Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Mengenal Ibn Khaldūn: Salah Satu Bapak Pendidikan Islam

Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Belum pernah didengar ada suatu masa yang di situ pendidikan tidak dibicarakan. Ini berlaku di semua negara dan di semua waktu. Pendidikan merupakan masalah yang tidak pernah selesai (unfinished agenda). Pendidikan selalu terasa tidak pernah memuaskan. Pendidikan selalu dibicarakan. Pendidikan bahkan selalu menjadi bahan perdebatan. (Ilmu Pendidikan Islami, 2006)

Berbicara tentang pendidikan, pasti akan berbenturan dengan para tokohnya. Telah banyak lahir ke dunia ini tokoh-tokoh pendidikan yang memiliki pengaruh dan kontribusi signifikan bagi kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. Di antara tokoh yang dikategorikan sebagai tokoh pendidikan Islam adalah Ibn Khaldūn.

Ibn Khaldūn dilahirkan di Tunisia pada bulan Ramadan 732 H di tengah-tengah keluarga ilmuwan dan terhormat yang berhasil menghimpun jabatan ilmiah dan pemerintahan. Dari lingkungan seperti ini Ibn Khaldūn memperoleh dua orientasi yang kuat : pertama, cinta belajar dan ilmu pengetahuan ; kedua, cinta jabatan dan pangkat.

Ayah Ibn Khaldūn yang bernama Abū Abdillāh Muḥammad juga berkecimpung dalam bidang politik, kemudian mengundurkan diri dari bidang politik dan menekuni bidang ilmu pengetahuan dan kesufian (Ibn Khaldūn, 1979). Beliau ahli dalam bahasa dan sastra arab. Meninggal dunia pada tahun 749 H akibat wabah Pes yang melanda Afrika Utara dengan meninggalkan lima orang anak termasuk Abd Al Rahman Ibn Khaldūn yang pada waktu itu berusia 18 tahun.

Ibn Khaldūn mengawali pendidikannya dengan membaca dan menghafal Alquran. Kemudian baru menimba berbagai ilmu dari guru-guru terkenal sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama dan sastrawan besar kota-kota di Timur dan Barat dilanda wabah Pes yang dahsyat pada tahun 749 H, sehingga Ibn Khaldūn kehilangan kedua orangtuanya dan beberapa orang gurunya, ia tidak dapat melanjutkan studinya dan akhirnya hijrah ke Maghrib.

Wafatnya kedua orang tua Ibn Khaldūn saat ia masih remaja merupakan salah satu yang dapat mengurangi keterikatannya terhadap keluarga dan tempat kediamannya serta membuka kesempatan baginya untuk berkelana dan terjun ke dunia pollitik di berbagai pelosok Maghrib (Maroko). (Mukaddimah, 2011).

Guru-guru Ibn Khaldūn

Ibn Khaldūn lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga ilmuwan yang terhormat. Ayahnya Abu Abdullah Muhammad adalah gurunya yang pertama. Darinya ia belajar membaca, menulis dan bahasa arab. Di antara guru-gurunya yang lain adalah Abū Abdillāh Muḥammad bin Sa’ad bin Burral Al Ansari, darinya ia belajar Alqur’an dan qiraat al Hasayiri, Muhammad Al Syawwasy al-Zarzali, ahmad ibnu Al Qassar dari mereka Ibn Khaldūn belajar bahasa arab. Disamping nama-nama di atas Ibn Khaldūn belajar bahasa arab. Disamping nama-nama di atas Ibn Khaldūn menyebut sejumlah ulama, seperti Syaikh Syamsudin Abu Abdullah Muhammad Al Wadiyasyi, darinya ia belajar ilmu-ilmu hadits, bahasa arab, fikih. Pada Abdullah Muhammad Ibnu Abussalam ia memperoleh kitab Al muwaththa’ karya Imam Malik.

Di antara guru-gurunya yang terkenal dan ikut serta membentuk kepribadian Ibn Khaldūn, Muhammad bin Sulaiman Al Satti ‘Abd Al Muhaimin, Muhammad bin Ibrahim Al Abili. Darinya ia belajar ilmu-ilmu pasti, logika dan seluruh ilmu (teknik) kebijakan dan pengajaran di samping dua ilmu pokok (Qur’an dan Hadits).

Namun demikian, Ibn Khaldūn meletakkan dua orang dari sejumlah guru-gurunya pada tempat yang istimewa, keduanya sangat berpengaruh terhadap pengetahuan bahasa, filsafat dan hukum islam, yaitu Syaikh Muhammad ibnu Ibrahim Al Abili dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh ‘Abd Al-Muhaimin ibn Al-Hadrami dalam ilmu-ilmu agama. Darinya Ibn Khaldūn mempelajari kitab-kitab hadits, seperti Al-Kutub Al-Sittah dan Al-Muwaṭṭa’. Pada usia 20 tahun, Ibn Khaldūn berhasil menamatkan pelajarannya dan memperoleh berbagai ijazah mengajar dari sebagian besar gurunya setelah ia menimba ilmu dari mereka. (Mukaddimah, 2011)

Murid-murid Ibn Khaldūn

Sebagai sosok ulama yang memilki kapabilitas ilmu yang komprehensif, tentu tidak sedikit kaum muslimin yang menimba ilmu darinya. Apalagi bila ditinjau sejarah perantauannya, maka posibilitas kuantitas murid yang ia miliki sangatlah besar.

Ibn Khaldūn mempunyai sejumlah besar murid, baik pada waktu ia mengajar di Tunisia di Universitas Al-Qasbah maupun pada waktu mengajar di Kairo (Al-Azhar dan tempat lain). Di antara murid-muridnya yang terpenting dan ternama antara lain :

  1. Sejarawan ulung Taqiyuddin Ahmad ibnu Ali Al-Maqrizi pengarang buku Al-Suluk Li Ma’rifah Duwal Al-Muluk. Pada buku ini, Al-Maqrizi mengungkapkan bahwa guru kami Abu Zaid Abd Al-Rahman Ibn Khaldūn datang dari negeri Maghrib dan mengajar di Al-Azhar serta mendapat sambutan baik dari masyarakat.
  2. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, seorang ahli hadits dan sejarawan terkenal (wafat 852 H). Dikabarkan bahwa ia sering mengadakan pertemuan dengan Ibn Khaldūn mendengar pelajaran-pelajaran yang berharga dan tentang karya-karyanya terutama tentang sejarah .

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Ibn Khaldūn dalam sejarah perjalanan akademiknya sangat mencintai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak aneh jika kemudia ia menjadi salah satu tokoh Islam yang diperhitungkan pandangan-pandangannya, terutama dalam bidang pendidikan.

TAGS
#Ade Wahidin #ibn khaldun #mengenal #Pendidikan Islam
Login