Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Kadar dan Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Bina-Qurani-Kadar-dan-Waktu-Mengeluarkan-Zakat-Fithri
Kadar dan Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Zakat fithri merupakan perwujudan dari rasa kasih dan sayang kepada orang-orang fakir agar mereka tidak perlu meminta-minta kepada orang lain pada hari raya. Selain itu, untuk menyenangkan dan membuat mereka gembira di saat seluruh kaum muslimin bergembira menyambut hari raya, dan juga untuk membersihkan dan menyucikan diri dari dosa perbuatan sia-sia dan keji.

Berapa Kadar atau Ukuran yang Wajib Dikeluarkan pada Zakat Fithri?

Zakat fithri yang wajib dikeluarkan oleh setiap orang atalah ½ sha’ gandum, atau 1 sha’ kurma, anggur kering, sya’ir (sejenis gandum), beras, jagung, atau makanan pokok lainnya. Adapun untuk 1 sha’ sama dengan 4 mudd atau sekitar dua liter.

Diriwayatkan dari ‘Urwah bin az-Zubair, ia berkata, “Pada masa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, Asma’ binti Abi Bakar Raḍiallāhu ‘Anhumā biasa mengeluarkan zakat fithri berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ susu kering, atau satu sha’ anggur kering (kismis).” (HR. Bukhari Muslim)

Faidah:

Mayoritas ulama fiqih, selain Abu Hanifah, berpendapat tidak boleh mengganti bahan makanan untuk zakat fithri dengan nilai yang sama. Hukum asalnya, zakat fithri harus dikeluarkan dalam bentuk makanan yang disebutkan dalam hadits dan tidak boleh diganti dengan uang tunai yang senilai dengannya kecuali jika ada alasan darurat, kebutuhan mendesak atau untuk kemaslahatan.

Maka dalam kondisi tersebut boleh diganti dengan uang tunai. Wallahu a’lam.

Bina-Qurani-Kadar-dan-Waktu-Mengeluarkan-Zakat-Fithri

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Kadar dan Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri, Source: Photo by Pixabay Pexels

Kapan Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri?

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā, ia berkata, “Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan agar akat fithri dikeluarkan sebelum orang-orang atau kaum muslimin keluar rumah untuk mengerjakan shalat ‘Ied.” (HR. Bukhari Muslim)

Namun demikian, zakat fithri boleh dikeluarkan satu atau dua hari sebelum hari raya. Nafi’ berkata, “Ibnu ‘Umar memberikan zakat fithri kepada orang-orang yang layak menerimanya. Para shahabat biasa mengeluarkan zakat fithri datu atau dua hari sebelum hari raya.” (HR. Bukhari)

Akan tetapi, penyaluran zakat fithri tidak boleh ditunda hingga selesai shalat hari raya. Orang yang menyalurkannya setelah shalat hari raya dianggap telah mengeluarkan sedekah biasa, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Raḍiallāhu ‘Anhumā, ia berkata:

“Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mewajibkan zakat fithri untuk membersihkan orang yang berpuasa dari dosa perbuatan keji dan sia-sia, dan memberikan makan kepada orang-orang miskin. Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ‘Ied, maka zakatnya diterima, dan barangsiapa yang mengeluarkannya setelah shalat ‘Ied, maka ia dianggap sedekah biasa.” (HR. Abu Daud)

Para ulama telah sepakat bahwa kewajiban membayar zakat fithri tidak gugur meskipun batas waktu yang ditentukan telah habis. Alasannya, karena zakat fithri merupakan kewajiban yang harus ditunaikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Zakat fithri yang tidak dibayar adalah hutang yang tidak akan lunas sebelum dibayarkan kepada orang yang berhak menerimanya, karena zakat fithri adalah hak seorang hamba atau merupakan kewajiban seseorang kepada orang lain. Adapun hak Allah jika waktunya telah berlalu, tidak dapat diganti kecuali dengan istighfar atau memohon ampun dan menyesalinya.

Wallahu a’lam.

Zakat fithri hanya diberikan kepada para fakir dan miskin dan tidak diberikan kepada semua orang yang berhak menerima zakat. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas di atas yang menjelaskan bahwa zakat fithri dikeluarkan untuk memberikan makan kepada orang-orang miskin. Ini adalah pendapat madzhab Malik dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Bina-Qurani-Kadar-dan-Waktu-Mengeluarkan-Zakat-Fithri

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Kadar dan Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri, Source: Photo by GS Image

Kepada Siapa Zakat Fithri Diwajibakan?

Zakat fithri wajib dikelurakan oleh setiap muslim yang merdeka dan memiliki kelebihan makanan untuk diri dan keluarganya pada malam hari raya dan keesikan harinya. Orang seperti ini wajib mengelurakan zakat fithri untuk dirinya daon orang-orang yang berada di bawah tanggungannya atau yang wajib ia nafkahi, seperti isteri, anak-anak, dan pembantunya jika mereka semua beragama Islam.

Faidah:

1. Jumhur ulama seperti Malik, Asy-Syafi’I, Al-Laits, Ahmad, dan Ishaq berpendapat bawha suami harus membayarkan zakat isterinya sebagai bagian dari nafkah.

Sementara beberapa ulama lain seperti Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa isteri harus mengeluarkan zakatn fithri dari hartanya sendiri. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu ‘Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā yang telah disebutkan di atas:

“Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada setiap muslim, baik hamba sahaya maupun orang merdeka, laki-laki maupun wanita, anak kecil maupun dewasa. Beliau menyuruh mengeluarkannya sebelum kaum muslimin berangkat untuk mengerjakan shalat ‘Ied atau hari raya.” (HR. Bukhari Muslim)

Wallahu a’lam.

2. Seorang suami tidak wajib mengeluarkan zakat isterinya yang belum ia campuri atau belum berjima’, karena dalam kondisi tersebut ia tidak wajib memberi nafkah kepadanya.

3. Jika seorang isteri yang melakukan nusyuz atau pembangkangan kepada suaminya pada saat pembayaran zakat fithri, maka suami tidak berkewajiban membayarkan zakat fithri isterinya tersebut. Sang isteri sendirilah yang wajib membayar zakatnya.

4. Jika isteri adalah wanita ahlul kitab atau non-muslim, maka suami tidak wajib mengeluarkan zakat fithri untuknya, karena Nabu Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada setiap muslim …” (HR. Bukhari Muslim)

Dikutip dari: Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ Wama Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin min Ahkam. Edisi terjemah: Alih Bahasa M. Taqdir Arsyad, Fikih Sunnah Wanita Panduan Lengkap Wanita Muslimah, (Bogor: Griya Ilmu, 2019), 283-284.

Thumbnail Source: Photo by GS Image

Artikel Terkait:
Orang yang Berhak Menerima Zakat

TAGS
#ihlas beramal #ikhlas beramal shalih #ikhlas beramal #ikhlas dalam beramal #ikhlas dalam beribadah #ikhlas ketika shalat #ikhlas #kiat-kiat ikhlas #niat yang ikhlas #pengertian ikhlas #pentingnya ikhlas beramal #urgensi ikhlas dalam islam
© 2021 BQ Islamic Boarding School, All Rights reserved
Login