Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Ibadah Kepada Allah

Bina-Qurani-Ibadah-Kepada-Allah
Ibadah Kepada Allah

Secara bahasa, Ibadah diartikan sebagai aktivitas atau kegiatan merendahkan diri dan tunduk kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, Rabb semesta alam pencipta segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.

Adapun ibadah menurut syara’ definisi menjadi tiga. Meskipun demikian, tetapi makna dan maksudnya tetaplah satu. Tiga definisi dari ibadah tersebut antara lain yaitu:

  • Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
  • Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
  • Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir ataupun yang batin. Ini adalah definisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah terbagi menjadi 3, yaitu ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Dan masih banyak lagin macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan, dan badan.

Bina-Qurani-Ibadah-Kepada-Allah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Ibadah Kepada Allah, Source: Photo by Abdullah G Pexels

Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

Artinya:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku menghendaki rezeki sedikitpun memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Zariyat [51]: 56-58)

Allah memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah. Dan Allah mahakaya, tidak membutuhkan-Nya ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syariat-Nya. Siapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah orang yang sombong. Siapa yang menyembah-Nya, tetapi dengan selain apa yang disyariatkan-Nya maka ia adalah pelaku bid’ah.Siapa yang hanya menyembah Allah dan dengan syariat-Nya, maka dia adalah mukmin yang mengesakan Allah.

Bina-Qurani-Ibadah-Kepada-Allah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Ibadah Kepada Allah, Source: Photo by Haydan A Pexels

Macam-macam Ibadah, Cakupan, dan Syarat Diterimanya Ibadah

Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua jenis ketaatan yang tampak pada lisan, anggota badan, dan yang lahir dari hati, seperti dzikir, tasbih, tahlil, membaca Al-Qur’an, shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar, ma’ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, tobat, ikhlas, kepada-Nya, sabar terhadap hukumNya, ridha dengan qadha’-Nya, tawakal, serta mengharap nikmat-Nya dan takut dari siksa-Nya.

Ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau apa yang dapat membantu melakukan hal itu. Bahkan kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepada-Nya. Misalnya, tidur, makan, minum, jual-beli, bekerja mencari nafkah, nikah, dan sebagainya. Berbagai kebiasaan tersebut jika disertai dengan niat baik (benar) maka akan bernilai ibadah yang berhak mendapatkan pahala. Karenanya, tidaklah ibadah itu terbatas hanya pada syi’ar yang biasa dikenal.

Bina-Qurani-Ibadah-Kepada-Allah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Ibadah Kepada Allah, Source: Photo by Michael B Pexels

Adapun syarat agar ibadah seseorang diterima oleh Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā haruslah terpenuhi dua syarat utama, yaitu (1) Ikhlas karena Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, dan (2) Melaksanakan ibadah dengan mengikuti tuntunan dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam.

Dua syarat inilah yang menjadikan amal ibadah seorang hamba diterima oleh Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Namun, jika salah satu dari dua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka amalan ibadah yang dikerjakan menjadi tertolak.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 59-61.

Thumbnail Source: Photo by Michael B Pexels

Artikel Terkait:
Allah, Al-Ilah yang Diibadahi

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Ibadah #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
© 2023 BQ Islamic Boarding School, All Rights reserved
Login