Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Pemikiran Ibn Khaldūn tentang Pendidikan

Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Berbicara tentang Ibn Khaldūn maka tidak sedikit di antara kita yang mengenalnya sebagai bapak sosiologi dan antropologi dalam dunia Islam. Hal ini tidak lepas dari ide-idenya yang cukup futuristik di zamannya terkait dengan arsitektur dan infrastruktur serta tatanan kehidupan sosial masyarakat.

Banyak sekali para sarjana muslim yang menyebutkan ketokohan Ibn Khaldūn dalam bidang sosiologi. Meskipun demikian, disebabkan Ibn Khaldūn ini termasuk seorang generalis; yaitu tokoh yang menguasai ragam bidang ilmu, maka tidak sedikit para ulama yang menjelaskan Ibn Khaldūn dari sisi pemikirannya tentang pendidikan. Berkaitan hal ini, al-Ahwānī misalnya ketika berbicara tentang aliran pendidikan para ulama, ia mengklasifikasikan Ibn Khaldūn sebagai penganut aliran pendidikan sosiologis. Karena menurut Ibn Khaldūn manusia adalah makhluk hidup yang berfikir yang berlandaskan tinjauan sosiologis (mufakkir ijtimā’ī); masing-masing manusia tunduk pada aturan sosial yang menghubungkan antar mereka dalam segala urusan dan aktivitas mereka. (Aḥmad Fu’ād al-Ahwānī, al-Tarbiyah fī al-Islām, tt.)

Pemikiran pendidikan Ibn Khaldūn ini mencakup (1) hakikat manusia; (2) definisi pendidikan; (2) kurikulum; dan (4) metode pendidikan. Berikut ini penjelasannya:

1. Hakikat Manusia

Sebelum membahas pendidikan, biasanya para tokoh memiliki pandangan terhadap hakikat manusia. Hal ini disebabkan bahwa manusia merupakan objek dari pendidikan tersebut.

Berkaitan dengan hakikat manusia, Ibn Khaldūn berpandangan bahwa manusia adalah hamba dan wakil Allah di muka bumi, makhluk yang diciptakan Allah dengan segala potensi dilengkapi dengan panca indera pendengaran, penglihatan dan akal untuk menjadi intelek murni dan memiliki jiwa perspektif. Hal ini didasari oleh kekuatan pemahaman melalui perantaraan pikiran manusia yang ada di balik panca inderanya. Manusia adalah individu yang mampu mencapai kesempurnaan dalam realitasnya. Menurutnya, pengembangan potensi diri (fitrah) manusia tersebut harus dilakukan dan menjadi keharusan dari pengajaran dan pendidikan. (Manusia dan Pendidikan Menurut Pemikiran Ibn Khaldūn dan John Dewey, 2015)

2. Definisi Pendidikan

Satu hal yang urgen dalam pemikiran tokoh dalam membahas pendidikan adalah apa definisi dari pendidikan menurut tokoh tersebut. Karena adanya deskripsi yang jelas tentang definisi pendidikan akan mengantarkan para peneliti dan pembacanya kepada kesimpulan sementara wajah atau aliran pendidikan tokoh tersebut.

Ibn Khaldūn dalam hal ini tidak menyatakan secara jelas tentang definisi pendidikan, ia berkata bahwa barangsiapa yang tidak terdidik oleh orang tuanya maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa yang tidak memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orangtua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengejarnya (Mukaddimah, 2011).

Dari perkataan Ibn Khaldūn tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah sebuah proses internalisasi adab melalui para pendidik baik orang tua, guru, para sesepuh dan melalui setiap peristiwa dan kejadian alam yang dilalui oleh orang tersebut. Definisi ini sesuai dengan corak pemikiran pendidikan Ibn Khaldūn yang cenderung sosiologis, yaitu pemikiran pendidikan yang mengedepankan proses sosialisasi peserta didik sebagai basis internalisasi adab dan karakter.

