Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Masa Belajar, Kasih Sayang dan Nasihat

Bina-Qurani-Masa-Belajar-Kasih-Sayang-Nasihat

Masa Belajar, Kasih Sayang dan Nasihat

Ada yang mengatakan, “Masa belajar itu dari buaian hingga liang lahat.”

Al-Hasan bin Ziyad Raḥimahullāh memulai belajar fikih ketika berusia 80 tahun. Selama 40 tahun beliau tidak pernah tidur di atas ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti. Waktu terbaik untuk belajar adalah pada masa remaja, waktu sahur dan waktu antara maghrib dan isya’.

Namun begitu, seorang thalibul ilmi hendaknya menggunakan seluruh waktu yang ada untuk belajar, dan bila telah merasa bosan terhadap ilmu tertentu hendaknya ia belajar ilmu yang lainnya.

Ibnu Abbas Raḥimahullāh jika telah bosan berbicara, beliau berkata, “Bawakan ke sini kitab kumpulan syair-syair para pujangga syair!”

Muhammad bin Al-Hasan Raḥimahullāh tidak tidur pada malam hari, ia selalu menaruh buku-bukunya di dekatnya. Bila telah merasa bosan terhadap suatu ilmu, ia berpindah kepada ilmu yang lain. Ia pun menaruk segelas air di sampingnya, untuk menghilangkan kantuk. Dan beliau selalu mengatakan, “Tidur itu dari panas api maka harus didinginkan dengan air.

Bina-Qurani-Masa-Belajar-Kasih-Sayang-Nasihat

Source: Photo From Shutterstock Standard License Unlimited Web Distribution Bosnian

Kasih Sayang dan Nasihat

Orang yang berilmu hendaknya memiliki rasa kasih sayang, suka memberi nasihat dan tidak mendengki. Karena dengki itu tidak akan membawa manfaat, dan justru membahayakan diri sendiri.

Guru kami Syekhul Islam Burhanuddin Raḥimahullāh berkata,

“Banyak ulama yang berkata, ‘Putra seorang mualim dapat menjadi orang alim (berilmu); karena mualim itu selalu menginginkan murid-muridnya kelak menjadi ulama ahli Alquran. Lantaran keberkahan keyakinan, dan kasih sayangnya kepada murid-muridnya itulah maka putranya menjadi seorang alim’.”

Beliau Raḥimahullāh juga menceritakan bahwa Burhanu Al-A’immah Raḥimahullāh membagi waktu untuk menambah ilmu kedua orang putra beliau, yaitu As-Shadr Asy-Syahid Hisamuddin dan Sa’id Nashiruddin Raḥimahullāh pada waktu dhuha, setelah semua kegiatan mengajar dilakukan. Keduanya mengatakan, “Sesungguhnya kami merasa penat dan bosan pada waktu itu.” Sang ayah pun menyahut, “Sesungguhnya orang-orang perantauan dan putra-putra pembesar itu pada berdatangan kemari dari berbagai penjuru bumi. Karena itu, mereka harus kudahulukan pengajarannya.” Maka atas keberkahan sang ayah dan kasih sayangnya itulah, dua orang putra beliau menjadi orang yang alim dalam ilmu fikih yang melebihi ahli-ahli fikih lainnya yang hidup pada masa itu.

Selain itu, seorang alimhendaknya tidak usah turut melibatkan diri dalam pertikaian dan perdebatan sengit dengan orang lain karena hal itu hanya membuang-buang waktu saja. Dikatakan, “Orang yang berbuat kebajikan akan dibalas karena kebajikannya, sedangkan pelaku keburukan itu telah cukup keburukannya memberatkannya.”

