Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Perbedaan Filsafat dan Ilmu Pendidikan Islam

Dr. Ade Wahidin, Lc., M.Pd.I.
Pengasuh Bina Qurani Islamic School

Seringkali di antara para akademisi dan praktisi pendidikan baik kapasitasnya sebagai mahasiswa maupun dosen, mengalami kebingungan akademik dan pergulatan batin yang tidak menentu terkait perbedaan antara filsafat dan ilmu pendidikan Islam.

Bertahun-tahun mempelajari keduanya tetapi masih belum memahami perbedaan keduanya. Bahkan, setelah menjadi dosen pun masih belum juga memahaminya. Karena memang secara sekilas, tema-tema yang disajikan dalam keduanya baik dalam filsafat dan ilmu pendidikan Islam tidak ada perbedaan. Apa yang dibahas dalam filsafat pendidikan Islam, dibahas juga dalam ilmu pendidikan Islam. Seperti tentang tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, kurikulum, dan lain sebagainya.

Sebenarnya akar masalah yang menjadi kebingungan banyak orang adalah pada makna filsafat dan ilmunya. Karena untuk makna pendidikan Islam sendiri sangat mudah dipahami oleh semua kalangan. Banyak sekali definisi-definisi pendidikan Islam yang disebutkan oleh para sarjana Muslim, mulai dari yang sederhana hingga yang cukup komprehensif. Al-Ḥāzimī misalnya mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya menumbuhkembangkan manusia setahap demi setahap dalam semua aspek kehidupannya untuk mewujudkan kebahagiaan di duni dan akhirat sesuai dengan metodologi Islam (Kurikulum Pendidikan Islam Berbasis Tauhid Asma wa Sifat, 2014).

Berkaitan dengan filsafat dan ilmu ini, Tafsir menyatakan bahwa perbedaan keduanya terletak pada objek yang diteliti dan paradigma yang mendasari penelitiannya. Objek yang diteliti oleh filsafat ialah objek yang abstrak, sedangkan objek yang diteliti oleh ilmu adalah empirik (indrawi). Paradigma yang mendasari penelitian filsafat bersifat rasional, sedangkan paradigma yang mendasari penelitian ilmu adalah sain atau ilmiah (walaupun didasari oleh paradigma rasional juga). Dari perbedaan tersebut dalam perjalanan selanjutnya melahirkan perbedaan cara atau metode penelitiannya. Jika metode penelitian dalam filsafat bersifat rasional maka metode penelitian dalam ilmu adalah bersifat sain (ilmiah) (Filsafat Pendidikan Islami, 2012).

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa minimal ada tiga aspek yang membedakan antara filsafat dan ilmu yaitu (1) aspek objek yang diteliti, (2) aspek paradigma, dan (3) aspek metode.

Jika dikaitkan dengan pendidikan maka filsafat pendidikan ialah teori rasional tentang pendidikan (yang tidak pernah dibuktikan secara empiris), sedangkan ilmu pendidikan adalah teori rasional dan ada bukti empiris tentang pendidikan (Filsafat Pendidikan Islami, 2012).

Dalam Islam, makna filsafat dan ilmu sebagaimana di atas tidak dapat sepenuhnya diterima. Karena Islam adalah agama wahyu di mana teori-teori yang dibangun bukan hanya berdasarkan aspek rasional dan empiris, tetapi aspek irasional dan non empiris pun dapat menjadi bangunan teori ilmu. Banyak sekali teori-teori dalam Islam yang dibangun atas dasar irasional dan non empiris seperti konsepsi ketuhanan, hari kiamat, malaikat dan lain sebagainya. Dalam hal ini kewajiban setiap akademisi dan praktisi Muslim wajib mengimaninya.

Dengan demikian filsafat dan ilmu dalam pendidikan Islam tidak hanya berisi teori yang rasional dan empiris tetapi juga yang irasional dan non empiris. Selama teori pendidikan tersebut sesuai dengan wahyu maka layak untuk diterima walaupun irasional dan tidak empiris. Sebaliknya, jika teori pendidikan itu dianggap ‘rasional’ dan ‘empiris’ tetapi bertentangan dengan wahyu maka layak untuk ditolak. Karena pendidikan Islam dibangun di atas landasan wahyu bukan semata-mata di atas bukti rasional dan empiris.

TAGS
#Ade Wahidin #Artikel #Fislafah #Ilmu #Pendiikan islam
Login