3. Kurikulum

Dari uraian sebelumnya tentang definisi pendidikan, dapat dikatakan bahwa kurikulum yang digagas oleh Ibn Khaldūn ini cenderung dalam rangka terbentuknya peserta didik yang beradab di mana secara operasional melalui proses sosialisasi diri kepada para pendidik dan penghayatan terhadap kejadian alam sebagaimana yang telah direkomendasikan oleh Ibn Khaldūn.

Secara umum kurikulum yang dikonsepsikan oleh Ibn Khaldūn bermuara pada dua macam yaitu Naqlīyah dan ‘Aqlīyah.

Pertama, Ilmu-ilmu Tradisional (Naqlīyah). Ilmu Naqlīyah adalah ilmu yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadits yang dalam hal ini peran akal hanyalah menghubungkan cabang permasalahan dengan cabang utama, karena informasi ilmu ini berdasarkan kepada otoritas Syariat yang diambil dari al-Qur’an dan Hadits. Adapun yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqliyah itu antara lain: ilmu tafsir, ilmu qiraat, ilmu hadits, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawwuf, dan ilmu ta’bir mimpi.

Kedua, Ilmu-ilmu Filsafat atau Rasional (‘Aqlīyah). Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperolehnya melalui kemampuannya untuk berfikir. Ilmu ini dimiliki semua anggota masyarakat dunia, dan sudah ada sejak mula kehidupan peradaban umat manusia di dunia. Menurut Ibn Khaldūn ilmu-ilmu filsafat (‘Aqlīyah) ini dibagi menjadi empat macam ilmu yaitu: (1) Ilmu Logika; (2) Ilmu Fisika; (3) Ilmu Metafisika, dan (4) Ilmu Matematika. Walaupun Ibn Khaldūn banyak membicarakan tentang ilmu geografi, sejarah dan sosiologi, namun ia tidak memasukkan ilmu-ilmu tersebut kedalam klasifikasi ilmunya. (Mukaddimah, 2011)

4. Metode Pendidikan

Ibn Khaldūn telah banyak mengemukakan metode dalam proses pendidikan di antaranya adalah pada pandangan Ibn Khaldūn seorang pengajar dalam kuliahnya harus menjalani tiga tahap atau uraian. Pada uraian pertama cukup ia memberi ide yang umum dan ringkas tentang perkara yang ingin di perkuliahkannya. Kemudian kembali ia menguraikannya untuk kedua kali dimana diuraikannya lebih jelas daripada yang pertama mengandung penjelasan tentang perkara itu berpindah dari pandangan secara umum secara rinci, menyebutkan titik perbedaan pendapat para ahli dalam perkara tersebut. Kemudian pada tahap ketiga diuraikan perkara itu lebih mendalam dan menyeluruh, tidak ada suatu perkara rumit atau kabur yang tidak dijelaskannya.

Ibn Khaldūn memandang sangat penting sekali metode secara bertingkat ini, dan sangat besar faedahnya dalam upaya menjelaskan dan memantapkan ilmu ke dalam jiwa anak serta memperkuat kemampuan jiwanya untuk memahami ilmu. Tujuan mempelajari ilmu tersebut adalah kemahiran anak dalam mengamalkan serta mengambil manfat dalam kehidupan sehari-hari, alasan pengulangan sampai ketiga kali pengulangan ini adalah agar anak siap memahami ilmu pengetahuan atau seni secara bertahap. Metode tersebut sejalan dengan teori mengajar yang menyatakan bahwa pentahapan pemahaman anak memerlukan pemahaman tentang perkembangan jiwa yang berlangsung secara berbeda-beda bagi masing-masing anak. Dengan demikian cara pengulangan ini akan membawa anak dalam ketelitian yang menjadi salah satu faktor dari sistem belajar praktis. (Relevansi Konsep Pendidikan Islam Ibnu Khaldun Dengan Pendidikan Modern, 2012)

Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikatakan bahwa pemikiran Ibn Khaldūn terkait pendidikan dapat dipertimbangkan menjadi solusi paradigmatik dalam membuat model pendidikan di era modern saat ini.

TAGS
#Ade Wahidin #Ibnu Khaldun #manusia #pemikiran #Pendidikan
Login