Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Macam-Macam Air Menurut Fikih Mazhab Syafii

Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh, yaitu: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air embun.

Penjelasan

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa bersuci itu bisa dilakukan dengan setiap air  yang keluar dari bumi dan turun dari langit. Dasar bolehnya bersuci dengan air ini adalah firman Allah Subānahu Wa Ta’ālā:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk menyucikan kalian dengan hujan itu.” (QS. Al-Anfal [8]: 11)

Hadis riwayat Abu Hurairah Raiallāhu ‘Anhu, dia berkata bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah allallāhu ‘alaihi Wa sallam, “Ya Rasulullah, kami pernah berlayar di lautan dan membawa sedikit air. Jika kami berwudhu dengannya, kami akan kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut? Rasulullah allallāhu ‘alaihi Wa sallam menjawab:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Imam Hadis yang lima. Tirmizi berkata bahwa derajat hadis ini adalah hasan ahīh)

Halal bangkainya artinya adalah boleh dimakan binatang yang mati di dalamnya, seperti ikan dan selainnya, tanpa harus disembelih secara syar’i.

Kedudukan air itu dibagi menjadi empat; pertama, air yang suci menyucikan serta tidak makruh untuk bersuci. Air ini disebut juga air muthlaq. Kedua, air suci dan menyucikan yang makruh, yaitu air musyammas. Ketiga, air suci namun tidak menyucikan, yaitu musta’mal dan air yang berubah karena bercampur dengan benda-benda suci lainya. Keempat, Air najis, yaitu air yang bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah, atau mencapai dua qullah, namun berubah. Ukuran dua qullah berjumlah lima ratus liter Baghdad berdasarkan pendapat paling benar.

Penjelasan

(1). Dasar kesucian air muthlaq adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan selainya dari Abu Hurairah Raiallāhu ‘Anhu, dia berkata bahwa seorang Arab badui kencing di masjid kemudian orang menghampirinya untuk menghardiknya maka Nabi allallāhu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

دَعُوهُ وَأَهْرِيقُوا (وَهَرِيقُوا) عَلَى بَوْلِهِ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ أَوْ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

“Biarkanlah dia dan siramkanlah dengan seember air di tempat kencingnya itu. Sesungguhnya kalian diutus untuk menjadi orang orang yang memudahkan, bukan menjadi orang orang yang menyusahkan.”

(2). Air musyammas adalah air yang dipanaskan dalam bejana logam dengan memakai  panas matahari. Menurut sebuah pendapat, sebab kemakruhannya adalah karena bisa menyebabkan penyakit kusta atau lebih. Hukum makruhnya hanya berlaku jika digunakan untuk badan di negeri yang panas, seperti hijaz.

(3). Air musta’mal adalah air yang telah dipakai (bekas) untuk menghilangkan hadath. Dalil kesuciannya adalah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah allallāhu ‘alaihi Wa sallam mendatangiku  ketika aku sakit dan tak sadarkan diri beliau berwudhu dan menuangkan air bekas wudhunya kepadaku.”

Maksud hampir tak sadarkan diri adalah karena parahnya sakit yang diderita. Jika airnya tidak suci maka beliau tidak akan maka beliau tidak akan menuangkanya ke Jabir bin Abdillah.

Dalil bahwa air musta’mal tidak menyucikan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Musllim dan selainya dari Abu Hurairah Raiallāhu ‘Anhu bahwa Nabi allallāhu ‘alaihi Wa sallam bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mandi di air yang tergenang (tidak mengalir) ketika dalam keadaan junub.” Para sahabat bertanya, “Wahai Abu Hurairah, apa yang harus dilakukan?” dia menjawab, “Orang tersebut harus mengambil air seciduk demi seciduk.”

Hadis ini menunjukan bahwa mandi di air tersebut akan menghilangkan kesucianya. Jika hukumnya tidak seperti itu maka ia tidak akan dilarang. Hukum Wudhu dalam hal ini sama dengan hukum mandi karena hakikatnya sama, yaitu menghilangkan hadath.

(4). Termasuk air suci namun tidak mensucikan adalah air yang berubah karena bercampur dengan benda benda suci lainya. Benda suci disini maksudnya adalah benda yang biasanya tidak dibutuhkan oleh air dan tidak mungkin memisahkanya jika telah bercampur dengan air. Misalnya parfum misk, garam, dan lainya. Semuanya ini tidak menyucikan karena ia tidak dinamakan air lagi dalam keadaan seperti ini.

(5). Mengenai air yang jumlahnya tidak sampai 2 qullah, imam hadis yang lima meriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu, dia berkata: saya mendengar Rasulullah allallāhu ‘alaihi Wa sallam bersabda ketika beliau ditanya tentang air yang berada di padang pasir yang diminum oleh binatang-binatang ternak. Beliau menjawab, “Jika airnya mencapai dua qullah maka ia tidak mengandung najis” Dalam lafal Abu Dawud dikatakan “Ia tidak mengandung najis.”

Kesimpulanya hadis ini adalah jika air tidak sampai 2 qullah maka ia menjadi najis walaupun tidak berubah. Pemahaman ini ditunjukan oleh hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi allallāhu ‘alaihi Wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلاَ يَغْمِسْ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلاَثًا فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah memasukan tanganya ke dalam bejana sampai mencucinya tiga kali karena dia tidak tahu di mana tanganya bermalam.”

(6). Dalil najisnya air bercampur benda bercampur benda najis dan jumlahnya tidak sampai dua qullah atau mencapai dua qullah namun berubah adalah ijmak. Dikatakan dalam al-Majmu’ bahwa ibnul munzir mengatakan  “Para ulama bersepakat bahwa air yang sedikit atau banyak jika bercampur dengan najis, kemudian mengubah rasa, warna, atau baunya maka air itu najis.” Adapun hadis, “Air thahur (suci dan mensucikan) itu tidak menjadi najis oleh apapun kecuali  benda yang mengubah warna, rasa, atau baunya” Hadis ini dhaif sekali. Imam nawawi mengomentarinya “Tidak sah berhujjah dengan hadis ini.” Dia melanjutkan, “Imam Syafii menukil kedhaifannya dari ulama yang ahli dalam bidang hadis.”

(7). Dua qullah kira-kira sepadan dengan 190 liter atau luas kubus yang panjang sisinya 58 cm.

 

Dikutip dari: Muṣthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 10 – 13.

TAGS
#Abu Shuja' #Fikih #Mazhab Syafii
Login