Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Rukun Puasa Menurut Mazhab Syafii

Fardu (rukun) puasa ada empat, yaitu: (1). Niat, (2). Menahan diri dari makan dan minum, (3). Menahan diri dari jimak (berhubungan badan), dan (4). Menahan diri dari muntah dengan sengaja.

Penjelasan:

1. Niat dilakukan sebelum fajar setiap hari. Dasarnya adalah sabda Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak sah Puasanya.” (HR. Baihaqi 4/202 dan Daruquthni 2/172). Daruquthni mengatakan, “Para perawinya tsiqah.”

2. Menahan diri dari jimak (berhubungan badan) merupakan salah Satu rukun puasa. Dasarnnya adalah firman Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Makan dan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu, fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka istri-Istri kalian itu, sedangkan kalian beriktikaf di dalam masjid.” (QS. al-Baqarah [2]:187)

Benang putih, maksudnya cahaya siang. Benang hitam, maksudnya kegelapan malam. Fajar, maksudnya sinar yang terbit membentang di ufuk. Jika terbit maka malam berakhir dan mulai masuk waktu siang. Campuri mereka, bersetubuh dengan mereka.

3. Menahan diri muntah dengan sengaja juga merupakan salah satu rukun puasa. Abu Dawud (2380), Tirmidzi (720) dan selain keduanya meriwayatkan dari Abu Hurairah Raḍiallāhu ‘Anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

“Barangsiapa muntah tanpa disengaja sedangkan dia dalam keadaan berpuasa maka tidak ada qadha’ baginya. Barangsiapa sengaja muntah maka hendaknya dia mengqadha’.”

Dikutip dari: Muthafā Dīb al-Bughā, al-Tadhhīb Fi Adillahti al-Ghāyah Wa al-Taqrīb, (Beirūt: Dār Ibn Kathīr, 1989), 103.

TAGS
#Abu Shuja' #Fikih Puasa #Fikih Ramadan #Fikih #Mazhab Syafii #Puasa Ramadan #Puasa
Login