Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Giat, Rajin, dan Semangat

Bina-Qurani-Giat-Rajin-Dan-Semangat

Giat, Rajin dan Semangat – Seorang penuntut ilmu harus giat, rajin, dan berkelanjutan dalam belajar. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

يَايَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا

“Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilaj) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” (QS. Maryam [19]: 12)

Juga firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

Ada ulama yang mengatakan:

Siapa yang mencari sesuatu dengan bersungguh-sungguh pastilah ia mendapatkannya. Siapa yang mengetuk pintu berulang-kali, pasti akan memasuki.”

Ada yang mengatakan lagi:

“Sejauh mana usahamu, sejauh itu pula tercapai cita-citamu.”

Dikatakan, “Dalam belajar, diperlukan kesungguhan dari tiga pihak, yaitu: guru, pelajar, dan orang tua jika masih ada.”

Bina-Qurani-Giat-Rajin-Dan-Semangat

Source: Photo By Pok Rie From Pexels

Asy-Syekh Al-Imam AL-Ustadz Sadiduddin Asy-Syairaziy Raḥimahullāh membacakan syair Imam Asy-Syafi’I Raḥimahullāh kepadaku:

Kesungguhan itu akan memudahkan segala urusan
Kesungguhan itu membuka semua pintu yang terkunci
Manusia yang paling patut bersedih adalah
Orang yang bercita-cita tinggi tapi diuji dengan hidup susah
Adalah bukti qadha’ dan ketetapan-Nya
Si pandai hidup berkekurangan dan si bodoh hidup berkecukupan
Orang yang dikaruniai akal tak diberi kekayaan
Dua paradoks yang terpisah sama sekali.

Syair lainnya dari Imam Asy-Syafi’I dilantunkan kepadaku:

Engkau ingin menjadikanfakih tanpa jerih payah
Memang gila itu bercabang-cabang
Tidak bakal engkau mendapatkan harta tanpa menanggung kerja keras
Apalagi untuk meraih ilmu

Abu At-Thayyib berkata:

Tak kulihat aib orang sebagai cela
Seperti orang kuasa yang tak luput dari kekurangan

Seseorang penuntut ilmu juga harus siap tidak tidur malam, sebagaimana kata penyair:

Seberapa besar usahamu sebesar itu pula kelluhuran kau raih
Siapa yang mencari kemuliaan hendaknua tak tidur malam
Engkau menginginkan kemuliaan tapi tidur waktu malam
Siapa hendak mencari permata harus menyelam samudera
Tingginya kedudukan diraih dengan cita-cita tinggi
Kemuliaan seseorang itu dengan berjaga pada malam hari
Ya Rabbi, kutinggalkan tidur pada malam-malam
Demi meraih rida-Mu wahai Rabb para hamba
Siapa yang menginginkan kemuliaan tanpa kerja keras
Ia telah menyia-nyiakan umur untuk mengejar
Bimbinglah aku untuk meraih ilmu
Dan sampaikan aku ke puncak kemuliaan

Dikatakan:

“Jadikanlah malam sebagai unta tunggangan, agar kau dapat meraih cita-cita”

Imam Az-Zarnuji Raḥimahullāh berkata, “Ada nazham yang semakna dengan syair-syair di atas:

Siapa yang menginginkan semua cita-citanya tercapai,
Jadikanlah malamnya sebagai unta kendaraan untuk mengejarnya
Kurangilah makanmu, agar kau mampu berjaga
Bila kau idamkan kesempurnaan wahai saudaraku

Dan dikatakan:

Siapa yang terjaga pada malam hari, hatinya bahagia pada siang hari

Seorang penuntut ilmu harus rajin belajar dengan mengulangi pelajaran pada awal dan akhir waktu malam. Sebab, pada waktu antara magrib dan isya, demikian pula waktu sahur, adalah waktu yang diberkahi.

Dan dikatakan pula:

Wahai para pelajar, lazimilah sifat wara’
Jauhi tidur dan perut kenyang
Langgengkan belajar, jangan kau tinggalkan
Karena dengan belajar, ilmu tegak dan meninggi

Selain itu, seorang penuntut ilmu harus memanfaatkan betul masa-masa dan gairah mudanya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair:

Sekuat apa usaham, senilai itu pula keinginanmu diberikan
Siapa yang hendak meraih cita-cita, ia bangun pada malam hari
Manfaatkanlah masa-masa mudamu
Dan ingat, masa muda itu tak abadi

Seorang penuntut ilmu tidak boleh memaksakan diri di luar kemampuannya karena hal itu akan melemahkan jiwanya, sehingga berhenti belajar. Namun ia harus bersikap bijaksana, ar-rifqu. Sebab, ar-rifqu (kebijaksanaan) adalah pondasi segala hal.

