Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Post Type Selectors

Qadha’ dan Qadar Menurut Salafus Shalih

Bina-Qurani-Qadha’-dan-Qadar-Menurut-Salafus-Shalih
Qadha’ dan Qadar Menurut Salafus Shalih

Salafus shalih mengatakan bahwa Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā adalah pencipta segala sesuatu, Rabb dan pemiliknya. Tidak ada sesuatupun yang keluar dari hal itu. Segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan yang tidak Dia kehendaki pasti tidak akan terjadi.

Semua yang ada di alam raya ini atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Kehendak-Nya tidak akan mampu dihalangi oleh sesuatupun. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Maha mengetahui yang sudah terjadi dan yang belum terjadi, dan yang tidak terjadi bagaimana bila itu terjadi. Dia telah menulis seluruh yang ada sebelum Dia menciptakan, semua perbuatan, rezeki, ajal, bahagia, dan sengsara, serta yang lainnya.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17)

Artinya:

“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika DIa mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-An’am: 17)

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا

Artinya:

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami’.” (QS. At-Taubah: 51)

Bina-Qurani-Qadha’-dan-Qadar-Menurut-Salafus-Shalih

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Qadha’ dan Qadar Menurut Salafus Shalih, Source: Photo by Madrosah Sunnah Unsplash

Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa seluruh peristiwa yang terjadi di alam raya ini telah ditakdirkan oleh Allah dan tertulis di sisi-Nya. Konsekuensi rububiyah-Nya adalah mutlak. Dia, Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā tidak ditanyai apa yang Dia perbuat, sedangkan manusia akan ditanyai. Dia-lah Zat Yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā mengatur segala sesuatu dengan ilmu dan hikmah-Nya sehingga Dia menjadikan seluruh perbuatan yang terjadi. Kekuasaan dan kehendak selain-Nya tidak berlaku padanya, seperti kehidupan, kematian, sifat-sifat makhluk, bentuk, panjang pendek, dan lainnya. Begitu pula musibah dan bala’ yang terjadi. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22)

Artinya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis di dalam Kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)

Semua perbuatan, sifat, peristiwa yang terjadi di luar kehendak dan kemampuan manusia bukan termasuk taklif dari Allah dan tidak akan disandarkan padanya sedikit pun. Akan tetapi, banyak juga perbuatan yang ditakdirkan untuk manusia dan bisa dia lakukan dengan karunia dan ujian dari Allah yang di dalamnya mengandung hikmah ilahi, yaitu pahala.

Manusia mendapati dirinya mampu melakukan dan meninggalkan perbuatan-perbuatan itu. Perbuatan itu pun benar-benar menjadi perbuatannya sendiri sebagaimana yang dikehendaki dan diinginkannya.

Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā berfirman:

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

Artinya:

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir’.” (QS. Al-Kahfi: 29)

Bina-Qurani-Qadha’-dan-Qadar-Menurut-Salafus-Shalih

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Qadha’ dan Qadar Menurut Salafus Shalih, Source: Photo by Ali Burhan Pexels

Karena manusia dapat memilih perbuatannya sendiri, iman dan istiqamah, atau sebaliknya, maka pertanyaan malaikat, hisab, pahala, dan siksa itu ada. Tetapi, ini semua bukan berarti bahwa seluruh perbuatan manusia tersebut keluar dari kuasa Allah. Manusia tidak akan mampu, kecuali bila Allah memberinya kemampuan.

Manusia tidak akan mempunyai keinginan untuk berbuat kecuali jika Allah menghendaki perbuatannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalil-dalil terdahulu. Jadi, Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Pencipta manusia berikut amalannya, dan Dia mengaitkan antara sebab dan akibat.

Manusia memiliki kuasa dan kehendak, tetapi kuasa dan kehendaknya itu mengikuti kuasa dan kehendak Allah. Penyandaran perbuatan kepada Allah itu benar adanya, sebagaimana penyandaran perbuatan kepada manusia juga benar. Seluruh perbuatan Allah itu baik. Seluruh perbuatan dari Allah tidak ada yang buruk, bagaimana pun.

Sebab, Dia tidak pernah menciptakan keburukan murni. Hikmah-Nya menolak hal itu. Karena jika begitu, maka tidak ada kebaikan pada makhluk-Nya.

Dia Mahasuci. Di tangan-Nya seluruh kebaikan. Keburukan tidak disandarkan pada-Nya. Keburukan yang disandarkan kepada-Nya bukanlah keburukan. Dan penyandaran kepada-Nya dari sisi penciptaan dan kehendak bukanlah keburukan. Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā adalah Zat yang Mahabija dan Maha Adil. Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya secara patut. Perbuatan buruk itu disandarkan kepada hamba karena ia akan mengalami kebinasaan bila mengerjakannya.

Dikutip dari: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Aqidatut Tauhid Kitabut Tauhid lis-Shaff Al-Awwal – Ats-Tsalis – Al-Aly. Edisi terjemah: Alih Bahasa Syahirul Alim Al-Adib, Lc., Kitab Tauhid, (Jakarta: Ummul Qura, 2018), 302-306.

Thumbnail Source: Photo by Madrosah Sunnah Unsplash

Artikel Terkait:
Larangan Bicara Takdir Terlalu Detail

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Alquran 30 Juz #Cara Sholat Jenazah #Doa Selesai Sholat #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Memuliakan Orang Tua #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam
© 2021 BQ Islamic Boarding School, All Rights reserved
Login