Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Godaan Mondok di Islamic Boarding School

Belajar di Islamic Boarding School memiliki dinamika tersendiri yang berbeda dibandingkan dengan belajar di sekolah umum atau full day. Jauh dari orang tua dan kampung halaman menjadikan belajar di Islamic Boarding School dihadapkan pada beberapa persoalan. Para orang tua, guru, dan santri yang belajar di Islamic Boarding School harus mengetahui apa saja yang membuat perasaan tidak betah itu terjadi. Sehingga ketika itu terjadi mampu mengatasinya dengan bijak.

Di antara sekian banyak godaan dan rintangan belajar di Islamic Boarding School, berikut beberapa yang umum terjadi:

Pertama, merasa pelajaran terlalu berat.

Tidak dipungkiri bahwa beban pelajaran di Islamic Boarding School lebih banyak dibandingkan dengan pelajaran di sekolah umum atau sekolah full day. Banyaknya pelajaran tersebut umumnya adalah kurikulum khusus pondok pesantren atau Islamic Boarding School. Ini sering dijadikan alasan bagi santri/ peserta didik meminta kepada orang tua untuk keluar dari Islamic Boarding School dan memilih sekolah umum. Orang tua dan guru berkewajiban memberikan pemahaman kepada para santri bahwa tidak ada pelajaran yang berat ketika dijalani dengan sungguh-sungguh dan kesukaran dalam menuntut adalah anak tangga kesuksesan masa depan yang lebih baik. Imam Muhammad bin Idris asy-Syafii rahimahullah berkata, “Bila kamu tidak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.” (Diwan Imam asy-Syafii). Dalam hal ini sang anak hendaknya diarahkan untuk memperbanyak doa meminta kemudahan, banyak bertanya kepada guru atau pembimbing atau kaka kelas jika mendapati pelajaran yang sukar dipahami, dan berteman dengan teman-teman yang dapat menyelesaikan atau meringkan masalah pelajaran.

Kedua, pergaulan luar dan pacaran.

Peserta didik yang sedang mondok di Islamic Boarding School merasa bahwa keberadaannya di pondok serba terbatas, tidak bebas, banyak aturan, dan kurang menikmati masa-masa indah remaja. Perasaan-perasaan tersebut dapat menyebabkan peserta didik banyak izin keluar. Ketika ia merasakan bebasnya hidup di luar maka ia berfikir untuk memilih sekolah umum saja. Ketika gejala ini terlihat maka orang tua dan guru harus memahami psikologi sang anak dan melakukan pendekatan dari hati ke hati. Menggali permasalahan yang dihadapi. Kemudian mencarikan solusi agar sang anak tetap menuntut ilmu Islamic Boarding School. Misalnya dengan mengarahkan pada hobi yang disukainya dan menyibukannya dengan beragam kegiatan yang di dalam sekolah serta memberikan pencerahan tentang masa depan.

Godaan yang semisal ini adalah pacaran. Ketika seorang santri yang sedang mondok di pesantren atau Islamic Boarding School menjalin hubungan “pacaran” maka ini dapat menjadi sebab hilangnya fokus belajar. Terkadang ini menjadi sebab santri berfikir keluar dari pondok dan banyak izin keluar ataupun banyak izin pulang ke rumah.

Ketiga, Sakit-sakitan

Pada hakikatnya sakit itu ujian yang menimpa siapapun. Tapi jauh dari orang tua dan kurangnya perawatan sering dijadikan alasan untuk tidak meneruskan belajar di Islamic Boarding School. Pihak manajemen berkewajiban serius memperhatikan masalah ini sebagai bentuk pelayanan dan tetap waspada terhadap modus para peserta didik yang lari dari pelajaran atau kegiatan dengan alasan sakit.

Masih banyak godaan-godaan ketika mondok di Islamic Boarding School atau pesantren yang berdampak pada berhentinya belajar atau berpindah ke sekolah umum, misalnya sikap guru yang kasar, kekerasan kaka kelas/ senior, ingin lebih santai dalam belajar, permasalahan sesama teman, dan lain-lain.

TAGS
#Godaan mondok #Boarding School #Islamic School #Pesantren
Login