Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Pendidikan Karakter Dalam Kisah Nabi Shalih (2)

KH. Fitri Priyanto, Lc., M.M.

Ustaz Fitri Priyanto, Lc., M.M.
(Pengasuh Bina Qurani Islamic School)

Pendidikan karakter sebuah keharusan dalam setiap jenjang pendidikan. Para Nabi menanamkan pendidikan karakter kepada kaumnya sejak awal diutus kepada siapapun baik anak kecil atau dewasa. Pilar pertama yang ditanamkan dalam pendidikan karakter adalah cinta Allah dan kebenaran. Adapun yang kedua adalah tanggungjawab, disiplin, dan mandiri. Nabi Shalih ‘alaihissalam menunjukkan pilar penting ini kepada kaumnya dengan menjaga mukjizat yang diberikan berupa unta betina (Al Isra: 59) dan kemandirian berupa tidak mengambil upah dari dakwah yang diserukan (QS. Asy Syu’ara: 141).

Ketiga, amanah dan pantang menyerah. Amanah menyampaikan risalah tidak pernah membuat Nabi Shalih menyerah dengan rintangan yang membentang luas dari kaumnya. Tidak sedikit penolakan yang frontal dari kaumnya disikapi dengan bijaksana. Allah befirman dalam QS. Al A’raf[7]: 79);

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَاقَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

“Kemudian dia (Nabi Shalih) pergi meninggalkan mereka sambil berkata, “Wahai kaumku! Sungguh aku telah menyampaikan amanah Tuhanku kepadamu dan aku telah menasehati kamu. Tetapi kamu tidak menyukai orang yang memberi nasihat (Kisah Para Nabi, 2011).”

Keempat, kasih sayang, peduli, dan kerjasama. Sudah menjadi akhlak para Nabi untuk sangat menyayangi dan peduli  kepada umatnya. Tutur kata yang halus dalam seruan dakwah, sikap baik yang membuat siapapun terkesan, dan mau bekerjasama dalam kebaikan sangat diketahui oleh kaumnya. Jika bukan karena kesombongan dan takut kehilangan kedudukan pastilah kaumnya beriman (QS. Al A’raf[7]: 75).

Keenam, percaya diri dan kreatif. Kemampuan dalam mengemban amanah besar pasti lahir dari jiwa yang kuat dan kepercayaan diri yang mantap. Ini tidak lain berawal dari keimanan yang kuat dan tawakal total kepada Allah ‘azzawajalla. Jika kepercayaan diri telah hadir maka akan hidup berbagai ide kreatif dalam menyampaikan risalah nubuwwah.   

Ketujuh, adil dan berjiwa kepemimpinan. Nabi Shalih ‘alahissalam menunjukkan jiwa kepemimpinannya dalam surah Asy Syu’ara ayat 141-157. Ketegasannya telah menjadi karakter kepemimpinannya ketika berdakwah dan dibuktikan saat mukjizat berupa unta betina yang keluar dari dalam batu keras. Unta tersebut wajib dijaga dan jangan sampai disakiti. Menurut Imam Ibnu Jarir al Tabari dalam kitab tafsirnya, unta betina tersebut memiliki air susu yang mencukupi kaum Nabi Shalih sehingga untuk keadilan kaumnya Nabi Shalih menggilir mereka dalam mengambil susu unta betina tersebut. Allah pertegas ini dalam surah Asy Syu’ara: 155 (Muhammad Bin Jarir al Tabari, 2001).

Kedelapan, baik dan rendah hati. Hal ini tercermin dalam surah Hud ayat 61-63 dan dalam surah al A’raf ayat 73-79 dimana Nabi Shalih selalu bersikap baik dan lemah lembut kepada kaumnya walaupun mendapat penolakan, sindiran menyakitkan dan hinaan terburuk yang nyata. Semua itu dihadapi dengan rendah hati tidak dengan emosi apalagi dendam abadi. Itulah karakter berharga yang Allah kisahkan dalam Alquran tentang akhlak mulia nabi dan rasulNya. Semua itu tidak lain untuk diteladani dan menjadi pijakan generasi setelahnya dalam berucap dan bersikap.

Maka dari itu hendaknya seorang muslim menghadapi ketetapan syariat dan karakter yang dibawa oleh nabi dan rasul dengan sikap menerima, berserah diri, dan tunduk kepada Allah secara total. Karena hanya dengan begitu rahmat, berkah, dan keselamatan dunia akhirat dapat diraih (Mendulang Hikmah Dari Kisah-kisah Dalam Alquran).

TAGS
#Fitri Priyanto #Metode Pendidikan #Nabi Shalih #Pendidikan Karakter
Login