Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Hal-hal yang disunahkan, diharamkan, dan dimakruhkan Bagi Orang yang Berpuasa Menurut Mazhab Syafii

Sunah-sunah dalam berpuasa ada tiga perkara, yaitu: (1). Menyegerakan berbuka, (2). Mengakhirkan sahur, dan (3). Menjauhi perkataan buruk. Haram berpuasa dalam lima hari berikut: (1).  Pada Idul Fitri dan Idul Adha, (2). Pada 3 hari taysriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah). Makruh berpuasa pada hari syak kecuali jika bersamaan dengan kebiasaan puasa.

Penjelasan:

(1). Bukhari (1856) dan Muslim (1098) meriwayatkan dari Sa’ad bin Sa’ad bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Afdhalnya, seseorang berbuka dengan beberapa buah kurma kering dan sedikit air, kemudian mengerjakan salat Magrib. Lantas, dia menyantap makanan jika menghendaki. Ibnu Hibban meriwayatkan dengan sanad ahīh bahwa jika Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam berpuasa, beliau belum mengerjakan salat sampai dihidangkan ruthab (kurma basah) atau air,  kemudian beliau makan atau minum. Jika pada musim panas, beliau belum mengerjakan salat sampai dihidangkan kurma kering atau air.

(2). Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْإِفْطَارَ، وَأَخَّرُوا السُّحُورَ

Umatku akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. (5/147).

Ibnu Hibban meriwayatkan, “Mengakhirkan sahur adalah bagian dari sunah para rasul.”

Maksud mengakhirkan sahur adalah selesainya makan dan minum tidak lama sebelum fajar terbit. Bukhari (556) meriwayatkan dari Ibnu Malik bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam dan Zaid bin Tsabit makan sahur. Tatkala keduanya selesai, Nabi berdiri hendak mengerjakan salat, kemudian beliau salat. Kami berkata kepada Anas, “Berapa jarak antara sahur dan salat keduanya?” “Kira-kira seorang laki-laki membaca lima puluh ayat Alquran.”

(3). Maksud perkataan buruk yang harus di jauhi adalah perkataan yang batil, seperti mencela, ghibah dan lain-lain.

Bukhari (1804) meriwayatkan dari Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu dia berkata bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya maka Allah tidak tidak peduli ketika orang itu meninggalkan makanan dan minumannya.”

Artinya, puasanya tidak mendapatkan pahala walaupun kewajiban puasa gugur dari dirinya.

(4). Muslim (1138) meriwayatkan dari Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melarang berpuasa selama dua hari, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri. Bukhari (1890) jua meriwayatkan dari Abu Sa’id Raḍiallāhu ‘Anhu.

(5). Muslim (1142) meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik Raḍiallāhu ‘Anhu bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengutusnya dan Aus bin Al-Hadatsan ketika hari tasyriq. Beliau lalu menyuru, “Tidak akan masuk surga kecuali seorang mukmin. Hari mina adalah hari makan dan minum.”

Abu Dawud (2418) meriwayatkan dari ‘Amru bin ‘Ash dia berkata, “Pada hari-hari ini, Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk berbuka dan melarang kami untuk berpuasa.” Malik berkata, “Inilah hari Tasyriq.”

(6). Hari syak adalah hari ketiga puluh bulan Sya’ban yang diragukan oleh orang banyak, yaitu apakah hari ini bagian dari Sya’ban atau Ramadhan. Pendapat dipegang dalam madzhab adalah memandang haram puasa pada hari itu dan tidak syah. Dasarnya adalah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (2334) dan Tirmidzi (686) – dan dinilainya shahih- dari ‘Ammar bin Yasir Dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

مَنْ صَامَ اليَوْمَ الَّذِي يَشُكُّ فِيهِ النَّاسُ فَقَدْ عَصَى أَبَا القَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Barang siapa berpuasa pada hari yang diragukan oleh orang banyak maka dia telah bermaksiat kepada Abul Qasim.”

Perkataan penulis (Abu shuja’) “makruh” harus ditafsirkan menjadi “makruh tahrim” sehingga sesuai dengan pendapat yang dipegang mazhab. Diharamkan juga berpuasa pada paruh kedua bulan Sya’ban berdasarkan hadis yang di riwayatkan oleh Abu Dawud (2337) dan dishahihkan oleh Tirmidzi (738) dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلاَ تَصُومُوا

“Jika tersisa separuh bulan Sya’ban maka janganlah kalian puasa.”

Dalam riwayat Ibnu Majah (1651) disebutkan:

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَلَا صَوْمَ حَتَّى يَجِيءَ رَمَضَانُ

“Jika telah datang pertengahan bulan Sya’ban maka janganlah kalian berpuasa.”

Haramnya berpuasa pada hari syak dan paruh kedua bulan Sya’ban tidak berlaku jika bersamaan dengan puasa yang dilakukan karena kebiasaannya (misalnya pausa senin dan kamis, ed.) atau menyambung puasa yang dikerjakan sebelum paruh kedua bulan Sya’ban. Bukhari (1815) dan Muslim (1085) meriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali seorang laki-laki yang telah terbiasa berpuasa (sunah) maka hendaklah dia berpuasa pada hari itu.”

 

Dikutip dari: Muthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 105-106.

TAGS
#Abu Shuja' #Fikih Puasa #Fikih #Mazhab Syafii #Puasa Ramadan #sunah puasa
Login