Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Penjelasan Hadis Hukum Junub Di Siang Hari Bulan Ramadan

Berhubungan badan di siang hari bulan Ramadan membatalkan puasa. Tapi tidak mengapa jika melakukannya di malam hari. Bagaimana jika seseorang memasuki waktu Subuh dalam keadaan belum mandi junub karena malamnya ia berhubungan badan atau misalnya junub dikarenakan mimpi basah di siang hari Ramadan? Berikut adalah penejelasan hadis yang dikutip dari kitab Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Aḥkām karya ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām:

عَنْ عَائِشَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

Aisyah dan Ummu salamah Raḍiallāhu ‘Anhumā meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mendapati waktu fajar dalam keadaan junub setelah (menggauli di malam hari) istri beliau, setelah itu beliau mandi dan berpuasa. (HR. al-Bukhari No. 1926 dan Muslim No. 1109)

Makna Global

Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menggauli istri pada malam hari, kadang ketika fajar tiba sementara beliau masih dalam keadaan junub dan belum mandi, beliau tetap meneruskan puasa tanpa mengqadha. Hukum ini berlaku untuk puasa Ramadan dan lainnya. Inilah mazhab jumhur ulama, hanya sebagian ulama saja yang tidak sependapat. Itupun tidak perlu diperhatikan. Sebagian menukil ijmak untuk pendapat ini.

Intisari Hukum

(1). Keabsahan puasa orang yang mendapati waktu subuh dalam keadaan junub setelah jimak pada malam harinya.

(2). Mimpi basah lebih utama untuk diqiyaskan dengan jimak, karena jika perbuatan yang dilakukan secara suka rela dan sadar tentu lebih mendapatkan keringanan.

(3). Tidak ada bedanya antara puasa wajib dan nafilah, atau puasa Ramadan lainya.

(4). Boleh melakukan jimak pada malam Ramadan, meski sesaat sebelum fajar terbit.

(5). Menurut Sebagian ulama, orang junub tetap boleh berpuasa, didasarkan firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu.” (QS. al-Baqarah: 187)

Ayat ini memperboleh jimak pada malam bulan Ramadan secara keseluruhan, termasuk waktu sebelum fajar yang tidak memungkinkan bagi pelakunya memiliki waktu cukup untuk mandi junub, sehingga terpaksa mendapati waktu subuh dalam keadaan junub. Ini Namanya dalil isyarat kalangan ahli ushul.

(6). Keutamaan istri-istri Nabi dan kebaikan mereka terhadap umat, karena mereka menyampaikan banyak sekali ilmu yang bermanfaat dari Nabi khususnya hukum-hukum yang tidak diketahui siapapun selain mereka.

Dikutip dari: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām, Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Akām, Takrīj Muhammad Subḥī Ḥasan Hallāq, (Shan’a: Maktabah al-Irshad, 2004), 231-232. Edisi terjemah: Alih Bahasa Umar Mujtahid, Fikih Hadits Bukhari Muslim, (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 481-482.

TAGS
#Fikih Puasa #Fikih Ramadan #Fikih #Hadis #Mandi Junub #Puasa Ramadan #Puasa
Login