Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Itikaf bagi Wanita

Bina-Qurani-Itikaf-Bagi-Wanita
Itikaf bagi Wanita

Meningkatkan ibadah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sama halnua dengan kaum lelaki, bahwa kaum wanita juga dianjurkan untuk meningkatkan intensitas ibadah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan guna mencari kebaikan dan meraih keutamaan lailatul qadr.

Pada malam hari-hari itu, lelaki dianjurkan membangunkan isterinya untuk melaksanakan shalat malam. Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā berkata, “Jika masuk sepuluh hari terakhir, Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan isteri (keluarga)nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Tujuannya adalah agar dapat meraih keutamaan lailatul qadr. Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Artinya:

“Carilah lailatul qadr pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Muslim)

Apa yang mendorong untuk mencari lailatul qadr? Karena Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam telah bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya:

“Barang siapa yang shalat malam pada malam qadr (lailatul qadr) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim)

Bina-Qurani-Itikaf-Bagi-Wanita

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Itikaf Bagi Wanita, Source: Photo by Thirdman Pexels

Disyariatkannya Itikaf bagi Wanita

Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā mengatakan bahwa ketika Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menyatakan akan beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, ia segera meminta izin kepada beliau untuk beritikaf dan Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengizinkannya.

Dalam riwayat lain, Aisyah berkata, “Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian sepeninggal beliau, isteri-isteri beliau pun melakukan itikaf.” (HR. Bukhari Muslim)

Berikut ini penjelasan tentang beberapa hukum yang berkaitan dengan itikaf bagi kaum wanita:

1. Wanita Tidak Boleh Beritikaf Kecuali Setelah Mendapat Izin dari Suaminya

Alasannya, wanita tidak boleh keluar rumah kecuali seizin suaminya. Dalam riwayat di atas di jelaskan bahwa Aisyah, juga Hafshah dan Zainab, meminta izin kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam untuk melakukan itikaf.

2. Jika Suami Mengizinkan, Apakah Ia Boleh Menyuruh Isterinya Membatalkan Itikaf?

Apabila itikaf yang dikerjakan oleh sang isteri adalah itikaf sunnah maka suaminya boleh memintanya membatalkan itikaf. Dalilnya, ketika Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengetahui bahwa selain Aisyah, Hafshah dan Zainab juga minta izin uuntuk beritikaf, beliau khawatir niat mereka tidak ikhlas beritikaf melainkan ingin tetap dekat dengan beliau karena masing-masing merasa cemburu, maka beliau membatalkan itikaf mereka seraya berkata, “Benarkah mereka semua menginginkan kebaikan?! Aku tidak akan beritikaf.”

3. Itikaf Hanya boleh Dilakukan di Masjid

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya:

“Sedang kamu beritikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam dan isteri-isteri beliau pun melakukan itikaf di dalam masjid. Seorang wanita tidak boleh beritikaf di ruang shalat yang ada di dalam rumahnya, dan tidak diharuskan mengikuti shalat berjamaah selama berada di masjid, karena hukum shalat berjamaah tidak wajib bagi kaum wanita.”

Bina-Qurani-Itikaf-Bagi-Wanita

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Itikaf Bagi Wanita, Source: Photo by Rodnae Pro Pexels

4. Wanita yang Beritikaf di Masjid Harus Dalam Ruang Tertutup

Alasannya, ketika isteri-isteri Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam hendak beritikaf, mereka menyuruh dibuatkan semacam kemah khusus untuknya di salam masjid. Selain itu, masjid merupakan tempat umum yang selalu didatangi oleh kaum laki-laki, dan sebaiknya mereka tidak slaing melihat.

Jika hendak membuat ruang khusus tersebut, maka jangan mengambil tempat shalat kaum laki-laki, karena akan memutuskan shaff dan mempersempit tempat shalat mereka.

5. Menyibukkan Diri dengan Ibadah

Selama beritikaf, dianjukan untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam ketaatan kepada Allah, seperti shalat, membaca Alquran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar (memohon ampun), membaca shalawat yang dicontohkan, berdoa dan bentuk ketaatan lainnya.

Selama beritikaf juga dimakruhkan untuk menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Dimakruhkan juga menahan diri dari berbicara (puasa bicara) dengan anggapan perbuatan tersebut adalah ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.

Dikutip dari: Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ Wama Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin min Ahkam. Edisi terjemah: Alih Bahasa M. Taqdir Arsyad, Fikih Sunnah Wanita Panduan Lengkap Wanita Muslimah, (Bogor: Griya Ilmu, 2019), 318-320.

Thumbnail Source: Photo by Deb Pentek Pexels

Artikel Terkait:
Perkara yang Membatalkan Puasa

TAGS
#ihlas beramal #ikhlas beramal shalih #ikhlas beramal #ikhlas dalam beramal #ikhlas dalam beribadah #ikhlas ketika shalat #ikhlas #kiat-kiat ikhlas #niat yang ikhlas #pengertian ikhlas #pentingnya ikhlas beramal #urgensi ikhlas dalam islam
© 2021 BQ Islamic Boarding School, All Rights reserved
Login