Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Mandi yang Disunahkan Menurut Mazhab Syafii

Mandi yang disunahkan ada tujuh belas, yaitu: (1). Mandi ketika akan mengerjakan salat Jumat, (2). Mandi ketika akan mengerjakan salat Idul Fitri, (3). Mandi ketika akan mengerjakan salat Idul Adha, (4). Mandi ketika akan mengerjakan salat istisqa’ (meminta hujan), (5). Mandi ketika akan mengerjakan salat khusuf (gerhana bulan) dan salat kusuf (gerhana matahari), (6). Mandi setelah memandikan jenazah, (7). Mandi bagi orang kafir setelah masuk Islam, (8). Mandi bagi orang yang sembuh dari gila, (9). Mandi bagi orang yang sadar dari pingsan, (10). Mandi ketika akan mengerjakan ihram, (11). Mandi ketika akan memasuki Mekah, (12). Mandi ketika wukuf di Arafah, (13). Mandi ketika akan mabit (bermalam) di Muzdalifah, (14). Mandi ketika akan melempar jumrah, (15). Mandi ketika akan mengerjakan thawaf, (16). Mandi ketika akan mengerjakan sa’i, (17). Mandi ketika akan memasuki Madinah Rasulullah. 

Penjelasan

1. Mengenai mandi ketika akan mengerjakan salat Jumat, Bukhari (837), Muslim (844), dan selain keduanya meriwayatkan dari Ibnu Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā, bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

“Jika salah seorang di antara kalian pergi untuk mengerjakan salat Jumat maka hendaknya dia mandi.”

Perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunah adalah berdasarkan hadits riwayat Trimidzi (497):

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ، وَمَنْ اغْتَسَلَ فَالغُسْلُ أَفْضَلُ

“Barangsiapa berwudu pada Jumat maka dia telah mengamalkan sunah dan itulah sebaik-baik sunah. Barangsiapa mandi maka mandi itu lebih baik.”

2. Mengenai mandi ketika akan mengerjakan salat ‘id, Imam Malik dalam Al-Muwaththa’ (1/177) meriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā mandi ketika Idul Fitri sebelum berangkat ke tempat salat. Idul Adha diqiyaskan dengan Idul Fitri.

3. Saya tidak mendapatkan dalil naqil tentang disunahkan mandi ketika akan mengerjakan salat istisqa’, khusuf, maupun khusuf. Mungkin, para ulama menganggapnya sunah dengan cara menqiyaskannya dengan hari Jumat dan dua hari raya karena maknanya sama, yaitu dari sisi berjamaah dan orang-orang berkumpul untuk melaksanakannya.

4. Mengenai mandi setelah memandikan jenazah, Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan dari Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

مَنْ غَسَّلَ الْمَيِّتَ فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa memandikan mayat maka hendaklah dia mandi. Barangsiapa memikulnya maka hendaklah berwudu.”

Hadis ini diriwayatkan oleh imam hadis yang lima dan dinilai hasan oleh Trimidzi (933). Perubahan hukumnya dari wajib menjadi sunah adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh hakim (1/387):

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِي غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَّلْتُمُوهُ

“Kalian tidak harus mandi karena memandikan mayat kalian, yaitu jika kalian memandikannya.”

5. Mengenai mandi bagi orang kafir setelah masuk Islam, Abu Dawud (355) dan Tirmidzi (605) meriwayatkan dari Qais bin ‘Ashim, dia berkata:

أَتَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ الإِسْلاَمَ فَأَمَرَنِى أَنْ أَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Saya mendatangi Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam karena ingin masuk Islam. Beliau lalu memerintahku untuk mandi dengan air dan sidr, yaitu daun yang ditumbuk dari pohon tertentu.”

Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadis ini, “Hadis ini diamalkan menurut para ulama. Mereka menyatakan sunah untuk mandi dan mencuci pakainnya jika seorang laki-laki masuk Islam.”

Hukumnya mandi ini tidak wajib karena Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam tidak memerintahan setiap orang yang masuk Islam untuk mandi.

6. Dalil disunahkannya mandi bagi orang yang sadar dari pingsan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari (655) dan Muslim (418) dari Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā, dia berkata: Penyakit Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam parah. Beliau bertanya, ”Apakah orang-orang sudah salat?” Kami menjawab, ”Belum. Mereka menunggumu, wahai Rasulullah!” Beliau berkata, “Ambilkan untukku air sebaskom.” Aisyah melanjutkan ceritanya, maka kami pun melakukannya. Kemudian beliau mandi. Tatkala bangkit dengan susah payah, beliau pingsan. Setelah itu sadar kembali. Beliau bertanya,” Apakah orang-orang sudah salat?” Kami menjawab,” Belum. Mereka menunggumu,wahai Rasulullah!” Beliau berkata “Ambilkan untukku air sebaskom.” Aisyah melanjutkan ceritanya maka kami pun melakukannya. Kemudian beliau mandi. Tatkala bangkit dengan susah payah, beliau pingsan. Setelah itu sadar kembali.

Gila diqiyaskan dengan pingsan karena maknanya sama, bahkan gila lebih tinggi tingkatannya.

7. Mengenai mandi ketika akan mengerjakan ihram, Tirmidzi (830) meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melepas pakainnya untuk ihram dan mandi.

8. Mengenai mandi ketika akan memasuki Mekah, Bukhari (1478) dan Muslim (1259) meriwayat dari Ibnu Umar Raḍiallāhu ‘Anhumā bahwa jika berangkat ke Mekah, dia tidak akan bermalam kecuali di Dzu Thuwa sampai pagi hari dan mandi. Kemudian masuk ke Mekah Ketika siang hari. Ibnu Umar menyebutkan bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melakukan hal itu.

9. Mengenai mandi ketika akan wukuf di Arafah, Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwaththa’ (1/322) dari Ibnu Umar bahwa dia mandi karena ihram sebelum melakukan ihram karena memasuki Mekah dan wukuf pada sore hari di Arafah.

10. Pendapat yang paling benar adalah tidak disunahkan mandi ketika mabit di Muzdalifah. (Kitab an-Nihayah)

11. Pendapat yang dapat dijadikan sandaran adalah mandi untuk tawaf itu tidak disunnahkan. (Kitab Al-Iqna’)

Dikutip dari: Muthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 27-28.

TAGS
#Abu Shuja' #Fikih #Mandi Junub #Mazhab Syafii
Login