Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Integrasi Kurikulum di Tengah Waktu Belajar dan Bermain Peserta Didik

Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Sekolah Islam Terpadu atau yang biasa disingkat dengan sekolah IT, merupakan brand yang hampir merata digunakan oleh sekolah-sekolah Islam swasta di Indonesia. Perpaduan kurikulum pendidikan nasional dengan kurikulum agama yang diramu sedemikian rupa oleh para penyelenggaranya menjadikan sekolah Islam Terpadu sebagai alternatif utama di antara sekolah swasta lainnya. Pada tahun 2017 Ketua dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu di Indonesia menyebutkan setidaknya ada 80 ribu tenaga pengajar di sekolah Islam Terpadu yang tersebar di 2.418 unit sekolah (republika.co.id, 2017). Jumlah yang dapat dikatakan cukup besar inipun belum mewakili total dari seluruh sekolah Islam yang ada di Indonesia, seperti mereka yang menggunakan brand Islamic School atau Islamic Boarding School.

Produk integrasi kurikulum yang menjadi keunggulan dari sekolah IT tidak lepas dari berbagai problematika pada tataran implementasi kurikulum tersebut. Waktu yang terbatas, kemampuan peserta didik, sampai kepada kapabilitas seorang tenaga pendidik pun menjadi persoalan dari tahun ke tahun untuk mencapai target dari masing-masing kurikulum. Walaupun dinamika ini dapat dengan mudah ditepis oleh rangkaian prestasi di ajang nasional bahkan kancah internasional yang berhasil direbut oleh siswa-siswi sekolah yang terbina di sekolah Islam Terpadu.

Abdi Kurnia Johan menyebutkan dalam opininya bahwa sekolah Islam Terpadu lahir sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah baik yang digagas oleh pemerintah baik Depdikbud ataupun Depag (Abdi Kurnia Johan, islami.co, 2018). Terlepas dari motif apapun para penggagas integrasi kurikulum yang berhasil diramu sedemikian rupa oleh para praktisi sekolah-sekolah IT, warna model pendidikan baru yang dimunculkan ke publik melalui lembaga pendidikan tersebut layak diacungi jempol karena berhasil mendapatkan sambutan yang maksimal dari masyarakat.

Kembali kepada problematika yang ada di sekolah Islam Terpadu pada tataran implementasi terhadap konsep integrasi kurikulum harus segera mendapatkan solusi dari waktu ke waktu. Sebagaimana dilansir dalam laman jsit-indonesia.com bahwa pendekatan yang diterapkan dalam penyelenggaraan sekolah IT adalah dengan memadukan kurikulum seluruh mata pelajaran pendidikan umum dan mata pelajaran pendidikan agama (jsit-indonesia.com, 2016). Maka PR terbesar bagi para penyelenggara SIT adalah bagaimana memaksimalkan pola pendidikan integrasi kurikulum dengan penyerapan peserta didik yang maksimal terhadap seluruh kurikulum yang tersajikan.

Kemampuan seorang anak terkadang sangat sulit diprediksi oleh para tenaga pendidik. Bertolak dari hal inilah para penyelenggara SIT harus melakukan kerjasama dengan para praktisi psikologi pendidikan anak atau lembaga-lembaga profesional yang berpengalaman dalam mengukur kemampuan daya serap anak secara berkala. Inti dari sebuah pendidikan bukanlah bagaimana caranya kita sebagai praktisi atau pendidik menghabiskan target yang akan kita sampaikan kepada peserta didik, akan tetapi bagaimana penyerapan peserta didik terhadap apa yang telah kita sampaikan dalam pembelajaran.

Keinginan maksimal terhadap pencapaian dari target kurikulum tidak serta merta menghilangkan perhatian kita kepada psikologi sang anak di masa yang akan datang. Waktu bermain yang semestinya mereka nikmati lebih maksimal sudah sepatutnya mendapatkan porsi prioritas dalam keseharian mereka. Tentunya bukan bagaimana kita dengan mereka belajar sambil bermain, akan tetapi bagaimana kita dapat menyajikan pembelajaran di tengah permainan mereka. Porsi waktu belajar yang kita telah tetapkan haruslah sebanding dengan porsi atau alokasi waktu istirahat dan bermain mereka. Peserta didik kita bukanlah sebuah mesin yang harus kita paksakan untuk memproduksi barang dengan target tertentu, mereka adalah sebuah wadah yang memiliki keterbatasan dalam menampung apa yang kita berikan.

Para penyelenggara pendidikan di SIT dituntut secara maksimal untuk meminimalisir berbagai kurikulum yang mubazir dan juga melakukan penyesuaian standar kompetensi lulusan secara berkala, sehingga para peserta didik dengan berbagai klasifikasi kemampuan mereka tidak mengalami fobia untuk belajar. Sesuaikan porsi belajar,istirahat, dan bermain mereka, mari kita jadikan lembaga-lembaga pendidikan kita sebagai tempat yang menggembirakan untuk mereka menuntut ilmu.

TAGS
#Abdul Wahid #Kurikulum #Manajemen #Pendidikan
Login