Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Larangan Bicara Takdir Terlalu Detail

Bina-Qurani-Larangan-Bicara-Takdir-Terlalu-Detail
Larangan Bicara Takdir Terlalu Detail

Beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk termasuk rukun iman. Takdir adalah aturan tauhid. Sedangkan iman kepada sebab-sebab yang menghantar pada takdir baik dan buruk adalah aturan syariat. Perkara dunia dan agama tidak akan lurus dan benar tanpa iman kepada tauhid dan syariat.

Demikianlah yang ditegaskan oleh Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam kepada seorang sahabat yang bertanya kepada beliau, “Kenapa kita tidak pasrah saja kepada ketentuan yang telah ditetapkan bagi kita dan tidak usah beramal?” Beliau menjawab, “Beramallah kalian! Sebab, semua pasti akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan mereka yang akan mendapatkan kebahagiaan. Dan orang-orang yang sengsara (ahli neraka) akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan mereka yang akan mendapat kesengsaraan.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)

Artinya:

“Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.” (QS. Al-Lail: 5-10)

Bina-Qurani-Larangan-Bicara-Takdir-Terlalu-Detail

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Larangan Bicara Takdir Terlalu Detail, Source: Photo by AWS Image

Sabda Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Salla mini memerintahkan kita untuk beramal dan melarang kita pasrah. Amalan yang dilakukan manusia menunjukkan bahwa hal itu sebelumnya telah dikehendaki dan ditakdirkan Allah baginya. Dia-lah pencipta sebab dan akibat juga pencipta segala sesuatu. Zat yang tidak akan ditanyai tentang apa yang Dia perbuat.

Takdir adalah rahasia Allah. Dia tidak memberitahukannya kepada malaikat yang terdekat atau seorang Nabi yang diutus. Ada banyak nash yang menerangkan masalah takdir. Sebagian telah disebutkan dalam pembahasan tingkatan takdir. Sebagian dari dalil-dalil itu ada menafikkan kezhaliman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Seperti firman-Nya:

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ (76)

Artinya:

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Az-Zukhruf: 76)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (44)

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” (QS. Yunus: 44)

Di antara dalil-dalil itu ada pula yang menetapkan kemampuan dan kehendak serta menyandarkan perbuatan kepada hamba. Hal ini akan dijelaskan dlam pembahasan mengenai Mazhab Salaf dalam Qadha’ dan Qadar. Dari keterangan tersebut, dengan beragam tingkatan dapat mengerti sedikit banyak mengenai takdir.

Bina-Qurani-Larangan-Bicara-Takdir-Terlalu-Detail

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Larangan Bicara Takdir Terlalu Detail, Source: Photo by Alena D Pexels

Hal itu akan membimbing mereka untuk mengimani dan menerima semua yang Allah sembunyikan dari mereka. Suatu perkara ghaib yang diimani oleh orang-orang bertakwa yang menerima ilmu Allah yang sempurna, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dan ciptaan-Nya. Bila Dia berkehendak, pasi akan terjadi. Bila tidak, pasti juga tidak akan terjadi.

Rasul yang bijak dan perhatian terhadap umatnya telah mengingatkan hal itu kepada mereka. Karena hal tersebut dapat menghantarkan mereka pada jalan yang licin dan berbahaya. Beliau Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melarang mereka berbicara terlalu detail dalam masalah takdir.

Karena hal itu dapat memicu mereka untuk mengkiaskan atau menyamakan Allah dengan makhluk-Nya yang dapat diindera dan dilihat, yang sebagiannya menyebabkan timbulnya paham materialistik. Ini adalah jalan yang sangat berbahaya yang dapat menghantarkan manusia untuk menantang Allah, sang penguasa dan pengatur, serta menjerumuskan ke dalam kebingungan dan kesesatan.

Manusia akan mendapatkan ketenangan hati bila ia patuh, tidak terlalu mendalam ketika membicarakan takdir, dan menjadikan perintah syariat yang diperolehnya sebagai petunjuk yang membimbingnya untuk berserah diri dan rida terhadap sesuatu yang tidak diperolehnya.

Alquran juga memperhatikan masalah seperti ini, yakni masalah ruh. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (85)

Artinya:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Artinya, kalian hanya diberi sedikit pengetahuan mengenai ruh. Dangan ilmu yang sedikit itu, kalian tidak mungkin dapat mengetahui hakikat ruh. Kalian hanya mungkin mengetahui pengaruhnya saat ia berada di dalam jasad.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 300-302.

Thumbnail Source: Photo by AWS Image

Artikel Terkait:
Macam-macam Takdir

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Alquran 30 Juz #Cara Sholat Jenazah #Doa Selesai Sholat #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Memuliakan Orang Tua #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam
Login