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Ingat, sesungguhnya agama Islam ini kokoh, maka jalankanlah dengan bijaksana dan jangan kau buat ibadah kepada Allah itu tak disukai oleh jiwamu. Karena orang yang telah terhenti di tengah perjalanan itu, tak bisa lagi menempuh perjalanan di muka bumi dan tiada pula kendaraan yang ditungganginya.” (HR. Ahmad)

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Jiwamu adalah kendaraannmu, maka santunlah padanya.”

Seorang penuntut ilmu harus memiliki cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu. Karena seseorang itu terbang dengan cita-citanya, seperti burung yang terbang dengan kedua sayapnya.

Bina-Qurani-Giat-Rajin-Dan-Semangat

Photo By Muhammadtaha Ibrahim Maaji Pexels

Abu At-Thayyib berkata:

Seberapa besar (cita-cita, akan muncul) tekad yang besar
Seberapa besar kedermawanan, sebesar itu pula kemuliaan datang
Perkara kecil akan tampak besar di mata orang kecil
Dan perkara besaar akan tampak kecil di mata orang besar
Bersemangatlah meraih semua ilmu, niscaya kau raih kesempurnaan
Jangan hanya berhenti pada satu ilmu karena malas
Lebah hinggap di semua buah-buahan
Jangan hanya mengetahui satu kebenaran, ada lilin ada madu
Lilin punya sinar yang menerangi
Dan madu punya obat bagi kesembuhan penyakit.

Wahai para penuntut ilmu! Engkau adalah faris, penunggang kuda, sedangkan selainmu adalah pejalan kaki, dan ilmumu adalah penjaga. Manusia akan dikumpulkna dalam keadaan telanjang pada hari kiamat, sedangkan engkau akan berpakaian dengan cahaya ilmu. Segala sesuatu diberi mimbar, sedang orang berilmu duduk di bawah ‘Arsy.

Wahai para penuntut ilmu lazimilah sifat wara’
Jauhi tidur dan tinggalkan kenyang.

Wahai para penuntut ilmu, bersungguh-sungguhlah pada waktu malam dan siang, karena meraih ilmu itu harus dengan kesungguhan dan pengulangan. Segala sesuatu memiliki bencana, dan bencana ilmu adalah meninggalkan kesungguhan dan tidak mengulang.

Modal untuk meraih segala sesuatu adalah kesungguhan dan semangat yang kuat. Siapa yang bercita-cita menghafalkan seluruh kitab Muhammad Ibnul Hasan Raḥimahullāh, disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tak kenal menyerah, maka jelas ia akan bisa menghafal sebagian besar atau separuhnya.

Demikian pula sebaliknya, bila semangatnya kuat tapi tidak ada kesungguhan, atau bersungguh-sungguh tetapi tidak ada semangat yang kuat, maka sedikit pula ilmu yang ia dapatkan.

Di dalam kitab Makarimu Al-Akhlaq, Syekh Al-Imam Al-Ustadz Radhiyyuddin An-Naisaburi Raḥimahullāh mengatakan bahwa Dzul Qarnain dikala berkehendak menaklukan dunia timur dan barat, beliau bermusyawarah dengan para hukama’ (orang-orang bijak) danberkata, “Bagaimana saya harus pergi untuk memperoleh kekuasaan dan kerajaan ini, padahal dunia ini hanya sedikit nilainya dan kekuasaannya hina, ini berarti bukan cita-cita luhur?” Para hukama menjawab, “Pergilah demi mendapatkan kekuasaan dunia dan akhirat.” Dzul Qarnain pun mengatakan, “Inilah yang baik.”

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Sungguh, Allah menyukai perkara-perkara yang luhur dan membenci perkara-perkara yang hina.” (HR. At-Thabrani)

Dalam sebuah syair dikatakan:

Jangan tergesa-gesa dengan perkaramu, tapi tekunilah!
Tak ada yang bisa meluruskan tongkatmu, layaknya orang yang tekun

Dikatakan, Abu Hanifah Raḥimahullāh berkata kepada Abu Yusufm Raḥimahullāh, “Dulu kamu bodoh, tapi ketekunan yang mengeluarkanmu dari kebodohan itu. Jauhilah malas-malas, karena ia adalah keburukan dan bencana yang besar.”

