Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Menghidupkan Koperasi Pesantren Di Masa Pandemi

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Koperasi pesantren adalah salah satu unit usaha sekolah yang bertujuan untuk mensejahterakan pendidik dan pegawai sekolah serta memudahkan siswa untuk mendapatkan barang baik yang terkait dengan peralatan sekolah atau lainnya. Di pesantren, koperasi lebih familiar disebut Kopontren (Koperasi Pondok Pesantren). Aturan koperasi ini tertuang dalam Undang-Undang Perkoperasian Pasal 1 Ayat 1 no 25 Tahun 1992.

Dalam jurnal pengkajian koperasi dan UKM nomor 2 Tahun 2006 disebutkan 3 dimensi tujuan lain dari Kopontren. Pertama, sebagai pendukung kegiatan ekonomi Ponpes (Pondok Pesantren). Kedua, sebagai pembinaan kader koperasi pedesaan. Ketiga, sebagai stimulator sosio-ekonomi masyarakat di lingkungan pesantren. (Burhanuddin, 2006).

Sebagai alat untuk memperkokoh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia dalam mengatur tata laksana perekonomian rakyat Kopontren secara umum bertumpu pada jenis usaha konsumsi. Sedikit sekali Kopontren yang mengandalkan jenis usaha di bidang produksi atau lainnya. Kota Bogor misalnya, bisa dikatakan dari 10 Kopontren yang ada semuanya hanya menyajikan jenis usaha konsumsi di Kopontrennya. Hal ini tidak lain dipengaruhi oleh kefokusan santri terhadap kurikulum yang dipelajari dimana tingkat pesantren yang ada rata-rata untuk usia setingkat SMP dan SMA tentu ini tidak cocok jika Kopontren menyedikan jenis usaha produksi. (Koperasi Dalam Teori dan Praktek, 2005).

Dengan demikian, jika jenis usaha konsumsi ini yang berlaku di kebanyakan Kopontren sedangkan kondisi musibah berupa wabah Covid19 terjadi maka secara otomatis membuat Kopontren sepi transaksi. Sehingga dampak pandemi inilah yang membuat tujuan didirikannya Kopontren mau tidak mau akan sulit diraih. Maka bagaimana menghidupkan Kopontren ini di masa pandemi? Haruskah Kopontren membuat jenis usaha baru? Dan bagaimanakah langkah yang bisa diambil demi terwujudnya tujuan mulia Kopontren ini? Berikut ini kiat-kiatnya:

Pertama, Kopontren menyedikan alat kesehatan berupa masker, hand sanitizer dan lainnya yang dijual kepada anggata Kopontren. Ini tidak lain karena kebutuhan yang mendesak bagi anggota Kopontren adalah alat kesehatan tersebut.

Kedua, Kopontren menyediakan makanan atau minuman yang dapat menguatkan sistim kekebalan tubuh dari bahan herbal. Madu misalkan, di masa pandemi animo pembeli madu meningkat dahsyat. Bapak Koswara, salah satu penjual madu menyebutkan bahwa pelanggannya yang biasa langganan madu satu kilogram setiap bulannya di masa pandemi ini menambah stoknya sampai 5 kilogram. (pikiran-rakyat.com, 2020).

Bahkan Bapak Sahrul yang dibantu istrinya Susiati berdagang madu mengatakan bahwa selama masa pandemi ini apalagi pemberlakuan PSBB jumlah penjualan madu liar mereka meningkat sampai 10 kali lipat. Tidak hanya itu yang biasanya mereka menjual secara offline karena animo yang tinggi mereka pun merambah jualan madu di online. (www.kompas.tv, 2020).

Selain madu, jamu-jamuan juga merupakan produk terlaris di masa pandemi karena khasiatnya yang menguatkan imun tubuh. Ibu Putu Elida pengusaha herbal jamu-jamuan menyebutkan omzet sebelum pandemi dari usahanya berkisar 20-30 juta namun di saat pandemi omzetnya meningkat sampai 40-50 juta. (kumparan.com, 2020).

Ketiga, hendaknya petugas Kopontren merambah penjualannya yang tidak mungkin di ruangan kantin sekolah namun menjajaki dunia online dengan menjadi marketing produk-produk yang sangat diminati di masa pandemi. Kopontren menjadi Toko Daring. (msn.com, 2020).

Semoga dengan kiat-kiat diatas Kopontren tetap berjalan sebagaimana fungsinya bahkan lebih baik dan tercapai tujuan didirikannya.

TAGS
#Ekonomi Pendidikan #Fitri Priyanto #Koperasi Pesantren #Koperasi Sekolah
Login