Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Apa Arti Hadis Sahih

Hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung melalui riwayat perawi yang adil a lagi ābit dari perawi yang semisalnya hingga akhir sanad tanpa ada shādh dan ‘illat (cacat). (Maḥmūd al-Ṭaḥḥān, 2004). Definisi ini merupakan definisi yang sangat bagus yang menjelaskan secara gamblang apa yang disebut dengan hadis sahih. Mannā’ al-Qaṭṭān (2005) mendefinisikan hadis sahih serupa dengan apa yang disampaikan oleh Maḥmūd al-Ṭaḥḥān, beliau mengatakan bahwa hadis sahih adalah suatu hadis yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, disampaikan oleh orang-orang adil, memiliki kemampuan menghafal yang sempurna (ābit), serta tidak ada perselisihan  dengan perawi yang lebih terpercaya darinya (Shādh), dan tidak ada ‘illat yang berat.

Berdasarkan definisi di atas maka suatu hadis dikategorikan sebagai hadis sahih jika memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Sanadnya bersambung, yaitu setiap perawi mengambil hadis secara langung dari orang di atasnya, dari awal sanad hingga akhir sanad.
  2. Adilnya para perawi, yaitu seorang rawi harus muslim, baligh, berakal, tidak fasik, dan tidak buruk tingkah lakunya.
  3. ābit-nya para perawi, yaitu setiap perawi harus sempurna daya ingatnya, baik ingatan dalam bentuk hafalan maupun tulisan.
  4. Tidak ada shādh, yaitu tidak menyelisihi dengan hadis yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqah dibandingkan dirinya.
  5. Tidak ada ‘illat (cacat), yaitu penyebab samar lagi tersembunyi yang bisa mencemari kesahihan sebuah hadis, meski kelihatannya terbebas dari cacat.

Contoh hadis sahih yang telah memenuhi syarat-syarat di atas adalah sebagai berikut:

قال البخاري: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

Imam al-Bukhārī berkata, “ ‘Abd Allāh bin Muhammad telah berbicara kepada kami.” Beliau berkata, “Abu ‘Āmir al-‘Aqady telah berbicara kepada kami.” Beliau berkata, “Sulaimān bin Bilāl telah berbicara kepada kami.” Dari ‘Abd Allah bin Dinar, dari ’Abu Ṣālih, dari ’Abū Hurairah Raiallāhu ‘Anhu, dari Nabi  allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluhan cabang dan rasa malu merupakan bagian dari cabang keimanan.” (HR. al-Bukhārī)

Tim Penulis

1. Ustaz Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.

2. Ustaz Dr. Abu Mujahid al-Ghifari, Lc., M.E.I.

3. Ustaz Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.

4. Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.

5. Ustaz Deni Kurniawan, S.Pd.I.

6. Ustaz Ahmad Sulaksana

7. Ustaz Zulfian Muslim

TAGS
#arti kata #definisi #glosarium #hadis sahih #kamus
Login