Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Kandungan Asmaul Husna

Bina-Qurani-Kandungan-Asmaul-Husna
Kandungan Asmaul Husna

Nama-nama yang mulia ini bukanlah sekedar nama kosong yang tidak mengandung makna dan sifat. Justru ia adalah nama-nama yang menunjukkan kepada makna yang mulia dan sifat yang agung.

Setiap nama menunjukkan kepada sifat. Maka nama Ar-rahman dan Ar-Rahim menunjukkan sifat rahmah. As-Sami’ dan Al-bashir menunjukkan sifat mendengar dan melihat. Al-‘Alim menunjukkan sifat ilmu yang luas, Al-Karim menunjukkan sifat karam (dermawan dan mulia). Al-Khaliq menunjukkan Dia menciptakan. Dan Ar-Razzaq menunjukkan Dia memberi rezeki dengan jumlah yang banyak sekali. Begitulah seterusnya, setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan sifat dari sifat-sifat-Nya.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap nama dari nama-nama-Nya menunjukkan kepada Dzat yang disebutnya dan sifat yang dikandungnya, seperti Al-‘Alim menunjukkan Dzat dan ilmu, Al-Qodir menunjukkan Dzat dan qudrah, Ar-Rahim menunjukkan Dzat dan sifat rahmat.

Bina-Qurani-Kandungan-Asmaul-Husna

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Kandungan Asmaul Husna, Source: Photo by Anis Coquelet from Unsplash

Ibnu Qayyim menyatakan bahwa nama-nama Rabb Subḥānahu Wa Ta’ālā menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, karena ia diambil dari sifat-sifat-Nya. Jadi ia adalah nama sekaligus sifat dan karena itulah ia menjadi husna. Sebab andaikata ia hanyalah lafal-lafal yang tak bermakna maka:

  • Tidaklah disebut husna.
  • Tidak menunjukkan kepada pujian dan kesempurnaan.
  • Jika demikian tentu diperbolehkan meletakkan nama intiqam atau balas dendam dan ghadhab atau marah pada tempat rahmat dan ihsan atau sebaliknya. Sehingga boleh dikatakan, “Ya Allah, sesungguhnya saya telah menzhalimi diri sendiri, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya Engkau adalah Al-Muntaqim (Maha Membalas Dendam). Ya Allah anugerahilah saya, karena sesungguhnya engkau adalah Adh-Dharr (Yang Memberi Madharat) dan Al Mani’ (Yang Menolak) …” dan yang semacamnya.
  • Lagi pula kalau tidak menunjukkan arti dan sifat, tentu tidak diperbolehkan memberi kabar dengan masdar-masdarnya dan tidak boleh menyifati dengannya. Tetapi kenyataannya Allah sendiri telah mengabarkan tentang Diri-Nya dengan masdar-masdar-Nya dan menetapkannya untuk Diri-Nya dan telah ditetapkan oleh Rasul-Nya untuk-Nya.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58)

Artinya:

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

Dari sini diketahui bahwa Al-Qawiy adalah salah satu nama-nama-Nya yang bermakna “Dia yang Mempunyai Kekuatan.”

Bina-Qurani-Kandungan-Asmaul-Husna

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Kandungan Asmaul Husna, Source: Photo by Abdullah Oguk from Unsplash

Begitu pula firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā,

فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

Artinya:

“Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathir [35]: 10)

ألعزيز adalah Yang Memiliki Izzah atau kemuliaan. Seandainya tidak memiliki kekuatan dan izzah maka tidak boleh dinamakan ألعزيز atau ألقوي.

Seandainya asma-Nya tidak mengandung makna dan sifat, maka tidak boleh mengabari tentang Allah dengan fi’il atau kata kerjanya. Maka tidak boleh dikatakan Dia mendengar, Dia melihat, Dia mengetahui, Dia berkuasa, dan Dia berkehendak.

Karena tetapnya hukum-hukum sifat adalah satu cabang dari ketetapan sifat-sifat itu. Jika pangkal sifat tidak ada, maka mustahil adanya ketetapan hukumnya.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 77-78.

Thumbnail Source: Photo by Abdullah Oguk from Unsplash

Artikel Terkait:
Tauhid Uluhiyah

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login