Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Iman Kepada Allah

Bina-Qurani-Iman-Kepada-Allah
Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā adalah rukun iman yang pertama. Iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā merupakan asas dan pokok utama diantara rukun iman yang lain. Dalam kehidupan manusia iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā memegang peranan yang amat penting. Tanpa iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, manusia bagaikan kapas yang terombang-ambing tanpa arah.

Orang yang tidak memiliki iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā hidupnya akan berantakan, ia akan tenggelam dihanyutkan oleh hawa nafsu tanpa ada tujuan hakiki. Karena iman merupakan petunjuk, iman adalah cahaya yang menerangi hati dan jiwa. Dengan iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā kehidupan seseorang akan terkontrol dan terarahkan.

Iman menurut Ahlus Sunnah adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati dan amalan dengan anggota badan.

Ibnu Katsir berkata, “iman menurut pengertian syar’i tidaklah bisa terwujud kecuali dengan adanya keyakinan, perkataan dan perbuatan. Demikian definisi yang disampaikan oleh kebanyakan ulama. Bahkan Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal serta Abu ‘Ubaid juga ulama lainnya bersepakat bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang.” (Tafsir Ibnu Katsir pada surat Al-Baqarah ayat 2).

Iman kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā yakni keyakinan yang pasti bahwa Allah adalah Tuhan kita semua dan pemilik segala sesuatu. Dialah satu-satunya pencipta, pengatur segala sesuatu, dan Allah lah satu-satunya yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil, dan beribadah kepada selain-Nya adalah kebatilan.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ (62)

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah Dialah (Tuhan) yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah yang Mahatinggi, Mahabesar”. (QS. Al-Hajj [22]: 62)

Dialah Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā yang disifati dengan sifat yang sempurna dan mulia, tersucikan dari segala kekurangan dan cacat. Keberadaan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā adalah sesuatu yang sudah sangat jelas. Hal ini dapat ditunjukan dengan dalil akal, hissi (inderawi), fitrah dan dalil syariat.

Akal menunjukan adanya Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā karena seluruh makhluk yang ada di alam ini, sudah tentu ada penciptanya. Tidak mungkin semua makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

Indera yang kita miliki juga menunjukan tentang keberadaan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Panca indera sebagai salah satu sarana manusia untuk meraba, merasa, mendengar, melihat dan mengetahui. Secara khusus potensi tersebut merupakan pemberian dari Allah kepada manusia guna meningkatkan kapasitasnya dalam memahami tanda-tanda kekuasaan dan keberadaan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Yang mana tanda-tanda tersebut membawa manusia untuk memahami bahwa realitas fisik di dunia ini adalah salah satu aspek dari kekuasaan-Nya.

Adapun petunjuk fitrah juga menyatakan keberadaan Allah. Fitrah senantiasa mengajarkan manusia untuk mencintai segala bentuk kesempurnaan. Bentuk kesempurnaan yang dimaksud adalah kesempurnaan yang bersifat absolut. Dan mengingat semua kesempurnaan yang ada pada eksistensi alam dunia bersifat terbatas. Dengan demikian tidak ada jalan lain bagi pemilik fitrah kecuali ia harus meyakini adanya Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, Tuhan yang maha sempurna.

Dalil syariat baik Alquran maupun Hadist Nabi juga banyak sekali didalamnya yang menunjukan tentang adanya Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, diantaranya dalam firman-Nya,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (54)

“Sungguh Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa lalu dia bersemayam diatas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam”. (QS. Al-A’raf [07]: 54).

Thuambnail Source: Photo by Abdullah Ghatasheh Pexels

Artikel Terkait:
Pengaruh Tauhid Asma wa Sifat dalam Muamalah

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login