Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Makna Tauhid Asma Wa Sifat

Bina-Qurani-Makna-Tauhid-Asma-Wa-Sifat
Makna Tauhid Asma Wa Sifat

Makna tauhid asma wa sifat adalah beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang dijelaskan di dalam Alquran dan Sunnah Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menurut apa yang pantas bagi Allah, tanpa ta’wil, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11)

Artinya:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy-Syura [42]: 11)

Dalam ayat ini Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā menafikan adanya sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Melihat. Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh Rasul-Nya.

Alquran dan Assunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam.

Bina-Qurani-Makna-Tauhid-Asma-Wa-Sifat

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Makna Tauhid Asma Wa Sifat, Source: Photo by The Dancing Rain on Unsplash

Siapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, atau coba mena’wilkan dari mankanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman,

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (15)

Artinya:

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al-Kahfi [18]: 15)

Jalan Salafus Shalih dalam Asma dan Sifat Allah

Maksud salafus shalih adalah para sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in yang hidup pada kurun waktu yang diutamakan. Manhaj salaf dalam asma dan sifat Allah adalah mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia dating tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana), dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.

1. Imam Ahmad

Imam Ahman berkata, “Allah tidak disifati dengan sesuatu yang lebih banyak dari apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya.” Beliau juga mengatakan, “Ini adalah sifat-sifat Allah yang Dia sifatkan bagi Diri-Nya dan kita tidak menolaknya.”

2. Makhul dan Az-Zuhri

Makhul dan Az-Zuhri pernah ditanya tentang penjelasan hadis dalam persoalan sifat kemudian keduanya menjawab, “Perkara sifat sebagaimana yang disampaikan dalam hadis.”

Bina-Qurani-Makna-Tauhid-Asma-Wa-Sifat

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Makna Tauhid Asma Wa Sifat, Source: Photo by Michael Burrows from Pexels

3. Ali bin Al-Madini

Ali bin Al-Madini berkata, “Tidak ditanyakan mengapa dan kenapa, tetapi yang ada adalah pembenaran dan iman kepadanya, meskipun ia tidak tahu tafsir hadisnya. Hendaklah ia beriman dan tunduk.

4. Abu Zur’ah dan Abu Hatim

Abu Zur’ah dan Abu Hatim berkata, “Sesungguhnya Allah di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana yang Dia sifatkan bagi diri-Nya dalam Alquran dan dalam Sunnah Rasulullah tanpa bertanya kaifa; imunya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya dan Dia Maha Mendengar dan Melihat.

5. Sufyan Ats-Tsauri

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Ia sebagaimana disampaikan dalam nash, kita menetapkannya dan membicarakannya tanpa bertanya bagaimana.”

6. Abu Ubaid Al-Qasim

Abu Ubaid Al-Qasim berkata, “hadis-hadis tentang sifat Allah menurut kami adalah haq dan tidak ada keraguan di dalamnya. Namun, jika ditanyakan bagaimana Dia meletakkan kaki-Nya dan bagaimana Dia tertawa, maka kami jawab: Kita tida menafsirkan ini dan kami tidak mendengar seorangpun yang menafsirkannya.”

7. Ibnu Mubarak

Ibnu Mubarak berkata, “Engkau lalui sebagaimana ia dating tanpa bertanya bagaimana.”

Bina-Qurani-Makna-Tauhid-Asma-Wa-Sifat

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Makna Tauhid Asma Wa Sifat, Source: Photo by Dipin Das from Pexels

8. Hamad bin Salamh

Hamad bin Salamh berkata, “Siapa yang engkau lihat mengingkari hadis-hadis tentang sifat-sifat Allah ini maka curigailah agamanya.”

9. Yazid bin Harun

Yazid bin Harun berkata, “Siapa yang mendustakan hadis-hadis tentang sifat-sifat Allah maka dia berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya.”

10. Ibnu Qutaibah

Ibnu Qutaibah berkata, “Perkataan yang paling adil dalam hadis-hadis ini adalah kita beriman dengan yang shahih. Bahwa kita yakin dengan penglihatan dan Dia kagum, turun ke langit, di atas ‘arsy, dzat, dan kedua tangan. Namun, dalam masalah itu kita tidak mengatakan tata cara, Batasan, atau mengkiyaskan dengan apa yang tidak ada dalilnya. Kami berharap ucapan dan keyakinan tersebut menjadi jalan keselamatan besok, insyaAllah.”

11. Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah berkata, “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan denga napa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun para generasi pertama, serta tidak melampaui Alquran dan Al-Hadis.

Mazhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk diri-Nya dan dengan apa yang disifatkan oleh Rasul-Nya, tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 71-74.

Thumbnail Source: Photo by Pexels

Artikel Terkait:
Arti Al-Alim

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login