Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Perdukunan dan Paranormal

Bina-Qurani-Perdukunan-dan-Paranormal
Perdukunan dan Paranormal

Dua perbuatan tersebut sama-sama berarti mengaku mengetahui ilmu ghaib dan mengetahui perkara yang ghaib. Seperti peristiwa yang akan terjadi di muka bumi dan akibatnya, dan mengaku mengetahui tempat di mana barang yang hilang berasa.

Semuanya diketahui melalui bantuan setan yang mencuri pendengaran dari langit. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (221) تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (222) يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (223)

Artinya:

“Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran kepada setan itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. Asy-Syu’ara: 221-223)

Setan mencuri kalimat yang diucapkan malaikat, lalu ia menyampaikannya ke telinga dukun. Kemudian dukun tersebut menambahi kalimat itu dengan ratusan kebohongan. Tapi manusia tetap mempercayainya lantaran satu kalimat yang didengar setan dari langit.

Bina-Qurani-Perdukunan-dan-Paranormal

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Perdukunan dan Paranormal, Source: Photo by Being The Traveler Pexels

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā satu-satunya Zat yang mengetahui perkara ghaib. Maka, barangsiapa mengaku dapat menyamai-Nya dalam mengetahui oerkara yang ghaib, baik dengan perdukunan atau selainnya, atau mempercayai orang yang mengaku mengetahuinya, berarti ia telah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal-hal yang khusus bagi-Nya.

Perdukunan tidak bisa dilepaskan dari kesyirikan. Sebab ia merupakan taqarrub kepada setan dengan melakukan hal-hal yang disenanginya. Perdukunan adalah sebuah syirik rububiyah karena mengaku menyamai ilmu Allah, dan syirik uluhiyah karena bertaqarrub kepada selain Allah dengan suatu ibadah.

Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan dari Nabi Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم

Artinya:

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu ia mempercayai apa yang dikatakannya, sungguh ia telah kafir mengingkari ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam.” (HR. Abu Daud)

Perlu diperhatikan dan diwaspadai pula bahwa para tukang sihir, dukun, dan paranormal sejatinya mereka semua itu orang-orang yang mempermainkan akidah umat Islam. Mereka menampakkan diri sebagai dokter, kemudian menyuruh pasien menyembelih hewan seperti domba atau ayam dengan ciri-ciri tertentu untuk dipersembahkan kepada selain Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā. Atau mereka menuliskan mantra-mantra syirik dan jampi-jampi yang dibungkus dan dikalungkan di leher pasien, atau diletakkan di laci atau rumah mereka.

Bina-Qurani-Perdukunan-dan-Paranormal

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Perdukunan dan Paranormal, Source: Photo by Pixabay Pexels

Sebagian menampakkan diri sebagai orang yang tahu hal-hal yang ghaib dan tempat dimana barang yang hilang berada. Maka orang-orang yang tidak paham agama datang menanyakan kepadanya perihal keberadaan barang-barang yang hilang. Ia pun memberitahukan keberadaannya atau bahkan mengembalikannya kepada mereka melalui perantara setan-setan yang menjadi pembantunya.

Sebagian lagi menampakkan diri sebagai wali yang dapat melakukan hal-hal di luar kebiasaan dan memiliki karamah, seperti masuk ke dalam api tanpa terbakar, memukul dirinya sendiri dengan pedang atau kebal senjata, dilindas mobil tanpa terluka, atau keanehan lain yang hakikatnya sebuah sihir yang dilakukan oleh setan melalui perantara mereka untuk menyesatkan manusia.

Atau, itu semua hanyalah ilusi yang sama sekali tidak nyata. Sebuah tipuan halus yang diperagakannya di hadapan khalayak seperti yang dilakukan para tukang sihir Fir’aun terhadap tali-tali dan tongkat yang disihir menjadi ular.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 361-362.

Thumbnail Source: Photo by Artem Pexels

Artikel Terkait:
Hakikat Jahiliyah dan Fasik

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login