Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Kisah Nabi Adam dan Model Pendidikan Keluarga

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Sebagai bapak manusia, Nabi Adam ̒alaih al-salām adalah peletak dasar pertama dalam prototipe dunia pendidikan. Bahkan jika tidak berlebihan, gelar bapak pendidikan dunia adalah Nabi Adam. Dalam Alquran lebih dari 25 ayat menjelaskan tentang kisah Nabi Adam dan tentunya banyak sekali disebutkan dalam sabda Rasulullah alallāhu ̒alaihi wasallam. Baik ayat dan juga hadis yang memuat kisah Nabi Adam terdapat banyak model pendidikan yang telah dicontohkan untuk menjadi model pembelajaran kita yang tidak lain adalah keturunannya. Hal ini tidak lain karena Nabi Adam tidaklah diwafatkan Allah Ta’ala kecuali saat usia beliau 960 tahun dengan dikaruniai anak, cucu dan cicit serta keturunannya sampai 400 ribu jiwa dan beliau sukses mendidik mereka. (Kisah Para Nabi, 2008).

Model pendidikan terpenting yang Nabi Adam ajarkan di antaranya adalah terkait metode pembelajaran terhadap keluarga. Hal ini tidak lain karena keluarga adalah sebab terbesar kebahagiaan dan tanggung jawab yang harus selalu diprioritaskan. Ketentraman dan kenyamanan hidup akan lebih terasa jika keluarga terkondisikan. Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tidak memiliki masalah tetapi keluarga bahagia adalah keluarga yang bijak menyikapi masalah. Dalam hal ini, Nabi Adam telah membuktikannya dengan model pendidikan yang telah diajarkan. Berikut ini beberapa metode pendidikan yang terinspirasi dari kisah Nabi Adam yang dapat menjadi model bagi pendidikan keluarga:

Pertama, keteladanan. Saat ini, tidak sedikit di antara kita yang mengetahui kebaikan namun sedikit sekali yang mengaplikasikannya, bahkan bertolak belakang dari teori kebaikan yang diketahui. Nabi Adam mengetahui kebaikan dan memberikan teladan yang baik terhadap keluarganya. Di antaranya teladan berupa ketaatan terhadap Allah (QS. Al-Nisa [4]: 1), teladan dalam kejujuran (QS. Al-Hijr [15]: 26-44), teladan dalam kesabaran menghadapi ujian, hukuman dan mendidik (QS. Al-Baqarah [2]: 30-39), teladan dalam kerendahan hati (QS. Al-Isra [17]: 61-65), dan lain-lain.

Kedua, metode deduktif (memberitahukan secara global). Metode ini terimplementasikan saat Nabi Adam mengajarkan malaikat tentang nama-nama (QS. Al-Baqarah [2]: 33) dan saat Nabi Adam memerintahkan anaknya untuk berkurban (QS. Al-Maidah [5]: 27). Tujuan dari metode ini tidak lain adalah agar keluarga tidak merasa berat dengan hal detail sehingga sulit untuk dilaksanakan.

Ketiga, Metode memberikan kemudahan (taysīr). Nabi Adam memudahkan anaknya ketika berkurban tanpa mempersulit mereka dengan jenis kurban tertentu (QS. Al-Maidah [5]: 27). Hanya sayangnya Qabil yang petani memberi kurban yang buruk berupa gandum yang jelek dan Habil memberi kurban terbaik berupa kambing muda yang gemuk dan inilah yang diterima Allah dan diangkat ke surga lalu menjadi kambing yang diturunkan di masa Nabi Ibrahim saat menggantikan Nabi Ismail sebagai sembelihan. (Tafsīr Al-Baghawī, 2000). Metode ini mulai luntur dalam diri para orang tua. Banyak yang mempersulit anaknya seperti penekanan dalam cita-cita tertentu yang bertolak belakang dengan keinginan anak, mengerjakan sesuatu yang di atas kemampuannya dan memaksa anak memahami perkara tertentu yang tidak seimbang dengan usianya.

Inilah beberapa metode yang menjadi model pendidikan keluarga Nabi Adam  ̒alaih al-salām yang bisa kita teladani sebagai anak keturunannya. Karena tidak akan sukses kita mendidik keluarga kecuali setelah meneladani pendahulu kita yang telah sukses mendidik keluarga baik dari kalangan para nabi, sahabat, dan para ulama.

TAGS
#Fitri Priyanto #Model Pendidikan #Pendidikan Keluarga #Sejarah
Login