Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Melejitkan Kualitas Sekolah Islam

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Secara sosio-historis dan sosio-kultural tahapan demi tahapan dalam pendidikan Islam mengalami perkembangan dari model yang sangat sederhana sampai kepada model yang relatif modern. Fenomena perkembangan pemikiran pembaharuan pendidikan Islam ini terjadi tidak lain karena pengaruh faktor internal dan juga eksternal yang berhubungan dengan tuntutan kultural yang dihadapi. (Pendidikan Islam di Indonesia, 2007).

Menurut data, jumlah pondok pesantren (Ponpes) yang merupakan salah satu model pendidikan sekolah islam berdasarkan data Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama pada Tahun 2016 sebanyak 28.194 Ponpes dengan jumlah santri sejumlah 3.464.334 santri. (Republika.co.id, 2017). Lalu pada tahun 2018 jumlah ini meningkat hingga mencapai 28.984 Ponpes dan jumlah santrinya mencapai 4.290.626. (pendis.kemenag.go.id, 2018).

Di jumlah yang cukup signifikan tersebut, tentunya harus ditentukan dasar kesuksesan suatu pesantren. Dari sisi mana tolak ukur kesuksesan Ponpes tersebut. Apakah dari manajemennya, SDM pendidiknya, fasilitas sarana dan sarananya, atau peran alumninya. Bukankah kita melihat sejarah peran santri Ponpes terhadap bangsa ini begitu luar biasa seperti dalam kemerdekaan misalnya yang ikut serta memerdekakan negara ini. (eramuslim.com). Belum lagi peran santri ponpes dalam kancah internasional dalam berbagai bidang seperti Olimpiade Matematika Internasional, Musabaqah Internasional, Kompetisi Sains Internasional, dan lainnya yang sangat mengharumkan nama bangsa Indonesia. (Republika.co.id).

Ini semua hanyalah sekelumit bukti bahwa santri Ponpes dan sekolah Islam lainnya memiliki potensi besar dalam prestasi tidak hanya di ajang yang bersifat lokal tapi juga internasional. Para pendidik harus mendongkrak gaya klasik pesantren tradisional yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan Islam di Ponpes. Lebih dari itu saat ini tantangan pendidikan semakin dahsyat tidak seperti tantangan yang terjadi pada pendidikan Islam di masa klasik. Seharusnya pendidik ‘melek mata’ terhadap tantangan masa kini dan masa depan peserta didik.

Selain gaya lama yang tidak sesuai realita, menurut Muhaimin lemahnya kualitas Ponpes terletak pada orientasinya yang belajar agama saja, kurang concern terhadap persoalan bagaimana bagaimana pengetahuan agama yang kognitif menjadi makna dan nilai yang diinternalisasikan dalam diri santri. Pendidik juga tidak boleh mencukupkan dirinya hanya kepada gelar lalu berbangga namun harus tetap mengkaji, meneliti dan terus belajar agar pemahaman pendidik semakin luas, kemudian menyusun materi pembelajaran pun tepat dan memiliki metodologi yang mudah difahami santri. (Wacana Pengembangan Pendidikan Islam, 2003).

Hal-hal yang dapat melemahkan kekuatan sekolah Islam diatas harus disadari dan diterapi sedini mungkin. Karena pendidikan Islam baik secara intelektual ataupun institusional dalam posisi ‘terisolasi’ dari dinamika perkembangan dunia yang luas. Pendidikan Islam harus segera outward looking, yakni memahami perkembangan luar dalam dunia pendidikan lalu mengantisipasinya dengan perbaikan dan inovasi kedalam. Bukan mengekslusifkan lembaga pendidikan dan santrinya. Bangun keberanian dalam membongkar sistem pendidikan yang berkesan dikotomi, hegemonik, dan membelenggu menuju pendidikan yang kritis, kreatif, mencerdaskan, memberdayakan, dan memerdekakan. (Dinamika Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia, 2016).

Sudah waktunya pendidikan Islam meninggalkan pola pendidikan konvensional, merumuskan langkah strategis dan inovatif dalam menghantarkan santrinya tidak hanya kepada kesuksesan akademis namun juga berkarakter islami, kreatif dan berkah bagi orang tua, keluarga, warga dan bangsa.

TAGS
#Fitri Priyanto #Kiat Sukses #Kualitas Ponpes #Pesantren Unggulan
Login