Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Ibadah Kurban

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Tidaklah turun suatu perintah atau larangan dalam syariat Islam melainkan untuk kebaikan manusia. Seringan dan seberat apapun perintah dan larangan tersebut maka yang telah ditetapkan dalam wahyu wajib untuk diamalkan sekuat tenaga. Allah mengingatkan dalam firmanNya: “Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7).

Salah satu perintah Allah yang telah menjadi karakteristik bulan Zulhijjah adalah ibadah kurban yang tepat dilakukan pada saat hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya. Ibadah kurban ini dilakukan oleh seluruh umat Islam dunia di hari yang sama, dengan bentuk hewan yang tidak boleh beda baik berupa kambing, sapi, atau unta. Perintah kurban dengan karakteristik ini telah mencerminkan Islam sebagai agama yang universal dan relevan di berbagai tempat dan zaman (Awā ‘alā al-Thaqāfah al-Islāmīyah, 2006).

Jika dikaji lebih mendalam, selain sebagai perintah Allah yang mulia, ibadah kurban juga memiliki nilai-nilai pendidikan Islam yang cukup signifikan. Nilai-nilai pendidikan tersebut di antaranya; Pertama, Pendidikan Tauhid (I’tiqādīyah). Hal ini berdasarkan QS. Al-An’am: 162 yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah tuhan seluruh alam.”

Berkaitan dengan ayat tersebut, Shaykh ‘Abd al-Raḥmān Al-Sa’dī –Raimahullāh– berkata: “Ayat ini menunjukkan tentang agungnya 2 ibadah mulia yaitu salat dan menyembelih hewan kurban. Kedua ibadah ini merupakan tanda kecintaan hamba kepada Tuhannya, bukti mendekatkan diri kepada-Nya dengan amalan hati, lisan, dan anggota badan. Terkhusus menyembelih hewan kurban, ibadah ini merupakan bentuk pengorbanan harta seseorang untuk Dzat yang dicinta yaitu Allah Ta’ala (Tafsīr Al-Sa’dī, 2000).

Inilah bentuk pendidikan tauhid dalam ibadah kurban di mana dalam aplikasinya terdapat berbagai bentuk cerminan ketauhidan seseorang baik berupa ikhlas dalam ibadah, taat pada perintah, dan pengorbanan harta yang semua itu tidak akan terjadi kecuali dengan tauhid yang benar.

Kedua, Pendidikan Personal-Interaksional. Ibadah kurban merupakan ibadah agung yang wajib hukumnya bagi mereka yang mampu menurut pendapat sebagian ulama berdasarkan hadis riwayat Ahmad yang menyebutkan sindiran dari Rasulullah Salallahu alaihi wasallam terhadap mereka yang mampu namun tidak mau berkurban agar tidak mendekati tempat salat Id. Dalam hadis ini, secara tersirat memotivasi para sahabat agar menjadi individu yang dermawan dan tidak ragu untuk berkurban. Selain itu, dalam ibadah kurban terdapat pendidikan interaksional yang terjadi sebelum dan sesudah ibadah ini dilakukan sehingga tercipta pendekatan emosional yang baik kepada banyak pihak seperti kepada pedagang kurban, panitia kurban, dan penerima kurban.

Ketiga, Pendidikan Akhlak (Khuluqīyah). Ibadah kurban secara fundamental telah mengajarkan urgensi akhlak mulia seorang anak kepada ayahnya. Hal ini terlihat ketika Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah agar ia menyembelih anaknya Nabi Ismail. Dalam pada itu, Nabi Ismail sebagai seorang anak yang terbina dengan ketauhidan yang kuat tanpa ragu mematuhi perintah ayahnya (QS. Ash-Shaffat [37]: 102-103).

Berdasarkan uraian tersebut, sudah sepatutnya setiap muslim di samping berusaha menunaikan ibadah kurban, pada saat yang sama ia dapat menyerap dan mengaplikasikan nilai-nilai pendidikan ibadah kurban terutama terkait dengan (1) mengesakan Allah, (2) menjadi pribadi yang dermawan dan peduli kepada orang lain, dan (3) menjadi anak yang berakhlak mulia dan berbakti kepada orang tuanya.

TAGS
#Adab Berkurban #Fitri Priyanto #Hikmah Kurban #Serba-serbi
Login