Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Hikmah Di Balik Mahalnya Sekolah Islam

Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Ketika kata sekolah Islam diangkat ke permukaan maka banyak sekali komentar-komentar masyarakat yang dialamatkan kepadanya. Mulai komentar-komentar yang ringan sampai yang berbobot yang ingin memberikan masukan, kritik, dan ide-ide yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk kemajuan sekolah Islam tersebut.

Banyaknya komentar dan respon variatif terhadap sekolah Islam dari masyarakat menunjukkan antusiasme mereka terhadap hal-hal yang bersinggungan dengan pendidikan secara umum dan menunjukkan iktikad serta kepedulian mereka terhadap pendidikan Islam secara khusus.

Di antara komentar dan respon yang cukup menarik ketika membahas sekolah Islam adalah label yang cukup melekat padanya yaitu label sekolah mahal. Banyak sekolah berlabel Islam memungut bayaran mahal untuk uang masuk dan iuran bulanannya. Di daerah pinggiran Jakarta, sekolah berlabel Islam favorit setingkat SD memungut uang pangkal 10-15 juta rupiah dengan SPP antara 400-500 ribu rupiah per bulan atau setara dengan 2,4-3 juta rupiah per semester, belum termasuk biaya lain-lain yang membebani orang tua. Sekalipun mahal, peminat tetap membludak karena adanya nilai plus berupa pengajaran materi-materi keislaman. (www.nu.or.id, 2020)

Di luar Jabodetabek, label mahal yang melekat pada sekolah Islam tidaklah pudar. Sebagaimana pengakuan dari Ita Prasanti salah satu warga di kota Semarang Jawa Tengah, agak ngeri-ngeri sedap ketika tahu jumlah rupiah yang harus dikeluarkan oleh saudaranya untuk menyekolahkan anaknya ke Sekolah Islam Terpadu (SIT).

Ia menyatakan bahwa keponakannya yang sekolah di salah satu sekolah Islam di Semarang, harus membayar uang muka Rp7 juta, per bulannya Rp800 ribu. Bagi ia dan semisalnya yang gajinya tidak sampai UMK hanya berserah diri pada Allah. Ia hanya berharap saat anaknya sekolah mereka mendapat pendidikan yang terbaik.

Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Tengah 2016 resmi ditetapkan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo satu tahun lalu. Disebutkan dari 35 kabupaten/kota, UMK Kota Semarang ditetapkan sebagai yang tertinggi, sebesar Rp 1.909.000. Sementara UMK yang terendah Kabupaten Banjarnegara Rp 1.265.000. (bersamadakwah.net, 2020)

Menanggapi labelisasi mahal pada sekolah Islam,  Ketua Dewan Pembina Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Fahmy Alaydroes mengatakan bahwa murah dan mahalnya biaya sekolah itu sangat relatif.

“Mahal itu relatif. Apalagi, maaf, bila kita hitung biaya per unit yang lebih mikro. Katakanlah SPP per bulan satu juta rupiah. Wow mahal banget?! Tapi kalau kita breakdown, sesungguhnya biaya sejuta itu artinya, Rp50 ribu rupiah sehari. Sabtu dan Ahad libur. Dengan Rp50 ribu rupiah sehari putra atau putri kita mendapatkan pendidikan dunia akhirat selama 8 jam.” (bersamadakwah.net, 2020)

Terlepas dari labelisasi mahal terhadap sekolah Islam, terdapat banyak hikmah yang bisa diambil terutama dari aspek ekonomi pendidikan, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Secara filosofis, jika menilik kepada sejarah pendidikan Islam di masa lalu, terutama pada abad pertengahan maka mahalnya sekolah Islam saat ini adalah wajar. Karena misalnya, Darul ‘Ilmi di Kairo yang didirikan oleh al-Hakim Biamrillah pada tahun 1004, menghabiskan kira-kira 257 Dinar setiap tahun. Dana itu digunakan untuk membeli tikar, kertas, gaji, pemimpin perpustakaan, air, gaji pesuruh, dan lain sebagainya (Ilmu Pendidikan Islami, 2012). Jika dirupiahkan maka 257 Dinar itu setara dengan Rp. 1.168.707.500,- dengan asumsi satu Dinar 4.547.500 kurs ke mata uang rupiah tahun 2020. Angka yang cukup fantastis di zaman itu bukan?

Kedua, Sekolah Islam yang notabene berbiaya mahal, secara tidak langsung membuka lapangan kerja yang cukup signifikan di wilayah sekitar, terutama di sektor UMKM. Seperti kantin, laudry, parkiran, dan lain sebagainya. Dengan demikian keberadaan sekolah Islam yang berbiaya mahal tersebut menghidupkan perekonomian warga sekitar.

Ketiga, dengan adanya lapangan pekerjaan baru yang tersedia di wilayah sekolah Islam tersebut maka secara otomatis mengurangi angka pengangguran di mana pengangguran merupakan salah satu sebab munculnya tindakan kriminal.

Keempat, sekolah Islam biasanya memiliki program-program yang peduli terhadap masyarakat sekitar, terutama dari sisi sosial-ekonomi. Seperti bantuan sandang dan pangan untuk fakir dan miskin, beasiswa pendidikan untuk anak-anak berprestasi atau anak-anak dari kalangan masyarakat ekonomi lemah, dan lain sebagainya.

Dari uraian tersebut, adalah wajar jika sekolah Islam memberikan penawaran biaya yang mahal bagi para calon orang tua. Karena, dana pengelolaan sekolah jika dikalkulasikan secara menyeluruh tidaklah sedikit sebagaimana yang terjadi di abad pertengahan dalam sejarah pendidikan Islam. Meskipun demikian, nilai-nilai kepedulian terhadap peningkatan ekonomi-sosial warga sekitar haruslah dipertahankan. Karena kemampuan finansial masyarakat kelas menegah ke atas itu tidak lepas dari keberadaan masyarakat yang ekonominya berada di titik terrendah sekalipun. Jadi, penting sekali sinergi keduanya dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara umum.  

TAGS
#Ade Wahidin #Hikmah #Labelisasi #Mahal #Sekolah Islam
Login