Syekh Al-Imam Abu Nashr As-Shaffari Al-Anshariy berkata:

Wahai diri, jangan kau menunda beramal dalam
kebaikan, keadilan, dan ihsan tanpa tergesa-gesa
Setiap orang yang beramal kebajikan, akan mendapat kebahagiaan
Tapi yang bermalasan, tertimpa bala’ dan malapetaka

Imam Az-Zarnuji Raḥimahullāh berkata, “Saya setuju dengan makna (syair) berikut:

Wahai diri, jangan bermalas-malasan dan menunda urusan
Jika tidak, tetaplah tinggal di jurang kehinaan
Tak pernah kulihat, para pemalas mendapat keuntungan
Selain sesal dan keinginan yang tak terwujud

Disebutkan dalam syair yang lain:

Betapa banyak rasa malu, lemah dan sesal
Menimpa manusia karena malas
Buanglah malas untuk membahas yang belum jelas
Segala yang kau tahi, dan yang masih ragu akibat malas

Dikatakan: Sikap malas itu timbul akibat jarang menghauati kemuliaan dan keutamaan ilmu. Hendaklah seorang muta’alim (pelajar) bekerja keras untuk meraih ilmu; giat dan rajin menghayati keutamaan-keutamaan ilmu, karena ilmu akan tetap terjaga (dengan terjaganya pengetahuan), sedangkan harta akan segera sirna, sebagaimana kata Amirul Mukmminin Alli bin Abi Thalib Raḍiallāhu ‘Anhu:

Kami rela, pembagian Allah untuk kami
Ilmu untuk kami, harta buat musuh kami
Karena harta akan sirna dalam waktu dekat
Namun ilmu, akan abadi tak bisa disirnakan

Ilmu yang bermanfaat akan mengharumkan nama pemiliknya dan itu akan berkelanjutan setelah ia meninggal. Sungguh, itulah kehidupan yang abadi.

Yang mulia Syekh Al-Imam Zhahiruddin, mufti para imam, Al-Hasan bin Ali Al-Marghinaniy membawakan syair untuk kami:

Orang-orang bodoh itu sudah mati sebelum kematiannya
Dan orang-orang alim itu tetap hidup meskipun sudah mati

Syekhul Islam Burhanuddin juga melantunkan syairnya:

Kebodohan adalah kematian sebelum kematian pemiliknya
Jasad mereka adalah kuburan sebelum dikuburkan
Orang yang hidup tanpa ilmu, ibarat orang mati
Tidak ada lagi kebangkitan baginya pada hari kebangkitan

Dikatakan lagi:

Orang berilmu itu hidup kekal setelah kematiannya
Ruas tubuhnya hancur lebir ditimbun tanah
Dan orang bodoh adalah mayit meskipun berjalan di tanah
Dikira hidup, hnyatanya ia seperti tidak ada

Dikatakan:

Hidupnya hati adalah dengan ilmu maka carilah
Dan matinya hati dengan kebodohan maka jauhilah

Dikatakan pula:

Ilmu adalah mahkota bagi pemuda
Akal adalah bandana emas
Ilmu adalah cahaya yang dinyalakan
Kebodohan adalah api yang menyala-nyala

Photo By Muhammadtaha Ibrahim Maaji Pexels

Source: Photo By Bagas Rais From Pexels

Syekhul Islam Burhanuddin membawakan sebuah syair buat kita:

Ilmu menempati kedudukan yang tertinggi
kalau lainnya, meninggi bila banyak anak buah
Orang berilmu itu namanya harum berlipat-lipat
Orang bodoh, begitu mati ditimbun tanah
Mustahil, kemuliaan (ulama) tak bakal diraih
Oleh para raja dan komandan pasukan kuda
Coba dengar, akan kudiktekan sedikit saja kepadamu
Meski aku tidak mampu menyebutkan semua kemuliaan (ilmu)
Ia adalah cahaya, cahaya yang dapat menerangi orang buta
Tapi si bodoh, sepanjang masa dalam kegelapan
Ialah puncak tertinggi, pelindung siapa yang berlindung
(Dengannya ia) berjalan aman, dari segala aral melintang
Juru penyelamat, dikala manusia terjerat tipu
Harapan manis, kala nyawa diambang pintu
Dengannya, orang-orang durhaka meminta bantuan
Agar tidak masuk neraka, seburuk-buruk pembalasan
Siapa mengharap ilmu, berarti menapaki segala tingkatannya
Dan siapa yang telah mendapatkan ilmu, ia telah mendapatkan segalanya
Wahai kaum berakal, ilmu itu pangkat kemuliaan
Bila telah kau dapat, anggap enteng pangkat selainnya
Bila engkau kehilangan dunia dengan segala nikmatnya
Pejamkan mata, cukuplah ilmu anugerah paling berharga

