Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Penjelasan Hadis Hukum Makan Minum Saat Berpuasa Karena Lupa

Makan dan minum merupakan di antara yang dapat membatalkan ibadah puasa. Tapi bagaimana jika seseorang lupa melakukannya? Berikut adalah penejelasan hadis yang dikutip dari kitab Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Aḥkām karya ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ. فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ. فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadis bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Siapa yang lupa saat berpuasa lalu ia makan atau minum maka hendaklah meneruskan puasanya karena sesungguhnya Allah lah memberinya makan dan minum.” (QS. al-Bukhari No. 1933 & 6669 dan Muslim No. 1155)

Makna Global

Syariat dibangun di atas prinsip kemudahan, taklif sebatas kemampuan, dan tidak menghukum tindakan yang terjadi di luar kesadaran, di antaranya makan, minum, melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, atau yang lainnya di siang hari bulan Ramadan atau puasa lain maka hendaklah meneruskan puasanya dan tetap sah, karena bukan dilakukan atas kesadaran, itu semata dari Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā yang memberinya makan dan minum.

Perbedaan Pendapat Ulama

Jumhur ulama berpendapat bahwa makan dan minum yang dilakukan karena lupa tidak membatalkan puasa. Akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang jimak. Apakah hukumnya sama seperti makan dan minum yang tidak membatalkan puasa?

Imam Ahmad dan para pengikutnya menyatakan bahwa jimak membatalkan puasa meski dilakukan dalam kondisi lupa atau tidak tahu hukumnya. Jika jimak dilakukan pada siang bulan Ramadan, harus ditebus kafarat. Inilah pendapat kalangan yang menyebut Imam Ahmad. Dalilnya adalah zhahir hadis yang hanya menyebut makan dan minum saja, tanpa menyebut jimak. Dikarenakan juga, jimak yang dilakukan karena lupa sangatlah mustahil terjadi. Berbeda dengan makan dan minum.

Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’I, Dawud, Ibnu Taimiyah, dan lainnya berpendapat, tidak membatalkan puasa. Mereka berhujah dengan beberapa dalil, di antaranya:

Riwayat Hakim dari hadis Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu, “Siapa yang berbuka pada siang Ramadan karena lupa maka qadha ataupun kafarat tidak wajib baginya.” Ibnu Hajar Raḥimahullāh menyatakan, “Hadis ini shahih.” Berbuka berlaku secara umum termasuk juga jimak atau yang lain.

Keumuman dalil seperti yang disebutkan dalam firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. al-Baqarah: 286).

Begitu pula dengan hadits Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam:

عُفِي لأمّتِي عنِ الخَطَأِ والنسْيَانِ ومَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ

“Dimaafkan bagi umatku karena ketidaksengajaan, lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.”

Golongan yang sependapat keabsahan puasa bersepakat dengan gugurnya dosa dari pelaku karena lupa. Jika si pelaku mendapat uzur, berarti uzurnya berlaku secara menyeluruh, tidak ada alasan untuk untuk dibedakan.

Mereka menanggapi dalil yang digunakan Hanabilah bahwa kaitan hukum dengan makan dan minum adalah bagian dari kaitan hukum dengan sebutan, sehingga tidak menafikan hal-hal yang lain.

Intisari Hukum

(1). Keabsahan puasa orang yang makan, minum, atau jimak karena lupa.

(2). Orang yang makan atau minum karena lupa tidak berdosa.

(3). Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā memberinya makan dan minum, artinya perbuatan tersebut terjadi di luar kesadaran, Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā yang menakdirkannya lupa.

Dikutip dari: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām, Taisīr al-‘Allām Syarḥ ‘Umdah al-Aḥkām, Takrīj Muhammad Subḥī Ḥasan Hallāq, (Shan’ā: Maktabah al-Irshād dan Maktabah al-Asady, 2004), 232-233. Edisi terjemah: Alih Bahasa Umar Mujtahid, Fikih Hadits Bukhari Muslim, (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 482-484.

TAGS
#Fikih Puasa #Fikih Ramadan #Fikih #Hadis #Pembatal Puasa #Puasa Ramadan
Login