Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Menyikapi Isu Negatif Terhadap Sekolah Islam

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Sebuah tantangan baru dalam dunia pendidikan Islam adalah menyikapi isu-isu negatif yang di framing baik itu oleh oknum yang tidak bertanggungjawab atau media yang tidak beradab dengan tujuan inti adalah untuk mendiskreditkan lembaga pendidikan Islam atau meraih keuntungan dari berita yang berkembang.

Ketua Umum PP Muhammadiyah KH. Haidar Nasir sangat menyayangkan adanya statement viral yang menyatakan bahwa TK dan Paud terpapar faham radikal. Dalam bantahannya tersebut KH. Haidar Nasir mengatakan bahwa janganlah berkesimpulan umum jika menemukan satu kasus radikalisme yang diajarkan di lembaga pendidikan. Sebab hal itu akan merendahkan peran mulia lembaga pendidikan Islam. “Kami memiliki lebih dari 20.000 PAUD yang berusaha menjadi pilar kekuatan untuk mencerdaskan generasi bangsa dan mendidik karakternya, ujarnya.” (cnnindonesia.com, 2019).

Jika merujuk kepada undang-undang, fungsi dan tujuan pendidikan agama dan keagamaan sudah sangat ideal. PP. Nomor 55 Tahun 2007 pasal 2 ayat 1 dan 2 menjelaskan bahwa: “Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama.”

Belum lagi isu miring terhadap sekolah islam lainnya, pesantren yang dikatakan sarang teroris, pesantren tempat ustaz cabul, pesantren tempat anak buangan karena kenakalan remaja, narkoba, dan lain sebagainya. Ini semua adalah tuduhan keji yang tidak sepatutnya baik oleh pihak berwenang atau tokoh tertentu untuk di konsumsi publik karena sifatnya hanyalah kasuistik yang tidak bisa digeneralisasi karena tentunya sangat menyakiti hati umat Islam.

Untuk itu, pengurus pendidikan Islam tanpa terkecuali harus bijak menyikapi fenomena isu miring diatas. Diantara cara menyikapi itu semua adalah dengan menjadikan sekolah Islam sebagai wahana yang paling tepat untuk pembentukan nilai toleransi dan kebersamaan. Karena ilmu toleransi tingkat tinggi hanya ada pada ajaran Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Di masyarakat Indonesia yang sangat majemuk pembentukan pribadi yang yang toleran harus dijadikan bagian dari kurikulum sekolah Islam dengan porsi yang lebih agar sesuai dengan tujuan dari syariat Islam yang diadopsi dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Pasal 29 ayat 2 dan Peraturan Pemerintah nomor 55 Tahun 2007 pasal 2.

Hujair mengatakan, “Untuk mencetak generasi yang cerdas dan toleran sekolah Islam harus memuat kurikulum yang kuat pada aspek berikut; Pertama, kecerdasan intelektual yang mencakup kemampuan menilai dan memilih baik dan buruk, benar atau salah. Dalam istilah fikih dikenal dengan nama tamyiz. Kedua, kecerdasan emosional yang menjadikan siswa mampu untuk mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, dan kooperatif. Ketiga, kecerdasan sosial yang menumpuhkan sifat empati siswa dan gemar membantu. Keempat, kecerdasan spiritual agar siswa rajin ibadah, suka berbuat baik, merasa diawasi Allah, bertakwa, dan pandai bersyukur. Kelima, kecerdasan kinestetik yang peduli akan dirinya dan orang lain dalam bingkai tolerasi islami. (Pembaruan Pendidikan Islam, Paradigma, Tipologi, dan Pemetaan Menuju Masyarakat Madani Indonesia, 2015).

Selain itu juga para pendidik harus menjadi contoh dalam sikap yang diberikan terhadap kemajemukan dengan sikap yang toleran, menghargai, dan tidak kaku. Buku-buku rujukan dan tontonan yang diserap siswa juga harus diperhatikan agar lembaga pendidikan Islam tidak kecolongan pengaruh negatif luar yang dapat menjatuhkan marwah sekolah Islam.

TAGS
#Fitri Priyanto #Pesantren Unggulan #Santri Toleran #Toleransi Agama
Login