Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Metode Pendidikan Dalam Kisah Nabi Yakub

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Metode pendidikan adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang harus dimiliki dan digunakan oleh pendidik dalam upaya menyampaikan dan memberikan pendidikan dan pengajaran kepada peserta didik agar dapat mencapai tujuan pendidikan. (Prof. Ramayulis, 2009).

Tentunya acuan dalam mencari rujukan dalam memilih metode pendidikan bagi seorang mukmin mengacu kepada kisah Nabiyullah (Nabi Allah). Dan di antara kisah Nabi yang patut menjadi teladan dalam menjalankan metode pendidikan adalah kisah Nabi Yakub ‘alaihi salam. Hal ini tidak lain karena selain Allah sendiri yang memuji kisah Nabi Yakub dalam Alquran di surah Yusuf yang merupakan sebaik-baik kisah dalam Alquran.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan bahwa metode pendidikan orang tua terhadap anak setidaknya mencakup empat unsur. Pertama, mengajarkan tauhid. Kedua, mengajarkan perkara yang halal dan haram. Ketiga, mendidik anak untuk beribadah sejak kecil. Keempat, Mendidik anak untuk cinta Rasulullah, cinta keluarga, dan cinta Alquran. Dan semua unsur ini ada dalam kisah Nabi Yakub ‘Alaihissalam. (Pedoman Pendidikan Anak Dalam Islam, 1981).

Nabi Yakub memiliki 12 anak dan di antara 12 anak tersebut yang paling dimuliakan Allah dan menjadi Nabi adalah Nabi Yusuf. Metode pendidikan Nabi Yakub mendidik 12 anaknya yang pertama adalah mengajarkan tauhid. Dalam QS. Yusuf[12]: 86 jelas Nabi Yakub mengajarkan tauhid kepada anaknya agar tunduk, rida, tawakal, dan menyerahkan semua urusan hanya kepada Allah. Sebesar apa pun problematika kehidupan hendaknya tetap berhuznuzon (berprasangka baik) kepada Allah. (Kisah Para Nabi, 2008).

قَالَ إِنَّمَاۤ أَشۡكُوا۟ بَثِّی وَحُزۡنِیۤ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahanku dan kesedihanku.”

Kedua, Mengarahkan kepada hal yang baik dan buruk, halal dan haram serta tidak sungkan mengambil sumpah dari anaknya untuk menguatkan keyakinan atas apa yang ingin mereka perbuat. QS. Yusuf[12]: 67. Hal ini penting sekali untuk dilakukan para orang tua terlebih di zaman ini. Tidak sedikit orang tua acuh terhadap pendidikan anak dengan mencukupkan pendidikan anak mereka kepada pembantu rumah, guru di sekolah dan lebih parah kepada film fiktif di TV padahal orang tua harus mengambil peran utama dan terpenting mendidik anaknya.

Ketiga, Mengajarkan ibadah. Hal ini bisa terlihat dari QS. Yusuf[12]: 97, dimana buah dari pendidikan ibadah yang dilakukan sang ayah berbuah permohonan maaf dan permintaan anak untuk dimintakan ampunan kepada Allah dari dosa sehingga anak nabi Yakub menjadi baik imannya, akhlaknya dan ibadahnya. Bahkan sebagian ulama menyebutkan kalau saudara-saudara Yusuf pun di akhir kehidupan mereka diangkat menjadi Nabi sebagaimana disebutkan dalam QS. Al Imran[3]: 84. Walaupun Imam Ibnu Katsir membantahnya argumen tersebut dengan dalil diatas. Karena makna ashbat dalam ayat tersebut adalah Para Nabi dari kalangan Bani Israil. (Abu al Fida Ismail bin Katsir, 2008).

Keempat, Mendidik anak untuk cinta Rasul atau syariat secara umun dan mencintai keluarga. Ini tercermin dari ajaran Nabi dan Rasul terdahulu yang diikuti oleh Nabi Yakub dan anak-anaknya. Dan terkait ajaran untuk mencintai keluarga ini tercermin bagaimana keadilan dan kasih sayang Nabi Yakub sebagai ayah kepada anak-anaknya. Bahkan untuk menjaga harmonisasi keluarga tersebut Nabi Yakub mengingatkan Yusuf untuk tidak menceritakan mimpinya. “Wahai anakku jangan ceritakan mimpimu kepada saudaramu”. (QS. Yusuf[12]: 5. Sebuah pesan tersirat dari sang ayah kepada anaknya untuk menyembunyikan perkara-perkara yang jika diketahui saudara justru malah membuat hasad atau ketidakharmonisan keluarga.

TAGS
#Fitri Priyanto #Metode Pendidikan #Nabi Yakub #Pendidikan Keluarga
Login