Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Penjelasan Hadis Hukum Puasa Bagi Musafir

Syariat memberlukan hukum-hukum yang mudah dan toleran sebagai realisasi firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, “Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.” (QS. al-Hajj: 78). “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (QS. al-Baqarah: 185).

Mengingat perjalanan umumnya terasa berat dan sukar karena merupakan bagian dari siksa, sejumlah keringanan diberikan saat itu. Di antara bentuk keringanan itu adalah tidak berpuasa pada siang Ramadan.

Ini merupakan keringanan yang disunahkan, yang didsarkan pada sabda Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, “Bukan termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan.” Keringanan ini berlaku bagi perjalanan yang memberatkan maupun tidak, karena hukum ini berlaku secara umum.

Melalui hukum-hukum ini kita bisa mengetahui sejauh manakah perhatian syariat dalam memberikan keringanan, rahmat, adaptasi waktu dan situasi serta tuntunan yang diberlakukan sesuai batas kemampuan orang. Kami ridha Allah sebagai rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam sebagai nabi.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيَّ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ. فَقَالَ: إِنْ شِئْتَ فَصُمْ وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ

Dari Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā, bahwa Hamzah bin Amr Al-Aslami Raḍiallāhu ‘Anhu bertanya kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, “Apakah aku (boleh) berpuasa dalam perjalanan?” Ia sering berhaum. Beliau menjawab, ‘Jika engkau menghebdaki silakan berpuasa, dan jika engkau menghendaki silakan berbuka’.” (HR. al-Bukhari No. 1943 dan Muslim No. 1121)

Makna Global

Para shahabat tahu bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dalam perjalanan sebagai wujud kasih sayang bagi mereka. Hamzah Al-Aslami Raḍiallāhu ‘Anhu memiliki kemampuan untuk berpuasa, ia menyukai kebaikan, sering berpuasa, ia bertanya kepada Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bolehkah berpuasa dalam perjalanan? Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian mempersilakan memilih antara berpuasa atau tidak, beliau Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, “Jika engkau menghendaki silakan berpuasa dan jika engkau menghendaki silakan berbuka.”

Intisari Hukum

(1). Keringanan untuk tidak berpuasa saat di perjalanan, karena besar kemungkinan menimbulkan beban berat.

(2). Bagi yang kuat berpuasa, dipersilahkan memilih antara berpuasa atau tidak, puasa yang dimaksud di sini adalah puasa bulan Ramadan, seperti dijelaskan dalam riwayat Abu Dawud dan Hakim, bahwa Hamzah bin Amr berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki kendaraan yang biasa kugunakan, aku biasa berpergian dan menyewakannya, mungkin bulan ini – Ramadhan – datang padaku (saat aku dalam perjalanan), dan aku memiliki kekuatan untuk berpuasa. Menurutku, berpuasa lebih ringan bagiku daripada menundanya, sehingga akan menjadi tanggungan bagiku” Beliau Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab, ”Manapun yang kau inginkan (silakan kau lakukan) wahai Hamzah.”

Dikutip dari: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām, Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Akām, Takhrīj Muhammad Subḥī Ḥasan Hallāq, (Shan’ā: Maktabah al-Irshād dan Maktabah al-Asady, 2004), 236. Edisi terjemah: Alih Bahasa Umar Mujtahid, Fikih Hadits Bukhari Muslim, (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 491 – 493.

TAGS
#hukum puasa bagi musafir #khazanah #Puasa Ramadan
Login