Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Pendidikan dan Prestasi Sang Legenda Teknologi Indonesia

Dr. Abdul Wahid, Lc., M.E.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Masyarakat Indonesia tentu sangat akrab dengan tokoh yang satu ini. Presiden ke 3 yang memegang tampuk kepemimpinan negara sesaat setelah turunnya Pak Harto di detik-detik awal era reformasi. Pria yang akrab dengan panggilan Habibie ini, lahir di Parepare pada tanggal 25 Juni 1936. Nama Habibie yang melekat pada sang legenda teknologi ini merupakan marga asli dari garis kerajaan Gorontalo yang saat ini menjadi salah satu provinsi di bagian tengah negara Indonesia. (id.wikipedia.org)

Habibie menjalani pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMAK Dago yang terletak di Bandung Jawa Barat. Sekolah yang berdiri sejak zaman Belanda tersebut bahkan mempunyai nama lama yaitu Het Christelijk Lyceum (HCL) sebagaimana disebutkan dalam laman news.detik.com. Selesai menjalani pendidikan menengah atas, Bacharuddin Jusuf Habibie melanjutkan minatnya dalam bidang teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung yang saat ini menyandang nama Institut Teknologi Bandung. (id.wikipedia.org).

Berselang satu tahun dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung, Habibie mulai mendalami konsentrasi keilmuannya di bidang teknik kedirgantaraan atau teknik penerbangan sebagaimana disebutkan dalam laman id.wikipedia.org. Selama kurang lebih 10 tahun (1955-1965), Habibie berhasil menyandang gelar doktor insinyur dari sebuah universitas di Jerman Barat kala itu.

Siapa sangka seorang anak yang terlahir di desa yang sangat jauh dari hiruk pikuk ibukota bisa meraih gelar paling tinggi dalam disiplin ilmu yang dapat dikatakan langka peminat tersebut. Kehidupan kecil sang legenda bukan hanya jauh dari keramaian, dapat dipastikan kondisi di daerah kala itu sangat jarang menikmati indahnya cahaya lampu di malam hari.

Segala keterbatasan tidak sedikitpun menghalangi keinginan kuat Wakil Presiden RI ke 7 itu dalam menekuni dunia teknologi. Dengan segala kesederhanaan dan penuh kerja keras, Habibie tetap fokus mendalami ilmu, membina keluarga sekaligus meniti karirnya di negara yang sangat jauh dari tanah airnya. Tak aneh gelar doktor insinyur yang didapatnya dengan predikat summa cum laude membawa Habibie diterima oleh salah satu perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Dengan kegigihannya dalam beberapa tahun suami dari Ibu Ainun ini dipercaya menduduki jabatan istimewa di perusahaan tersebut yaitu sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978. (viva.co.id)

Ternyata putra Indonesia mampu mengambil peran penting di kancah dunia. Akan tetapi kegemilangan prestasi dan jabatan yang diraih oleh ayah dari dua orang anak ini tak pernah membuatnya lupa akan tanah airnya. Kecerdasannya dalam bidang teknologi membawanya terpanggil untuk mengembangkan industri pesawat terbang di negeri tercinta. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) dalam beberapa periode tak lepas dijabat oleh Bapak dari Ilham Akbar dan Thareq Kemal ini.

Namun kini sosok yang genius dambaan para penuntut ilmu di Indonesia telah kembali menghadap Sang Pencipta. Dedikasi tinggi untuk bangsa dan negara yang diberikan sampai akhir hayatnya, haruslah menjadi contoh bagi para penuntut ilmu dan seluruh pejabat negara. Fasilitas bukanlah alasan untuk dapat membuktikan sebuah keberhasilan dalam belajar. Tekun, kerja keras, dan fokus dalam menimba ilmu merupakan keniscayaan yang harus disabari dari waktu ke waktu bagi para penimba ilmu. Raihlah kembali prestasi sang legenda dan tunjukkan bahwa putra bangsa Indonesia mampu berprestasi di tingkat dunia.

TAGS
#Abdul Wahid #Jurnal #Teknologi #Tokoh #Pendidikan
Login