Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Apa Arti Hikmah dalam Alquran

Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

“Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” Al-Baqarah (2): 269. (quran.kemenag.go.id, 2020).

Terjemahan dari penggalan ayat 269 surat al-Baqarah tersebut mengajak kita mendalami lebih jauh lagi untuk memahami arti dari kata الحكمة tersebut. Di antara penyebutan kata الحكمة di dalam alquran sebagai contoh pada ke empat ayat ini.

Pertama, dalam surat al-Baqarah ayat 269:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.” Al-Baqarah (2): 269. (quran.kemenag.go.id, 2020).

Kedua, dalam surat al-Isra’ ayat 39:

ذَلِكَ مِمَّا أَوْحَى إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتُلْقَى فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad). Dan janganlah engkau mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, nanti engkau dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela dan dijauhkan (dari rahmat Allah)”. Al-Isra’ (17): 39. (quran.kemenag.go.id, 2020).

Ketiga, dalam surat Luqman ayat 12:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” Luqman (31): 12. (quran.kemenag.go.id, 2020).

Keempat, dalam surat Sad ayat 20:

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan hikmah kepadanya serta kebijaksanaan dalam memutuskan perkara.” Sad (38): 20. (quran.kemenag.go.id, 2020).

Imam ’Isma‘īl Ibn Kathīr dalam tafsirnya menyebutkan beberapa penafsiran yang menerangkan tentang arti dari kata الحكمة tersebut, di antaranya yaitu: kebenaran dalam perkataan, ilmu, fikih, alquran, paham, rasa takut kepada Allah Ta‘ālā. Beberapa perkataan salaf lainnya yang dicantumkan oleh ’Isma‘īl Ibn Kathīr ketika menafsirkan ayat tersebut menerangkan bahwa الحكمة artinya adalah kitab (alquran), paham, dan sunah. Sebagian lainnya mengartikan bahwa الحكمة adalah akal. Adapun Imam Malik menerangkan bahwa arti dari kata الحكمة adalah pemahaman yang mendalam terhadap perkara agama Islam. (’Isma‘īl Ibn Kathīr, Tafsir Ibn Kathīr, 1999).

Imam ’Isma‘īl Ibn Kathīr setelah memaparkan perkataan-perkataan salaf menguatkan arti dari الحكمة yaitu tidak terbatas pada nubuwwah akan tetapi lebih umum dari itu, yang tertinggi dari makna الحكمة adalah nubuwwah, lebih khusus lagi adalah al-risālah. Bahkan lebih luas lagi الحكمة diberikan kepada siapapun tidak hanya kepada para nabi namun juga kepada siapa yang mengikuti jalannya para nabi alawātullāhi wa salāmuhu ‘alaihim akan tetapi bedanya dengan para nabi adalah mereka tidak mendapatkan wahyu dari Allah Ta‘ālā. (’Isma‘īl Ibn Kathīr, Tafsīr Ibn Kathīr, 1999).

Sedangkan imam al-Qurţubī menyebutkan beberapa penafsiran dari kata الحكمة , yaitu: perkataan al-Suddī yang menafsirkannya dengan nubuwwah. Sedangkan Ibn ‘Abbās menafsirkannya dengan pengetahuan yang mendalam terhadap alquran dari segi fikih, naskh, ayat-ayat muhkam dan mutasyābih, gharīb, serta muqaddam dan mu’akkhar di dalam alquran. Adapun Qatādah dan Mujāhid menafsirkannya dengan pemahaman yang mendalam akan alquran. Mujāhid juga menafsirkan dengan kebenaran dalam perkataan dan perbuatan. Ibn Zaid mengatakan bahwa kata الحكمة adalah berakal dalam (menjalankan syariat) agama. Adapun Mālik ibn ’Anas menafsirkan kata الحكمة adalah pengetahuan terhadap agama Allah dengan pemahaman yang mendalam dan mengikuti (ajaran)nya. (’Abū ‘Abdillāh al-Qurţubī, Tafsīr al- Qurţubī, 1964).

Dari dua pemaparan ulama tafsir di dalam kitab tafsir mereka dapat kita simpulkan bahwa kata الحكمة merupakan pemberian dari Allah Ta‘ālā kepada siapa yang dikehendaki-Nya baik dari kalangan para nabi atau kepada manusia biasa (bukan nabi) sebagaimana Luqman mendapatkannya (merujuk kepada pendapat yang menguatkan bahwa Luqman bukan termasuk golongan nabi), berupa pengetahuan dan pemahaman yang terhadap agama Allah Ta‘ālā dan pengikutan terhadap ajaran-Nya. والله أعلم

TAGS
#Abdul Wahid #arti kata #Hikmah #Tafsir
Login