Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Ketuhanan Yang Maha Esa

Bina-Qurani-Ketuhanan-Yang-Maha-Esa
Ketuhanan Yang Maha Esa

Pancasila merupakan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sila pertama Pancasila yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sila yang menjadi acuan dari sila pertama hingga sila kelima. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan bahwa sebegitu kuatnya dimensi ketuhanan dalam pemikiran para founding fathers dalam mendirikan negara.

Menurut catatan sejarah, rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sebuah rumusan yang didapatkan oleh Soekarno saat berkunjung ke Syekh Abbas Abdullah. Syekh Abbas Abdullah merupakan seorang ulama pejuang di Padang Japang, Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada masa transisi dari era penjajahan Belanda ke penjajahan Jepang.

Rumusan sila Ketuhanan yang Maha Esa kemudian disepakati dan ditempatkan sebagai sila pertama Pancasila. Sebagai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan nafas sekaligus ruh bagi keseluruhan sila yang di dalam butir-butir Pancasila.

Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sesuatu yang abadi, kekal, tidak berubah-ubah, tidak dapat dipengaruhi oleh manusia, dan tidak pula tunduk pada kemauan dan keinginan manusia. Oleh karenanya, rumusan ini dijadikan sebagai landasan yang paling kokoh dan utama bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bina-Qurani-Ketuhanan-Yang-Maha-Esa

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Ketuhanan Yang Maha Esa, Source: Photo by Lensa Indonesia

Makna Ketuhanan Yang Maha Esa

Kandungan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sebuah pengakuan yang tegas akan adanya eksistensi Tuhan sebagai Sang Pencipta langit dan bumi. Nilai sila pertama dalam Pancasila menunjukan bahwa eksistensi sebuah negara, bangsa, dan manusia Indonesia merupakan wujud dari ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini merupakan dasar moral yang menentukan pola dasar bagi seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam Pancasila, nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dimaknai sebagai nilai tertinggi karena menyangkut nilai-nilai yang bersifat mutlak. Seluruh nilai-nilai kebaikan, merupakan turunan dari nilai ini. Pada bacaan Pancasila juga disebutkan bahwa ketuhanan merupakan suatu prinsip yang harus dipegang teguh dalam mewujudkan paham kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai watak kebangsaan Indonesia.

Drs. Mohammad Hatta yang merupakan seorang negarawan serta ekonom Indonesia dan menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama, mengatakan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan pemimpin. Sila ketuhanan ini menjadi dasar yang memimpin kepada jalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran, dan persaudaraan.

Bung Hatta juga mengatakan bahwa, sila ketuhanan mengajak bangsa Indonesia untuk senantiasa menjaga dan mengembangkan etika sosial dalam kehidupan publik-politik dengan memupuk rasa kemanusiaan dan persatuan, serta mengembangkan permusyawaratan dan keadilan sosial.

Bina-Qurani-Ketuhanan-Yang-Maha-Esa

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Ketuhanan Yang Maha Esa, Source: Photo by Lonely Planet

Selain itu, beberapa ahli juga mengemukakan pandangannya tentang makna Ketuhanan Yang Maha Esa dalam tubuh Pancasila. Berikut ini beberapa pandangan para ahli tentang makna sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”:

1. Hazairin

Hazairin juga mengemukakan pandangannya terkait rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila. Menurut Hazairin, sila Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sila yang mempunyai posisi paling istimewa dibandingkan dengan sila-sila yang lainnya. Hal ini dikarenakan Ketuhanan Yang Maha Esa bukan merupakan hasil dari kebudayaan manusia.

Hazairin berpendapat bahwa, Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan sesuatu yang abadi, kekal, tidak dapat berubah dan dirubah, tidak dapat dipengaruhi, dan tidak pula dapat ditundukkan pada kemauan dan keinginan manusia.

2. Jimly Asshiddiqie

Menurut Jimly, sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” merupakan sila pertama dan utama yang menerangi keempat sila lainnya. Dorongan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi penentu derajat dan kualitas kemanusiaan seseorang di antara sesama manusia.

Sehingga, perikehidupan bermasyarakat dan bernegara dapat tumbuh sehat dalam struktur kehidupan yang adil, dan kualitas peradaban bangsa dapat berkembang secara terhormat di antara bangsa-bangsa lain di bawah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila menunjukkan bahwa agama yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia adalah agama Islam. Namun adanya sila pertama ini bangsa Indonesia dituntut untuk mewujudkan kesatuan Republik Indonesia tanpa menyampingkan agama-agama selain Islam yang ada di Indonesia.

Bina-Qurani-Ketuhanan-Yang-Maha-Esa

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Ketuhanan Yang Maha Esa, Source: Photo by Gizem Mat from Pexels

Makna Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Perspektif Islam

Ketuhanan Yang Maha Esa dalam perspektif islam dimaknai sebagai wujud tauhid dan pengesaan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, yaitu satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diibadahi.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini sejalan dengan firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā di dalam Alquran yang berbunyi,

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ (163)

Artinya:

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [02]: 163)

Selain itu, sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam perspektif Islam juga memiliki peranan penting dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang menjadikan agama sebagai landasan utamanya. Sebagai bangsa yang mayoritasnya beragama Islam maka landasan Ketuhanan Yang Maha Esa dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Meski demikian, sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga harus mampu menjadi tonggak persatuan seluruh bangsa, tanpa mengesampingkan agama-agama lain. Sehingga, terwujudlah “Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghaffur”, yaitu negara yang mendapatkan ampunan dan rahmat dari Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.

Thumbnail Source: Photo by Wallpaper Cave

Artikel Terkait:
Nilai-nilai Pancasila

TAGS
#Batas Wilayah Indonesia #Indonesia #Lambang Sila Pertama #Olimpiade Tokyo 2020 #Pancasila #Pendiri Paskibraka #PPKM Level 4 #Rumah Adat Kalimantan #Rumah Adat #Sejarah
Login