Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Penjelasan Hadis Hukum Utang Puasa Orang yang Sudah Meninggal

Puasa nazar dan puasa Ramadan adalah puasa yang wajib dilaksanakan oleh seorang hamba. Jika dia meninggal dunia dalam keadaan belum menunaikan maka bagaimana hukumnya? Berikut adalah penejelasan hadis yang dikutip dari kitab Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Akām karya ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ. أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا ؟ فَقَالَ: لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ عَنْهَا ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

Dari Abdullah bin Abbas Raḍiallāhu ‘Anhumā, ia berkata “Seseoraang datang kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia memiliki tanggungan puasa Ramadan, apakah aku menggantikan puasa untuknya?’ Beliau balik bertanya, ‘Seandainya ibumu memiliki hutang, apakah kau akan membayarnya?’ ‘Ya,’ jawab orang tersebut. Beliau Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam lalu bersabda, ‘Maka utang Alllah lebih berhak untuk dilunasi’.”

Dalam Riwayat lain disebutkan:

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ. أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ فَقَالَ: أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ, أَكَانَ ذَلِكَ يُؤَدِّي عَنْهَا؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: فَصُومِي عَنْ أُمِّكِ

Seorang wanita datang kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal dunia dan ia memiliki tanggungan puasa nazar, apakah aku berpuasa mengantikannya?’ Beliau balik bertanya, ‘Bagaimana menurutmu jika ibumu mempunyai utang yang harus kau lunasi, apakah pembayaran itu melunasi utangnya?’ ‘Ya,’ jawabnya. Beliau Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian bersabda, ‘Maka puasalah menggantikan puasa ibumu’.”

Makna Global

Di dalam hadis ini ada dua riwayat, dan menurut Zhahir hadis sangat jelas bahwa keduanya adalah dua peristiwa yang berbeda. Riwayat pertama: Seorang lelaki datang kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam lalu memberitahukan bahwa ibunya meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan puasa Ramadan. Apakah dia wajib menggantikan puasanya?

Riwayat kedua: Seorang wanita datang kepada Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam lalu memberitahukan bahwa ibunya meninggal dunia dan masih memiliki tanggungan puasa nazar, apakah ia bisa berpuasa mengantikan puasanya? Maka Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam kemudian menjawab, keduanya wajib mengqadha puasa orang tua masing-masing, beliau memberikan perumpamaan agar lebih mudah dipahami dan jelas; misalkan kedia orang tua mereka punya utang terhadap sesama manusia, apakah keduanya akan membayarkan utang tersebut? Keduanya mengiyakan. Lalu Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam memberitahukan bahwa puasa adalah hak Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā yang menjadi tanggungan kedua orang tua mereka. Jika utang terhadap sesame manusia saja harus dibayar maka utang terhadap Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā lebih berhak dilunasi.

Intisari Hukum

(1). Keumuman riwayat pertama menunjukan puasa mayit harus diqadha, baik puasa nazar ataupun puasa wajib.

(2). Riwayat keduanya menunjukan kewajiban mengqadha puasa nazar atas nama mayit.

(3). Menurut Zhahir hadis, kedua riwayat ini terjadi pada dua kasus berbeda, yang satu dialami seorang lelaki dan yang satunya lagi dialami seorang wanita, sehingga masing-masing tetap tetap pada petunjuk masing-masing, yang pertama tidak membatasi yang kedua, masing-masing tetap pada sisi umumnya.

(4). Alasan umum dalam hadis ini mencakup utang terhadap Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā, utang terhadap sesama manusia, puasa wajib karena nazar ataupun karena kewajiban, semuanya wajib diqadha atas nama si mayit. Demikian penjelasan yang diturunkan syaikh kami Abdurrahman al-Sa’di dari Taqiyuddin Ibnu Taimiyah.

(5). Hadis ini menunjukkan adanya qiyas yang menjadi salah satu pijakan jumhur dalam menyimpulkan dalil. Nabi Subḥānahu Wa Ta’ālā memberikan suatu perumpamaan untuk kedua orang tersebut dengan suatu yang lazim agar lebih mudah dipahami, karena menyamakan suatu yang sulit dengan suatu yang mudah, akan memudahkan untuk dipahami.

(6). Sabda beliau “Maka utang Allah lebih berhak untuk dilunasi” menunjukkan zakat dan hak-hak Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā terkait harta harus didahulukan ketika berbenturan dengan utang kepada sesama manusia saat pembagian harta warisan. Sebagaimana ulama menyamakan kedua hak ini.

Dikutip dari: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Raḥmān al-Bassām, Taisīr al-‘Allām Syarh ‘Umdah al-Akām, Takhrīj Muhammad Subḥī Ḥasan Hallāq, (Shan’ā: Maktabah al-Irshād dan Maktabah al-Asady, 2004), 241 – 242. Edisi terjemah: Alih Bahasa Umar Mujtahid, Fikih Hadis Bukhari Muslim, (Jakarta: Ummul Qura, 2013), 505 – 507.

Source : Photo by Naim Benjelloun from Pexels

TAGS
#Hadis #hutang puasa #khazanah #Puasa Ramadan
Login