Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Pengaruh Iman Kepada yang Ghaib

Bina-Qurani-Pengaruh-Iman-Kepada-yang-Ghaib

Pengaruh Iman Kepada yang Ghaib

Iman pada yang ghaib memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang dalam menjalani kehidupan. Ia dapat menjadi motivasi kuat untuk beramal shalih dan memerangi kejahatan.

Di antara pengaruh tersebut adalah:

1. Ikhlas dalam Beramal

Ikhlas dalam beramal demi mendapatkan pahala dan takut azab di akhirat, tidak untuk mendapat balasan duniawi dan ucapan terima kasih dari orang lain. Hal ini sebagaimana firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā mengenai orang-orang yang memberi makan, padahal mereka sendiri menyukai makanan tersebut:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9)

Artinya:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tdak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terimakasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)

Bina-Qurani-Pengaruh-Iman-Kepada-yang-Ghaib

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Pengaruh Iman Kepada yang Ghaib, Source: Photo by Chanikarn T Rawpixel

2. Kuat dalam Menjalankan Kebenaran

Janji untuk orang beriman menjadikan seseorang teguh menjalankan perintah Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, menjelaskan yang haq serta mengajak kepadanya, dan menjelaskan yang batil, memperingati serta memeranginya. Meskipun tidak ada yang menolong, ia tetap kuat karena Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā.

Kehidupan dunia dan siksaannya ia anggap remeh bila disbanding dengan kehidupan akhirat. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā mengabarkan tentang perkataan kekasih-Nya, Nabi Ibrahim kepada kaumnya:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57) فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (58)

Artinya:

“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping, kecuali yang terbesar atau induk dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali untuk bertanya kepadanya.” (QS. Al-Anbiya: 57-58)

3. Menganggap Hina Kehidupan Dunia

Hal ini terjadi karena hati telah dipenuhi keimanan dengan menyingkirkan kehidupan dunia dan segala kenikmatannya, dan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang abadi dan bahagia. Tidak masuk akal bila seseorang lebih memilih kehidupan yang fana daripada yang abadi.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64)

Artinya:

“Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

4. Hilangnya Perasaan Iri dan Dengki

Sungguh, usaha untuk memenuhi keinginan hawa nafsu dengan cara yang tidak benar dapat memunculkan perasaan iri dan dengki di antara manusia. Iman pada yang ghaib, pada janji dan ancaman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā menjadikan seseorang mengoreksi ulang semua perilakunya demi mengharap pahala dan takut terhadap siksa.

Bina-Qurani-Pengaruh-Iman-Kepada-yang-Ghaib

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Pengaruh Iman Kepada yang Ghaib, Source: Photo by Imad A Unsplash

Iman yang sebenarnya terhadap adanya pahala menjadikan seorang mukmin termotivasi untuk berbuat ihsan dan itsar demi mendapatkan pahala yang kekal. Suatu perkara yang membuat hati suci, rasa kasih sayang merebak di antara individu dan jamaah. Hal ini senada dengan yang diberitahukan Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā perihal mereka yang mempraktikkan hal itu:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9) وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)

Artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan orang-orang Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka Muhajirin dan Anshar, mereka berdoa ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 9-10)

Itulah sebagian pengaruh iman kepada yang ghaib. Pengaruh iman akan hilang bila iman lemah. Bila pengaruh iman telah hilang, masyarakat akan berubah menjadi seperti binatang, yang hidup memangnya yang mati, dan yang kuat menindas yang lemah. Akibatnya, rasa takutpun akan dirasakan semua orang, bencana merajalela di mana-mana, kemuliaan lenyap, dan kehinaan yang berkuasa.

Semoga Allah melindungi kita dari itu semua.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 175-179.

Thumbnail Source: Photo by Jeremy Y Unsplash

Artikel Terkait:
Dampak Maksiat Terhadap Keimanan

TAGS
#Berbakti kepada orang tua #doa berlindung dari virus corona #Doa Pagi Hari #Doa-doa #hukum qurban adalah #ikhlas beramal shalih #ikhlas beramal #Sunah Rasul #Sunnah Rasul
Login