Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content

Shaf Shalat

Bina-Qurani-Shaf-Shalat
Shaf Shalat

Meluruskan barisan-barisan atau shaf shalat merupakan bentuk kesempurnaan shalat, dan termasuk di antara faidah-faidah shalat berjamaah. Shaf yang lurus menunjukan bersatunya umat. Berarti meluruskan shaf shalat merupakan sesuatu yang menunjukkan pentingnya persatuan di atas akidah yang benar dan di bencinya perpecahan.

Mayoritas ulama berpandangan bahwa hukum meluruskan shaf shalat adalah sunnah. Sedangkan Ibnu Hazm, Imam Bukhari, Syaikhul Ibnu Taimiyah dan Asy Syaukani menganggap meluruskan shaf itu wajib.

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ “

Artinya:

Dari Anas bin Malik Raḍiallāhu ‘Anhu dia berkata bahwa, “Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Ratakanlah barisan-barisan shalat kalian, karena sesungguhnya ratanya barisan-barisan shalat termasuk dari kesempurnaan shalat.” (HR. Bukhari Muslim)

Sabda Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam di dalam Hadits Anas bin Malik di atas adalah nash yang menyatakan bahwa meratakan dan menyamakan barisan-barisan shalat termasuk dari kesempurnaan shalat, dan itu termasuk di antara faidah-faidah shalat jamaah.

Bina-Qurani-Shaf-Shalat

Site: Bina Qurani Islamic Boarding School, Image: Shaf Shalat, Source: Photo by Ishan Pexels

Penjelasan Hadits Shaf Shalat

Berdasarkan hadits di atas terdapat penjelasan bahwa seorang imam dan orang-orang yang memiliki perhatian terhadap jamaah, harus selalu mengawasi dan mengajarkan kepada mereka tentang hal-hal yang dapat mendatangkan kesempurnaan bagi shalat mereka.

Hadits di atas juga terdapat penjelasan bahwa Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam mengajarkan kepada para sahabatnya melalui perkataan yaitu nasihat dan perbuatan yaitu contoh dan teladan.

Meratakan barisan shalat adalah dengan cara meratakan pundak-pundak dan mata-mata kaki. Itu adalah nash yang jelas menyatakan tentang wajibnya meratakan barisan-barisan shalat. Karena meninggalkan hal itu dapat mendatangkan ancaman yang keras, yaitu perselisihan di antara wajah-wajah.

Dimungkinkah bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah membalikkan wajah-wajah mereka ke tengkuk-tengkuk mereka. Dimungkinkan juga (dan itulah yang zhahir dan lebih mendekati makna hadits dan kias), bahwa yang dimaksud adalah perselisihan antara hati-hati sehingga seseorang tidak mencintai untuk saudaranya seperti yang dia cintai untuk dirinya sendiri, dan terjadilah perselisihan dan kebencian.

Rasulullah Ṣallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam dan para khulafa yang datang setelah beliau, terus dan senantiasa memperhatikan masalah barisan shalat dan memerintahkan agar dia selalu diratakan dan diluruskan. Sampai-sampai Umar Raḍiallāhu ‘Anhu pernah memerintahkan agar iqamat shalat dikumandangkan, lalu dia melihat barisan-barisan shalat.

Siapa yang dilihatnya sedikit maju atau sedikit mundur, maka dia memukulnya dengan tongkat.

Dikutip dari: Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Syarah Umdatul Ahkaam. Edisi terjemah: Alih Bahasa Suharlan, Lc., dan Suratman, Lc., Syarah Umatul Ahkam, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2017), 137-139.

Thumbnail Source: Photo by Rayn Pexels

Artikel Terkait:
Shalat Sunnah Rawatib

TAGS
#adab penuntut ilmu #adab sebelum ilmu #Adab #Alquran 30 Juz #Cara Sholat Jenazah #Doa Selesai Sholat #Generasi Qurani #Keutamaan Membaca Alquran #Memuliakan Orang Tua #Belajar Alquran #Bina Qurani #Menghafal Alquran #Sekolah Islam
Login