Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Metode Keteladanan dalam Surat al-Ahzab Ayat 21

Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Salah satu masalah terbesar dalam dunia pendidikan dewasa ini adalah krisis keteladanan. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa kasus kriminal dan asusila yang melibatkan oknum pendidik atau dosen yang secara tidak langsung mendiskreditkan nama baiknya dan merusak marwahnya sebagai figur yang diikuti oleh para peserta didik dan para mahasiswa. Ironisnya, di antara oknum pendidik atau dosen tersebut memiliki afiliasi kepada sekolah Islam atau kampus yang berlabelkan Islam. (kumparan.com, 2019).

Secara konseptual, metode keteladanan ini sangat identik dengan ajaran Islam. Bahkan, Allah secara spesifik menyebutkannya dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 21. Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Berkaitan dengan ayat tersebut seorang ahli tafsir kenamaan bernama Ibn Kathīr menyatakan secara eksplisit dengan kalimat berikut:

هذه الآية الكريمة أصل كبير في التأسي برسول الله صلى الله عليه وسلم في أقواله وأفعاله وأحواله؛

 “Ayat yang mulia ini merupakan dalil utama tentang kewajiban meneladani Rasulullah allallāhū ‘alaihi wasallam baik dalam aspek perkataan, perbuatan maupun aspek situasi dan kondisi.” (Tafsīr al-Qur’ān al-Aẓīm, 1999).

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dimajukan beberapa kesimpulan yang erat kaitannya dengan keteladanan, di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, secara etimologis keteladanan diungkapkan dengan terma uswah asanah yang artinya teladan yang baik.

Kedua, figur teladan yang baik yang wajib dijadikan referensi pertama dan dijadikan sebagai pedoman hidup setiap muslim (way of life) adalah Rasulullah allallāhū ‘alaihi wasallam.

Ketiga, aspek keteladanan yang harus diterapkan adalah mencakup seluruh bidang kehidupan setiap muslim, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Keempat, Rasulullah allallāhū ‘alaihi wasallam adalah seorang pendidik terbaik. Meskipun demikian, Allah tetap memerintahkannya untuk menjadi teladan yang baik bagi yang lainnya. Oleh karena itu, seorang ayah yang merupakan pendidik utama di lingkungan keluarga, seorang guru yang merupakan pendidik di lingkungan sekolah, para ulama dan pemimpin yang merupakan pendidik di lingkungan masyarakat maka mereka lebih berhak daripada yang lainnya untuk berusaha menjadi teladan yang baik bagi orang lain.

Kelima, dalam ayat tersebut secara implisit menyatakan bahwa keteladanan yang baik itu dapat diterapkan oleh seseorang ketika terpenuhi dalam dirinya 3 syarat yaitu (1) beriman kepada Allah dan mengesakan-Nya (yarjullāh), (2) beriman kepada hari kiamat (al-yaum al-ākhir) karena setiap perkataan dan perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban pada hari tersebut, dan (3) senantiasa menyebut nama Allah (dhakarallāh kathīran) baik melalu hatinya ataupun lisannya bahkan berzikir kepada Allah melalui lisan dan hatinya.

Dengan demikian, sudah sepatutnya bagi seorang pendidik berusaha menjadi teladan yang baik bagi yang lainnya. Karena dengan menjadi teladan yang baik, di samping mengamalkan surat al-Ahzab ayat 21 juga akan menjadi amal kebaikan yang akan ia temukan keberkahannya pada hari kiamat.

TAGS
#Ade Wahidin #al-Ahzab #Keteladanan #Metode #Tafsir
Login