Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi

Bina-Qurani-Sejarah-Perayaan-Tahun-Baru-Masehi
Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi

Dewasa ini, perayaan tahun baru bukanlah suatu perayaan yang asing lagi terdengar di telinga dan terlihat di mata kita. Hampir setiap tahun, dunia ini dipenuhi dengan hingar bingar perayaan tahun baru masehi.

Perayaan tahun baru yang dilangsungkan oleh mayoritas masyarakat di seluruh penjuru dunia, serta didukung dan ditayangkan secara masif oleh media-media mainstream melalui berbagai media informasi seperti televisi, radio, media sosial, bahkan hingga situs-situs internet.

Sebagian besar kaum muslimin juga akhirnya terbawa arus. Mereka menganggap bahwa malam pergantian tahun baru merupakan momen yang spesial dan berharga. Sehingga mereka pun rela untuk menyiapkan segala sesuatu, agar dapat menyambut momen ini dan tidak ingin melewatkannya barang sedikitpun.

Acara perayaan malam tahun baru memang sengaja didesain semeriah mungkin, dipenuhi dengan sorak sorai suara terompet, petasan, dan kembang api. Dihiasi pula dengan alunan musik, nyanyian setan, dan berbagai jenis kemeriahaan lainnya.

Namun dibalik kemeriahannya tersebut, ada sepenggal kisah sejarah perayaan tahun baru masehi yang perlu sekiranya diketahui oleh kaum muslimin. Dengan mengetahui awal mula sejarah perayaan tahun baru masehi, diharapkan seorang muslim berhenti untuk larut dalam pesta perayaan tahun baru masehi.

Berikut kami tuliskan sebuah kisah tentang sejarah perayaan tahun baru masehi. Silahkan disimak dan dihayati!

Bina-Qurani-Sejarah-Perayaan-Tahun-Baru-Masehi

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Source: Photo by Olya Kobruseva from Pexels

Awal Mula Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi

Sejarah perayaan tahun baru masehi berawal dari peradaban kaum romawi kuno, yang merupakan kaum paganisme atau penyembah berhala, dan kaum Zoroastirianisme yaitu penyembah dewa.

Sebelum menggunakan penanggalan Masehi, bangsa romawi kuno memiliki sistem penanggalan tersendiri yang disebut dengan kalender romawi dan digunakan sebagai patokan waktu pada saat itu. Namun, setelah dinobatkannya Julius Caesar sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh sebelum masehi.

Dalam proses perumusan kalender baru ini, Kaisar Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes yang merupakan seorang ahli astronomi dari Iskandariyah. Sosigenes menyarankan agar penanggalan baru tersebut dibuat dengan berpedoman pada revolusi matahari. Hal ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Mesir terdahulu.

Dari hasil proses perumusan, satu tahun dalam penanggalan baru tersebut dihitung sebanyak 365 seperempat hari, dan Julius Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 sebelum Masehi. Julius Caesar juga memerintahkan agar dalam empat tahun sekali, satu tahun ditambahkan satu hari menjadi 366 hari yang secara teoritis dapat menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Awal penanggalan kalender masehi dimulai dari bulan Januari, nama bulan ini diambil dari nama dewa bermuka dua yaitu dewa Janus yang dipercaya sebagai penjaga pintu gerbang Olympus. Kemudian, sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia telah mengubah nama bulan Quintilis dengan menggunakan namanya, yaitu Julius atau Juli. Dan nama bulan Sextilis diganti dengan nama Agustus, seorang kaisar pengganti Julius Caesar yaitu kaisar Augustus.

Kalender Julian atau Masehi ini awalnya hanya digunakan oleh bangsa Rimawi kuno. Namun, setelah Kristen menjadi agama resmi di kekaisaran Romawi kuno (312 M) sistem penanggalannya pun mengekor pada penanggalan Julian. Dan tahun kelahiran tuhan mereka, yaitu Yesus Kristus dijadikan sebagai awal tahun 1 Masehi. Begitu juga dengan bangsa Yahudi, setelah Yerusalem di kuasai romawi (63 SM) sistem penanggalan yahudi berganti dengan penanggalan masehi.

Hingga akhirya, seiring dengan berjalannya waktu munculah suatu tradisi yang disebut dengan “Sylvester Night”, dimana orang-orang berpesta pora pada malam 31 Desember hingga 1 Januari. Tradisi inilah yang akhirnya menjadi sejarah perayaan tahun baru masehi dan diperingati hingga saat ini.

Bina-Qurani-Sejarah-Perayaan-Tahun-Baru-Masehi

Site: Bina Qurani Islamic School, Image: Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Source: Photo by Olya Kobruseva from Pexels

Hukum Mengikuti Perayaan Tahun Baru Masehi dalam Pandangan Islam

Perayaan tahun baru masehi merupakan perayaan yang sama sekali bukan berasal dari budaya maupun kebiasaan kaum muslimin. Perayaan tahun baru masehi adalah sebuah perayaan yang pertama kali dilakukan oleh orang kafir, yaitu masyarakat paganis romawi.

Menurut Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, ikut serta dalam perayaan tahun baru adalah suatu bentuk kemungkaran yang tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim. Karena sudah diketahui bersama bahwa kaum muslimin hanya memiliki dua hari raya yang patut untuk dirayakan, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta hari besar pekanan yaitu hari Jumat.

Meniru-niru perbuatan non-muslim atau kaum kafir merupakan perbuatan yang tergolong pada dua perkara, yaitu:

1. Perbuatan Bidah

Dikatakan sebagai perbuatan bidah yaitu ketika dalam merayakan momen tahun baru, dilakukan dengan berbagai bentuk perayaan ibadah. Dimana ibadah yang dilakukan ini sama sekali tidak diajarkan oleh Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā dan Rasul-Nya.

2. Tasyabuh atau Menyerupai Orang Kafir

Dikatakan tasyabuh atau menyeripai orang kafir yaitu apabila perayaan pergantian tahun yang dilakukan mengikuti adat atau kebiasaan kaum kafir.

Turut serta dalam merayakan tahun baru merupakan bentuk tasyabuh atau menyerupai serta meniru kebiasaan mereka. Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam melarang umatnya untuk meniru kebiasaan orang kafir.

Abu Ubaidah Raḍiallāhu ‘Anhu meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya:

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum, maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (HR. Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan bahwa, “Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan, dan meniru kebiasaan mereka sampai mati, maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Maka jelas, hukum merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim adalah terlarang. Karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang menyerupai suatu kaum, yaitu orang-orang kafir.

Demikianlah, kisah singkat tentang sejarah perayaan tahun baru masehi beserta hukum turut serta dalam perayaan tersebut menurut Islam.

Semoga Allah Subḥānahu Wa Ta’ālā senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita terhindar dari segala macam perbuatan yang dilarang oleh agama. Aamiin..

Thumbnail Source: Photo by Kyrie Kim on Unsplash

Artikel Terkait:
Alasan Haramnya Merayakan Tahun baru Masehi

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Akidah #Alquran 30 Juz #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam #Sekolah Tahfiz
Login