Bina-Qurani-Masa-Belajar-Kasih-Sayang-Nasihat

Source: Photo From Shutterstock Standard License Unlimited Web Distribution Akkalak Aiempradit

Syekh Al-Imam Az-Zahid Al-‘Arif Ruknul Islam Muhammad bin Abu Bakar yang masyhur dengan gelar Khawahir Zadah (Mufri Al-Fariqaini) Raḥimahullāh beliau mengabarkan kepadaku, beliau berkata bahwa Sulthanu Asy-Syari’yah wa (Ath-Thariqah) Yusuf Al-Hamadani Raḥimahullāh membawakan untukku syair berikut ini:

Biarkan dia, jangan membalas perbuatan jeleknya atas dirimu
Cukuplah apa yang ia lakukan dan kelakuan itu menimpa dirinya.

Dikatakan, “Siapa yang mematahkan batang hidung (membuat geram) lawannya, maka hendaknya ia mengulang-ulang pelajarannya.”

Dibawakan syair untukku:

Jikalau engkau ingin melihat musuhmu geram
Terbunuh oleh kegelisahan, terbakar oleh kesedihan
Maka capailah kemuliaan dan tambahlah ilmu
Sebab, siapa yang ilmunya bertambah maka pendengkinya semakin gelisah

Dikatakan: Yang harus kamu lakukan adalah mencari kemaslahatan untuk dirimu sendiri, bukan mengalahkan lawanmu. Jika telah kau penuhi dirimu dangan kebaikan, itu sudah cukup menjamin untuk mengalahkan musuhmu.

Jangan sampai ada permusuhan karena hal itu akan membuka aib-aibmu dan hanya membuang-buang waktu. Tahanlah dirimu, terutama dalam menghadapi orang bodoh. Isa bin Masyam mengatakan, “Sabarkanlah dirimu dalam menghadapi orang bodoh satu, agar kau mendapat keuntungan (sepuluh).”

Dalam syair disebutkan:

Abad demi abad aku telah menguji umat manusia
Maka tidak akan aku dappati melainkan pengkhianatan dan kejengkelan
Tidak kulihat ada perkara yang lebih menyusahkan
Yang menyulitkan, selain memusuhi orang-orang
Telah kurasakan segala apa yang pahit rasanya
Namun tidak ada yang melebihi pahitnya meminta

Janganlah berburuk sangka kepada sesama orang mukmin karena di situlah sumber permusuhan. Di dalam agama Islam, perbuatan itu (berburuk sangka) tidak dihalalkan, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Berbaik sangkalah kepada sesama mukmin.”

Bina-Qurani-Masa-Belajar-Kasih-Sayang-Nasihat

Source Photo From Freepik

Berburuk sangka itu muncul karena niatan yang tidak baik, atau hati yang jahat. Sebagaimana syair yang dikemukakan oleh Abu Bakar At-Thayib Raḥimahullāh:

Apabila perbuatan seseorang itu buruk maka buruk pula prasangkanya
Ia akan membenarkan apa yang selalu dikatakan sangkaannya
Ia musuhi orang yang mencintainya, dengan perkataan musuhnya
Hingga di malam harinya nan gelap ia ragu dan bimbang.

Syair sebagian ulama dibawakan untukku:

Biarkan saja perilaku buruk, tak usah kau balas
Dan siapa yang kau bagusi, tambahlah terus
Dari semua tipu musuhmu, kau kan dillindungi
Jikalau musuh menipu kamu, janganlah kau peduli

Dibawakan untukku, syairnya Syekh Al-Amid Abu Al-fathi Al-Bustiy Raḥimahullāh;

Orang alim tak akan selamat dari si bodoh
Karena si bodoh akan menggiringnya pada kezaliman dan menjerumuskannya
Pilih berdamai saja dengan si bodoh daripada memeranginya
Agar diam berbalas diam.

Dikutip dari: Imam Az-Zarnuji, Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum. Edisi terjemah: Alih Bahasa Abdurrahman Azzam, Ta’limul Muta’alim Pentingnya Adab Sebelum Ilmu, (Solo: Aqwam, 2019), 127-135.

Thumbnail Source: Photo From Shutterstock Standard License Unlimited Web Distribution

Artikel Terkait
Bertawakal dalam Menuntut Ilmu

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #adab-adab menuntut ilmu #Definisi Ilmu #Fadilah Ilmu #ilmu bekal terbaik #ilmu fikih
Login