Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Puasa-puasa Sunnah

Bina-Qurani-Puasa-puasa-Sunnah
Puasa-puasa Sunnah

Puasa sunnah yaitu puasa yang oleh nash-nash syar’i dianjurkan untuk dikerjakan. Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari-hari berikut:

1. Enam Hari pada Bulan Syawal

Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, ia berkata, Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang masa (tahun).” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa keutamaan pahala berpuasa sepanjang masa dapat diraih dengan syarat telah menyelesaikan puasa Ramadhan, kemudian melanjutkan puasa enam hari di bulan Syawwal. Artinya, tidak boleh mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawwal dari qadha puasa Ramadhan.

Akan tetapi, ada pendapat yang menyatakan bahwa sabda Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam, “Kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari,” berlaku dalam konteks umum sehingga arti teksnya tidak berlaku. Dengan demikian, dibolehkan berpuasa enam hari di bulan Syawwal sebelum mengqadha puasa Ramadhan, terutama bagi orang yang tidak memiliki waktu cukup di bulan Syawwal apabila harus menyelesaikan puasa qadha terlebih dahulu.

Bina-Qurani-Puasa-puasa-Sunnah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Puasa-puasa Sunnah, Source: Photo by Mona M Unsplash

2. Puasa Hari Arafah

Puasa Arafah hanya diperuntukkan bagi orang yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji, karena ketika Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam pergi haji, beliau tidak berpuasa pada hari Arafah.

Abu Qatadah berkata, “Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab, ‘Puasa Arafah akana menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.’ Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam juga ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab ‘Puasa Asyura menghapus puasa setahun yang lalu.’” (HR. Muslim)

3. Memperbanyak Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban

Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat beliau lebih memperbanyak puasa dalam satu bulan selain pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

Mengkhususkan puasa pada pertengahan bulan Sya’ban (nishfu Sya’ban) adalah perbuatan bid’ah, terutama bagi orang yang tidak biasa memperbanyak puasa sunnah pada buan Sya’ban atau puasa sunnah tiga hari pada pertengahan bulan (ayyamul bidh), karena tidak ada hadits shahih yang menerangkannya.

Bina-Qurani-Puasa-puasa-Sunnah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Puasa-puasa Sunnah, Source: Photo by GS Image

4. Puasa Senin dan Kamis

Usama bin Zaid berkata, “Sesungguhnya Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam selalu berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Beliau pernah ditanya tentang alasannya, maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya amal perbuatan manusia diangkat pada hari Senin dan Kamis.’” (HR. Abu Daud)

5. Puasa Tiga Hari Setiap Bulan

Abdullah bin ‘Amr menuturkan bahwa, “Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda kepadaku, ‘Berpuasalah tiga hari pada setiap bulan. Karena sesungguhnya setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Itu artinya sama dengan berpuasa sepanjang masa.’” (HR. Bukhari Muslim)

Bina-Qurani-Puasa-puasa-Sunnah

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Puasa-puasa Sunnah, Source: Photo by GS Image

6. Puasa Daud

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bahwa Nabi Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya puasa yang paling disukai Allah adalah puasa Daud, yakni berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari.” (HR. Bukhari Muslim)

Kesimpulannya, dianjurkan agar tidak ada  bulan yang dilalui tanpa berpuasa. ‘Aisyah Raḍiallāhu ‘Anhā berkata, “Demi Allah, Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam tidak perna berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Itulah yang beliau lakukan hingga wafat. Tapi beliau tidak pernah berbuka pada bulan-bulan lain kecuali setelah berpuasa beberapa hari padanya.” (HR. Muslim)

Ketika melakukan puasa sunnah, engkau boleh berbuka. Ummu Hani’ menuturkan bahwa pada masa penaklukan kota Makkah, Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam berkunjung ke rumahnya. Ketika minuman dihidangkan beliau pun meminumnya, lalu memberikannya kepadaku. Saat itu aku berkata, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Orang yang berpuasa sunnah berkuasa penuh atas dirinya, jika mau, engkau boleh tetap berpuasa dan boleh pula berbuka.” (HR. At-Tirmidzi)

Dikutip dari: Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Fiqhus Sunnah Lin Nisa’ Wama Yajibu an Ta’rifahu Kullu Muslimatin min Ahkam. Edisi terjemah: Alih Bahasa M. Taqdir Arsyad, Fikih Sunnah Wanita Panduan Lengkap Wanita Muslimah, (Bogor: Griya Ilmu, 2019), 312-315.

Thumbnail Source: Photo by Glenov Unsplash

Artikel Terkait:
Syarat Sah Puasa bagi Wanita

TAGS
#ihlas beramal #ikhlas beramal shalih #ikhlas beramal #ikhlas dalam beramal #ikhlas dalam beribadah #ikhlas ketika shalat #ikhlas #kiat-kiat ikhlas #niat yang ikhlas #pengertian ikhlas #pentingnya ikhlas beramal #urgensi ikhlas dalam islam
© 2021 BQ Islamic Boarding School, All Rights reserved
Login