Syair para ulama dibawakan untukku:

Jikalau seorang alim menjadi mulia karena ilmu
Maka ilmu fikih lebih pantas mendatangkan kemuliaan
Berapa banyak aroma wewangian semerbak tapi tak seperti misk
Berapa banyak burung terbang tapi tak seperti rajawali

Diriwayatkan lagi bait syair lainnya untukku:

Fikih itu ilmu termahal, engkaulah yang menghinakannya
Siapa belajar fikih, tiada habis kebanggaannya
Curahkan kemampuan dirimu untuk mempelajari yang belum tahu
awal dan akhir dari ilmu adalah kebahagiaan.
Cukuplah kesezatan ilmu, fikih, dan kepahaman yang menjadi pendorong dan motivasi bagi orang berakal.

Sifat malas itu bisa timbul karena banyak lendir dahak dan badan yang lembab. Adapun cara mengurangi dahak itu sendiri adalah bisa dilakukan dengan cara mengurangi makan. Ada yang mengatakan: ada tujuh puluh Nabi sependapat bahwa sering lupa itu akibat dahak terlalu banyak, dahak terlalu banyak karena minum terlalu banyak, dan biasanya minum terlalu banyak itu disebabkan makan yang terlalu banyak pula.

Makan roti kering dapat menghilangkan dahak, begitu juga anggur kering dapat juga mengurangi air liur. Namun, jangan terlalu banyak, agar tidak mengakibatkan ingin minum, yang kesudahannya memperbanyak lendir dahak pula.

Bersiwak juga dapat mengurangi dahak. Di samping dapat memperlancar hafalan dan kefasihan lisan. Ia termasuk sunah Nabi yang bisa memperbesar pahala ibadah shalat dan membaca Alquran. Selain itu, muntah juga dapat mengurangi lendir dahak, dan mengurangi kelembaban badan.

Adapun cara mengurangi makan bisa dilakukan dengan cara menghayati manfaat-manfaat dari sedikit makan. Manfaat yang dimaksud antara lain badan sehat, lebih terjaga dari yang haram dan berarti pula ikut mendahulukan orang lain. Dalam hal ini ada syair yang berbunyi:

Celaka, celaka dan celaka
Jika seseorang sengsara hanya karena makanan

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menyebutkan:

“Ada tiga orang yang dibenci Allah bukan karena ia berbuat kejahatan, yaitu: orang yang banyak makan, orang kikir, dan orang sombong.”

Cara lain untuk dapat mengurangi makan adalah dengan cara menghayati mudarat yang timbul dari terlalu banyak makan, antara lain: banyak penyakit dan tabiat yang lemah. Ada yang mengatakan:

Perut kenyang menghilangkan kecerdasan

Ada suatu riwayat dari Galenus (yang bijak) bahwa ia pernah berkata, “Semua buah delima bermanfaat, dan semua ikan berbahaya.” Ada juga yang mengatakan, “Ikan lebih berbahaya dari banyak delima.”

Selain itu, banyak makan juga menghabiskan harta. Makan melebihi batas kenyang hanya akan membawa mudarat, dan mendatangkan siksa kelak di akhirat.

Orang yang terlalu banyak makan dibenci oleh semua orang.

Cara lain untuk mengurangi makan adalah dengan makanan yang berlemak. Mendahulukan makanan yang lebih lembut dan disukai terlebih dahulu. Hindari makan bersama orang yang sedang sangat lapar, kecuali bila ia memiliki tujuan yang baik dalam makan banyak. Misalnya, agar kuat berpuasa, mengerjakan shalat atau perbuatan-perbuatan lalin yang berat, maka silakan ia makan banyak.

Dikutip dari: Imam Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum. Edisi terjemah: Alih Bahasa Abdurrahman Azzam, Ta’limul Muta’alim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, (Solo: Aqwam, 2019), 77-98.

Thumbnail Source: Photo By Abdullah Ghatasheh From Pexels

Artikel Terkait:
Takzim Terhadap Ilmu dan Ahli Ilmu

TAGS
#adab sebelum ilmu #adab-adab menuntut ilmu #cara-cara giat belajar #giat dalam belajar #giat dalam menuntut ilmu #rajin menuntut ilmu #semangat dalam menuntut ilmu #tips rajin belajar #tips semangat belajar
Login