Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Makna Iman

Bina-Qurani-Makna-Iman
Makna Iman

Secara etimologi, iman beratti pembenaran hati. Sedangkan secara terminologi, iman berarti pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Beginilah pendapat mayoritas alama.

Bahkan Imam Syafi’i Raḥimahullāh menceritakan bahwa ini adalah ijma’ para sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka yang bertemu dengan mereka dalam keadaan beriman.

Pembenaran dengan hati artinya menerima seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam. Pengakuan dengan lisan artinya, mengucap dua kalimat syahadat. Yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Pengamalan dengan anggota badan artinya, hati mengamalkannya dengan keyakinan, dan anggota badan mengamalkannya dengan melaksanakan ibadah.

Kaum salaf memasukkan amalan dalam kategori iman. Karenanya, iman dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan bertambah dan berkurangnya amalan.

Bina-Qurani-Makna-Iman

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Makna Iman, Source: Photo by Michael B Pexels

Dalil Kaum Salaf Tentang Amalan Sebagai Wujud Keimanan

Di antara dalil yang mendasari kaum salaf dalam hal ini sangat banyak, antara lain yaitu:

Firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā di dalam QS. Al Muddatsir ayat 31.

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا

Artinya:

“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan, ‘Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?’.” (QS. Al-Muddatstsir: 31)

Kemudian di surat lain Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā juga berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

Artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemeterlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka karenanya, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal. Yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya …” (QS. Al-Anfal: 2-4)

Bina-Qurani-Makna-Iman

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Makna Iman, Source: Photo by Moh Hassan Pixabay

Dalil selanjutnya yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dengan sanadnya, dari Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu. Ia berkata bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda yang artinya:

“Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling bawah tingkatannya ialah menyingkirkan bahaya seperti batu duri dan sejenisnya dari tengah jalan. Dan rasa malu termasuk cabang dari iman.

Dalam hadis lain juga Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Al-Khudri, ia berkata bahwa,

“Aku pernah mendengar Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia berusaha mengubahnya dengan tangannya. Bila tidak mampu maka dengan lisannya. Bila tidak mampu maka dengan hatinya. Dan itu adalah tanda iman yang paling lemah.”

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 147-149.

Thumbnail Source: Photo by Michael B Pexels

Artikel Terkait:
Iman Kepada Allah

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login