Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Fikih Qadha dan Kafarat Puasa Menurut Mazhab Syafii

Barangsiapa sengaja bersetubuh pada siang hari bulan Ramadan, dia harus mengqadha dan membayarkan kafarat, yaitu memerdekakan seorang budak mukmin. Jika tidak mendapatkannya maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu maka memberi makan enam puluh orang miskin di mana setiap orang miskin mendapatkan satu mud.

Barangsiapa meninggal dunia, sementara dia masih memiliki tanggungan puasa Ramadan maka keluarganya wajib memberi makan orang miskin atas namanya setiap hari yang ditinggalkan sebanyak satu mud.

Jika orang tua renta tidak mampu berpuasa, dia boleh berbuka. Namun, dia wajib memberi makan orang miskin satu mud sebagai ganti tiap harinya.

Jika perempuan hamil dan menyusui khawatir terhadap dirinya sendiri, mereka boleh berbuka dan mengqadha-nya. Jika khawatir terhadap anak-anaknya, mereka boleh berbuka, mengqadha-nya dan menunaikan kafarat setiap harinya satu mud, yaitu 1 1/3 ritl irak. Orang yang sakit dan orang yang melakukan perjalanan panjang boleh berbuka dan mengqadha puasa.   

 

Penjelasan:

(1). Bukhari (1834), Muslim (1111) dan selain keduanya meriwayatkan dari Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu, dia berkata, “Ketika kami duduk bersama Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, datanglah seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, celakalah aku! ‘Rasulullah berkata, ‘Ada apa denganmu?’ Orang itu menjawab, ‘Saya menggauli istriku padahal saya sedang berpuasa.’ -dalam riwayat lain, ‘Dalam bulan Ramadan.’ – Maka Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya, ‘Apakah engkau memiliki budak yang bisa dimerdekakan?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau memiliki makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ orang itu menjawab, ‘Tidak.’” Abu Hurairah melanjutkan ceritanya, “Nabi terdiam. Kemudian beliau diberi keranjang yang berisi kurma. Beliau bertanya, ‘Manakah orang yang tadi bertanya? Orang itu menjawab, ‘Saya.’ Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Ambillah kurma ini dan sedekahkanlah.’ Laki-laki itu berkata, ‘Adakah orang yang lebih fakir daripada aku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga di wilayah Harratain ini yang lebih fakir dari keluarga ku.’ Maka Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam tertawa sampai kelihatan gigi taringnya dan berkata, ‘Berikanlah kurma ini untuk makan keluargamu.” Orang fakir yang mampu memberi makan keluarganya tidak boleh memberikan makanan kafarat kepada mereka, begitu juga kafarat lainnya. Kejadian yang disebutkan dalam hadis di atas adalah khusus untuk laki-laki itu.

(2). Makanan yang diberikan kepada fakir miskin adalah makanan pokok yang biasa dikonsumsi oleh penduduk negeri, seperti gandum. Mud setara dengan bejana persegi empat yang panjang sisinya 9,2 cm dan beratnya kira-kira 600 gram. Kewajiban memberi makan ini dikeluarkan dari warisan layaknya hutang. Jika orang yang meninggal itu tidak memiliki harta, hendaknya keluarganya mengeluarkan harta dengan mengatasnamakan nya dan membebaskan tanggungannya. Tirmidzi (817) meriwayatkan dari Ibnu Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā, dia berkata:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Barangsiapa meninggal sementara dia masih memiliki tanggungan puasa Ramadan, hendaknya keluarganya memberi makan orang miskin dengan mengatasnamakannya sebagai ganti tiap harinya.”

Abu Dawud (2401) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Raḍiallāhu ‘Anhumā, dia berkata:

إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِى رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Apabila seseorang menderita sakit pada bulan Ramadan kemudian meninggal dan tidak sempat berpuasa, hendaknya dikeluarkan makanan atas namanya.”

Yang lebih utama dilakukan daripada memberi makan orang miskin adalah hendaknya kerabatnya, atau orang yang diizinkan si mayat, atau ahli warisnya berpuasa untuknya. Dasarnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari (1851) dan Muslim (1147) dari Aisyah  bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa meninggal sementara dia masih memiliki tanggungan puasa, hendaknya walinya berpuasa untuknya.”

Bukhari (1852) dan Muslim (1148) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ibuku meninggal sementara dia memiliki tanggungan selama sebulan. Haruskah saya mengqadha’ untuknya?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Hutang kepada Allah lebih berhak untuk dibayar.’”

Ketentuan ini bagi orang yang berbuka karena uzur dan mampu mengqadha-nya. Uzurnya yang berupa sakit dan selainnya telah hilang sebelum meninggal dengan jarak waktu yang mungkin untuk mengqadha, tetapi dia tidak mengerjakannya. Begitu juga dengan orang yang berbuka tanpa uzur secara mutlak.

Adapun orang yang berbuka karena uzur dan tidak mampu mengqadha, seperti meninggal sebelum hilangnya uzur atau setelahnya dengan jarak waktu yang tidak mungkin untuk mengqadha maka tidak qadha dan fidyah serta tidak ada dosa baginya.

(3). Tirmidzi (715), Abu Dawud (2408) dan selainnya meriwayatkan dari Anas bin Malik Al-Ka’by dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ ، وَشَطْرَ الصَّلاَةِ ، وَعَنِ الحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ

“Sesungguhnya Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā meringankan puasa dan bilangan salat bagi musafir serta puasa bagi perempuan hamil dan menyusui.”

Maksud meringankan dalam hadits diatas adalah dengan mengqashar salat serta dengan berbuka dan mengqadha’ ketika berpuasa.

(4). Abu Dawud (2318) meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata tentang ayat:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Ibnu ‘Abbas berkata, “Ini adalah keringanan (rukhshah) untuk laki-laki dan perempuan tua renta yang merasa berat menjalankan puasa agar berbuka dan memberi makan orang miskin setiap harinya. Perempuan hamil dan menyusui jika merasa khawatir, yaitu terhadap anak-anaknya, maka mereka boleh berbuka dan memberi makan orang miskin.”

(5). Orang yang sakit dan orang yang melakukan perjalanan panjang boleh berbuka dan mengqadha’ puasa. Dasarnya adalah firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu dia berbuka maka wajiblah baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (QS. al-Baqarah [2]: 185)

Maknanya –wallahu a’lam-, barangsiapa selama bulan Ramadan tertimpa sakit yang membuatnya tidak mampu berpuasa atau melakukan safar, hendaknya dia berbuka jika berkehendak dan berpuasa pada selain Ramadan setelah hilangnya uzur tersebut sesuai dengan hari-hari yang ditinggalkannya.

Dikutip dari: Muthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 106-108.

TAGS
#Abu Shuja' #Fikih Puasa #kafarat #Mazhab Syafii #Puasa Ramadan #Puasa #qadha
Login