Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

It’s Time for Us to Rise from Ignorance

Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Mengenal kaum quraisy melalui apa yang dikatakan oleh sejarah yang sampai kepada kita kaum muslimin di Indonesia khususnya, secara sekilas memang kita akan terbawa oleh terjemahan secara harfiah yang langsung menjurus kepada sebuah sebutan jahiliah. Kata jahiliah seolah memberikan gambaran kepada kita bahwa kaum tersebut memiliki peradaban yang terbelakang pada saat itu. Realitanya pada masa tersebut keadaan atau dapat dikatakan peradaban kaum quraish sangat berbanding terbalik dengan apa yang menjadi lukisan sederhana buah pemahaman kita. Peradaban kaum quraisy justru merupakan sebuah peradaban yang sangat pantas untuk dibanggakan. Fakta sejarah menjelaskan bahwa kota Makkah kala itu menjadi pusat perniagaan (republika.co.id, 2020).  Lantas apa makna dari peradaban jahiliah itu sendiri, dimana di antara salah satu tujuan yang mulia dalam dakwa Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam adalah mengangkat kejahiliahan tersebut dari kaumnya.

Kata jahiliah dalam bahasa Indonesia diartikan dengan kebodohan (kbbi.kemdikbud.co.id, 2020). Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah di tengah masyarakat yang dikenal dengan sebutan tersebut, yaitu bangsa atau kaum jahiliah. Bukan karena kegiatan ekonomi mereka terbelakang, bukan pula disebabkan oleh kehidupan mereka yang saling memakan satu dengan lainnya, atau mungkin lebih dari itu kebodohan yang dimaksud adalah sebuah kebodohan mereka terhadap siapa tuhan mereka. Untuk mengurai terminologi dari jahiliah yang dimaksud tersebut mari bersama kita simak apa yang disampaikan oleh alquran terhadap kata sarat makna tersebut.

Allah subhānahu wa ta‘ālā menerangkan kata jahiliah dalam alquran pada empat ayat di surat yang berbeda dengan beragam maknanya.

Pertama, dalam penggalan ayat di surat ali ‘Imran (3) ayat 154:

.. يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ.. الأية.

“..mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah..” (quran.kemenag.go.id)

Kata jahiliah dalam ayat ini disandarkan dengan kata prasangka untuk menjelaskan tentang prasangka yang buruk terhadap Allah subhānahu wa ta‘ālā.

Kedua, pada ayat di surat al Ma’idah (5) ayat 50:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?.” (quran.kemenag.go.id)

Pada ayat ini kata jahiliah disandarkan pada hukum selain hukum Allah subhānahu wa ta‘ālā.

Ketiga, pada awal ayat di surat al Ahzab (33) ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ الأية.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu..” (quran.kemenag.go.id)

Kata jahiliah pada ayat ini disandarkan dengan kata tabarruj yang diartikan dengan cara berhiasa atau bertingkah laku.

Keempat, pada surat al Fath (48) ayat 26:

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Ketika orang-orang yang kafir menanamkan kesombongan dalam hati mereka (yaitu) kesombongan jahiliah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin; dan (Allah) mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (quran.kemenag.go.id)

Sedangkan pada ayat ini Allah subhānahu wa ta‘ālā menyandarkan kata jahiliah dengan kata kesombongan.

Dari empat ayat tersebut sejatinya membuat kita semakin memahami apa yang dimaksud dengan jahiliah di masa Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam diutus. Di antara tugas dakwah Rasulullah allallāhu ‘alaihi wa sallam yang teramat mulia, mengangkat derajat suatu bangsa, mengeluarkan mereka dari peradaban yang penuh dengan kebodohan (kejahiliahan) menuju sebuah peradaban yang memanusiakan manusia. Peradaban yang senantiasa memotivasi manusia untuk selalu optimis sebagai buah prasangka baiknya terhadap Allah. Peradaban yang meninggikan hukum Allah di atas hukum buatan manusia. Peradaban yang mengajarkan kepada manusia untuk bertingkah laku sesuai dengan ketinggian dan dengan kemuliaan Allah menciptakan manusia. Peradaban yang menjauhkan diri manusia dari kesombongan dan kebanggaan yang sangat jauh dari kepantasan seorang manusia. Peradaban tertinggi nan suci, yaitu sebuah peradaban yang membawa manusia untuk kembali kepada fitrahnya yang suci.

Peradaban suatu bangsa tidak akan meninggi tanpa pemaksimalan dalam proses memahamkan dan mendidik akar kata dari peradaban itu sendiri yaitu adab. Adab yang tertanam dalam diri seseorang akan menjadi benteng bagi dirinya untuk tidak masuk apalagi terjatuh ke dalam lubang kejahiliahan. Terlebih seorang pemimpin yang berhasil mewarnai masyarakatnya dengan adab-adab islami pasti akan membawa negeri dan masyarakatnya menggapai keberkahan dari Allah subhānahu wa ta‘ālā. Lingkup terkecil akan tetapi merupakan inti pendidikan adab adalah dalam lingkup keluarga. Para orang tua sebagai figur pertama dan utama bagi putra-putri mereka seyogyanya memberikan pendidikan adab sebelum mereka mengenal dunia lebih jauh.

Para ulama tidak sedikit yang menjelaskan tentang bagaimana pentingnya pendidikan adab bagi para penuntut ilmu sebelum mereka memulai untuk menimba ilmu, sewaktu menimba ilmu, bahkan ketika mengamalkan ilmu mereka di tengah-tengah masyarakat. Kita semakin menyadari akan kebutuhan kita semua untuk saling bersinergi dalam mewujudkan sebuah peradaban baru, peradaban islami yang dimulai dari lingkup terkecil sebuah keluarga, sekolah, yang hasilnya akan mampu mewarnai masyarakat dengan peradaban Islam yang mulia.

TAGS
#Abdul Wahid #Adab #Pendidikan Adab #Islamic School #Pendidikan
Login