mundur dan mengurungkan niat untuk mendapatkan tempat terbaik bagi kebutuhan ilmu sang anak?.

Menentukan sebuah pilihan tentu bukan perkara yang mudah, terlebih jika dihadapkan dengan berbagai variabel berbeda yang hampir identik. Akan tetapi hal mendasar yang harus digarisbawahi adalah bahwa banyak pilihan yang terkalahkan hanya dengan alasan sebuah kebutuhan. Inilah yang sejatinya menjadi pertanyaan mendasar bagi para orang tua, apakah ilmu atau pendidikan adalah sebuah kebutuhan bagi diri kita dan bagi putra dan putri kita. Bukankah hampir setiap saat banyak hitungan yang telah kita kalahkan hanya untuk memenuhi sebuah kebutuhan.

Minat dan kecenderungan sang anak dalam meniti bakatnya harus senantiasa mendapatkan pengawalan melalui arahan dan bimbingan dari kedua orang tua. Keadaan finansial sudah sepatutnya untuk tidak lagi menjadi persoalan dalam mewujudkan cita-cita sang anak melalui bakat dan minatnya yang terarah. Begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan yang menawarkan beasiswa full bagi anak-anak berprestasi. Di sinilah dituntut kejelian dan kecekatan orang tua untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan, agar tidak lagi ada keluhan di masa injury time bahwa yang tersisa hanyalah sekolah-sekolah bonafide dengan harga selangit.

Angka bukanlah batasan dan hambatan untuk kita dan anak-anak kita dalam mencari ilmu. Penghalang terbesar adalah niatan yang lemah, tidak adanya kemauan yang kuat untuk memenuhi kebutuhan kita akan ilmu. Jika keinginan telah mengakar kuat untuk menjawab kebutuhan akan pentingnya ilmu dalam kehidupan, sebesar apapun angka yang dihadapkan tak akan pernah menjadi rintangan.

TAGS
#Abdul Wahid #Ekonomi Pendidikan #Ekonomi #Finansial #Kebutuhan #Pendidikan
Login