Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Panduan Adab Membuang Hajat Menurut Mazhab Syafii

Tidak boleh buang hajat di tempat terbuka dengan menghadap kiblat dan membelakanginya. Tidak boleh buang air kecil dan besar di air yang menggenang, di bawah pohon yang berbuah, di jalanan dan di tempat orang berteduh serta pada lubang. Tidak boleh berbicara ketika buang air kecil maupun besar. Tidak boleh menghadap matahari dan bulan serta membelakangi keduanya.

Penjelasan:

(1). Mengenai larangan buang hajat di tempat terbuka dan menghadap kiblat atau membelakanginya, Bukhari dan muslim meriwayatkan hadis dari Abu Ayyub Al-Anshary Raiallāhu ‘Anhu dari Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda:

إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ، وَلاَ تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا، أَوْ غَرِّبُوا

“Jika kalian buang hajat maka janganlah menghadap kiblat dan jangan pula menbelakanginya, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.”

Ini dikhususkan di padang pasir dan di tempat-tempat yang tidak ada penutupnya. Dalil pengkhususannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta selain keduanya dari jalur Ibnu Umar Raiallāhu ‘Anhuma, dia berkata:

ارْتَقَيْتُ فَوْقَ بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْضِي حَاجَتَهُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ

“Saya menaiki atap rumah Hafsah Raiallāhu ‘Anhā untuk beberapa kebutuhanku. Kemudian saya melihat Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam membuang hajatnya dengan membelakangi kiblat dan menghadap ke Syam.”

Hadis pertama adalah untuk tempat yang tidak dipersiapkan untuk membuang hajat dan tempat yang tercakup dalam kandungan maknanya, yaitu tempat-tempat yang tidak ada penutupnya. Hadis kedua adalah untuk tempat yang dipersiapkan untuk membuang hajat dan tempat yang tercakup dalam kandungan maknanya. Ini adalah bentuk penggabungan antara dalil-dalil yang ada. Bisa jadi hukumnya menjadi makruh jika melakukanya di tempat yang tidak dipersiapkan untuk membuang hajat,tetapi ada tutupnya.

(2). Mengenai larangan tidak boleh membuang air kecil maupun air besar di air yang menggenang, Muslim dan selainya meriwayatkan hadis dari Jabir bin Abdillah Raiallāhu ‘Anhu dari Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa beliau melarang buang air kecil dan besar di tempat yang tidak mengalir. Buang air besar lebih jorok dan lebih utama untuk dilarang. Larangan di sini adalah makruh. Dinukil dari Imam Nawawi bahwa larangan di sini adalah pengharaman. (Silahkan lihat syarh muslim 3/187).

(3). Mengenai larangan membuang hajat di jalanan dan tempat orang berteduh, Muslim dan selainya meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah Raiallāhu ‘Anhu bahwa Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

 اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ. قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: الَّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِى ظِلِّهِمْ

“Takutlah kalian dengan dua laknat.” Para sahabat bertanya, “Apakah dua laknat itu Wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang buang air besar di jalan manusia dan tempat mereka berteduh.”

Dua laknat maksudnya adalah dua perkara yang akan mendatangkan laknat.

(4). Mengenai larangan membuang hajat di lubang, Abu Dawud dan selainnya meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Sarjis Raiallāhu ‘Anhu, dia berkata “Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melarang buang air kecil di lubang.”

(5). Mengenai larangan berbicara ketika membuang hajat, Muslim dan selainnya meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar Raiallāhu ‘Anhuma bahwa seorang laki-laki melewati Rasulullah allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam ketika beliau sedang buang air kecil. Tetapi beliau tidak menjawabnya.

Abu Dawud dan selainnya juga meriwayatkan hadis dari Abu Sa’id Raiallāhu ‘Anhu bahwa dia mendengar Nabi allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Janganlah dua orang laki-laki membuang hajat dengan saling menampakan aurat dan saling berbicara. Sesungguhnya Allah Memurkai hal itu.”

(6). Mengenai larangan menghadap matahari dan bulan serta membelakangi keduanya, Imam Nawawi menyebutkan di dalam Al-Majmu’ (1/30)  bahwa hadis yang menyatakan hal ini adalah dha’īf, bahkan batil. Hukum yang benar dan masyhur adalah makruh menghadap keduanya, bukan membelakanginya. Al-Khatib berkata dalam Al-Iqnā (1/46), “Pendapat inilah yang dipegang.”

(7). Disunahkan bagi orang yang membuang hajat untuk mengucapka zikir-zikir dan doa-doa yang berasal dari Rasulullah allallāhu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum masuk ke toilet dan setelah keluar.

Sebelum masuk, ucapkanlah:

بِسْمِ اللَّهِ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Dengan nama Allah. Ya Allah, saya berlindung kepada-MU dari setan laki-laki dan setan perempuan. (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).”

Setelah keluar, ucapkanlah:

غُفْرَانَكَ، الحمدُ لله الّذي أذْهَبَ عَنّي الأذَى وَعَافَاني، الحمد لله الّذِي أذَاقَنيَ لَذتًهُ وَأبْقَى فيَّ قُوَّتَهُ وَدَفَعَ عَنَّي أذَاهُ

“Ya Allah, aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang menghilangkan penyakit dariku dan menyehatkanku. Segala puji bagi Allah yang membiarkanku mencicipi kenikmata-Nya, membiarkan kekuatan-Nya berada dalam diriku, dan menghilangkan penyakit-Nya dari diriku. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Thabrani).

Dikutip dari: Muthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 20-21.

TAGS
#Abu Shuja' #Buang Hajat #Fikih #Mazhab Syafii
Login