Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Pendiri Paskibraka

Bina-Qurani-Pendiri-Paskibraka-Photo-By-From-ex-school

Pendiri Paskibraka

Siapa yang tidak kenal dengan sosok Mayor Husein Mutahar? Mayor Husein Mutahar merupakan pendiri Paskibraka. Pria kelahiran Semarang, 5 Agustus 1916 merupakan ajudan dari Presiden Ir. Soekarno.

Bina-Qurani-Pendiri-Paskibraka-Photo-By-From-ex-school

Photo: Mayor Mutahar – Pendiri Paskibraka, Source: Photo By The Asian Parent

Pengertian Paskibraka

Paskibraka adalah singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka yang bertugas mengibarkan duplikat bendera pusaka merah putih dalam upacara peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pengibaran sang saka merah putih ini dilakukan di tiga tingkatan tempat, yaitu:

  • Tingkat Kabupaten atau Kota (Kantor Bupati atau Wali Kota)
  • Tingkat Provinsi (Kantor Gubernur)
  • Tingkat Nasional (Istana Merdeka)

Anggota Paskibraka berasal dari pelajar tingkat SMA atau sederajat kelas 10 (tahun pertama). Anggota Paskibraka dipilih melalui proses seleksi yang ketat pada bulan April untuk persiapan pengibaran bendera pusaka pada tanggal 17 Agustus.

Selama masa seleksi hingga tanggal 16 Agustus, siswa yang terpilih menjadi pengibar bendera dinamakan dengan Capaska atau Calon Paskibraka. Hingga pada waktu penugasan tanggal 17 Agustus, dinamakan dengan Paskibraka. Setelah selesai melaksanakan tugas pengibaran, namanya menjadi Purna Paskibraka.

Bina-Qurani-Pendiri-Paskibraka-Photo-By-From-ex-school

Source: Photo By Timlo Net

Sejarah Paskibraka

Gagasan lahirnya Paskibraka dimulai pada tahun 1946. Pada saat itu Ibu Kota Republik Indonesia sedang dipindahkan ke Daerah Istimewa Yogyakarta.

Untuk memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-satu, Presiden Ir. Soekarno memerintahkan ajudannya yaitu Mayor Husein Mutahar (Pendiri Paskibraka) untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka merah putih di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta atau sekarang dikenal dengan nama Istana Yogyakarta.

Istana Gedung Agung Yogyakarta ini berlokasi di Jl. Ahmad Yani, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta.

Mendapatkan perintah dari sang Presiden, Husein Mutahar (Pendiri Paskibraka) kemudian menyampaikan gagasannya. Pendiri Paskibraka ini menyampaikan bahwa, sebaiknya untuk pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air. Karena pemuda adalah generasi penerus yang akan bertugas melanjutkan perjuangan bangsa Indonesia.

Namun gagasan Pak Mutahar (Pendiri Paskibraka) ini tidak mungkin terlaksana karena berbagai hal. Akhirnya beliau hanya dapat menghadirkan lima orang pemuda yang terdiri dari 3 putra dan 2 putri yang berasal dari berbagai daerah dan sedang berada di Yogyakarta. Lima pengibar bendera itu melambangkan Pancasila.

Sejak tahun 1946 hingga tahun 1949 pengibaran bendera pusaka di Yogyakarta dilaksanakan dengan lima pengibar bendera dan dengan tata cara yang sama.

Bina-Qurani-Pendiri-Paskibraka-Photo-By-From-ex-school

Source: Photo By Replubika

Kemudian di tahun 1950, ketika Ibu Kota Republik Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada saat itu sang Pendiri Paskibraka Mayor Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka. Setiap tanggal 17 Agustus pengibaran bendera dilaksanakan di Istana Merdeka oleh Rumah Tangga Kepresidenan.

Selama tahun 1950 sampai pada tahun 1966, pelaksanaan pengibaran bendera merah putih dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Bapak Pendiri Paskibraka, Mayor Husein Mutahar kemudian dipanggil kembali oleh Presiden Soeharto pada tahun 1967. Presiden Soeharto meminta Mayor Mutahar untuk kembali menangani pengibaran bendera pusaka.

Dengan ide dasar dari pelaksanaan pengibaran bendera di Yogyakarta pada tahun 1946, Mayor Mutahar kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok sebagaimana berikut:

  • Kelompok pertama, Pasukan 17 sebagai pengiring atau pemandu
  • Kelompok kedua, Pasukan 8 sebagai pembawa bendera
  • Kelompok ketiga, Pasukan 45 sebagai pengawal

Jumlah di atas merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yaitu 17 Agustus 1945 atau 17-8-45. Pada saat itu, dengan kondisi dan situasi yang ada, Mayor Mutahar hanya melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta.

Rencana awal untuk pasukan 45 sebenarnya terdiri dari para mahasiswa AKABRI, akan tetapi tidak dapat dilaksanakan. Usulan lain menyebutkan agar menggunakan anggota pasukan khusus ABRI, namun itu pun tidak mudah. Akhirnya pasukan 45 diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang bertugas di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta.

Bina-Qurani-Pendiri-Paskibraka-Photo-By-From-ex-school

Source: Photo By Berita Satu

Mulai pada tanggal 17 Agustus 1968, petugas pengibaran bendera pusaka adalah para pemuda yang diutus oleh masing-masing provinsi. Namun karena belum seluruh provinsi mengirimkan utusannya, maka tetap harus ditambah dengan anggota pasukan pengibaran tahun 1967.

Istilah yang digunakan untuk pengibaran bendera pusaka pada tahun 1967 sampai tahun 1972 adalah Pasukan Pengerek Bendera Pusaka. Hingga akhirnya pada tahun 1973 Idik Sulaiman melontarkan satu istilah untuk Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan Paskibraka. Dengan penjelasan sebagai berikut:

  • PAS berasal dari kata Pasukan
  • KIB berasal dari kata Kibar yang artinya Pengibar
  • RA berasal dari kata Bendera
  • KA berasal dari kata Pusaka

Mulai saat itulah, istilah Paskibraka dari Idik Sulaeman digunakan untuk menyebut para anggota pengibar bendera pusaka.

Thumbnail Source: Photo By From ex-school

Artikel Terkait:
Biografi Ibnu Hajar Al-Asqalani

TAGS
#Adab Muslimah #adab sebelum ilmu #Biografi Ibnu Hajar #Cara Menghafal Quran #cara menjadi dropshipper #cara menjadi penulis #cara menjadi youtuber #Ikhlas ketika ibadah #Manfaat tafakkur #niat beribadah #Pendiri Paskibraka #Tafakur alam
Login